
Tak lama kemudian terdengar pesan masuk. Dari Mbak Yen. Wanita itu mengirimkan nomer rekening lengkap dengan pernyataan yang mengatakan bahwa itu adalah nomer rekening Mbak Yen. Zalfa cukup mengirim uang untuk ongkos ke rekening itu dan Mbak Yen akan menyerahkannya kepada saudaranya yang akan bekerja di rumah Zalfa.
“Yes!” Zalfa girang. Artinya dia akan mendapatkan asisten rumah tangga secepatnya. Zalfa langsung menelepon Mbak Yen setelah mengirimkan uang yang diminta.
“Makasih ya, Non,” ucap Mbak Yen. “Uangnya akan saya berikan ke saudara saya. Dia bersedia bekerja di rumah Nona. Dan secepatnya dia akan segera berangkat ke rumah Non. Namanya Emy, Non.”
“Biar aku aja yang jemput ke sana.”
“Loh, bukannya Non kirim uang untuk ongkos Emy berangkat ke situ, nah kalau dijemput juga kan percuma dong ongkosnya. Nggak apa-apa biar Emy berangkat sendiri aja. Dia terbiasa kok bekerja ke kota. Ini dia sekarang ada bersama saya. Setelah ini dia akan segera berangkat ke rumah Nona. Non tunggu saja. Emy sudah saya kasih tahu alamat yang Non kasih tau. Emy tahu kok alamat perumahan itu.”
“Ya udah, aku tunggu ya, Mbak.”
“Iya, Non.”
Pembicaraan diputus.
***
Zalfa membuka pintu sesaat setelah mendengar bel pintu berdering. Kali ini Zalfa sudah memakai gamis cantik.
“Selamat sore, apa benar ini rumah Non Zalfa?” Seorang wanita berdiri di depan pintu.
Zalfa menatap penampilan wanita yang bertamu. Kaos kuning lusuh dipadu rok gombrang sepanjang tumit. Sebuah tas kecil berwarna kusam menggantung di pundaknya. “Iya, benar ini rumahku. Kamu siapa?”
__ADS_1
“Saya Emy, Non. Saudaranya Mbak Yen,” jawab wanita itu dengan sopan.
“Ooh… Ayo, masuk!” ajak Zalfa mempersilahkan wanita itu masuk. Zalfa bahkan tidak tahu jika wanita itu bukanlah Emy yang sesungguhnya.
“Aku seneng banget waktu Mbak Yen memberi tahukanku aka nada saudaranya yang bisa bekerja di sini,” ucap Zalfa. “Ayo bawa tasmu ke kamar. Akan kutunjukkan kamarmu.”
Wanita itu mengikuti Nona. Sikapnya benar-benar sopan selayaknya orang kampung yang menemui majikannya. Dia selalu menganggukkan kepala dan setengah membungkukkan tubuhnya saat berbicara dengan Zalfa.
“Nah, ini kamarmu. Kamu suka?” tanya Zalfa saat sudah memasuki sebuah kamar.
“Sangat suka sekali. Ini sudah lebih dari cukup.” Wanita yang mengaku bernama Emy itu mengangguk dengan seulas senyum lebar.
“Sekarang kamu istirahat aja dulu di sini. Nggak usah kerja apa-apa sampai lelahmu hilang. Besok baru boleh mulai bekerja.” Zalfa menepuk pelan pundak wanita itu.
“Aku tinggal dulu, ya!” Zalfa berlalu keluar kamar.
Wanita yang ditinggalkan itu engangguk, dia kemudian memaku mengenang kejadian dua puluh menit yang lalu. Dia ingat saat seorang wanita baru saja turun dari angkot, tak lain Emy, wanita yang akan bekerja di rumah Zalfa. Pakaiannya lusuh dipadu rok gombrang sepanjang tumit yang tidak begitu cerah.
Wanita itu berjalan membawa tas menyusuri jalan sepi. Dia harus mencari ojek untuk bisa sampai ke rumah Zalfa. Dia tidak tahu jika saat itu dia sedang dalam pengawasan orang lain.
“Apakah kau adalah orang yang akan dipekerjakan di rumah Zalfa?” tanya seorang pria bertopi yang baru saja turun dari atas motor dan menghampiri wanita itu. Pria itu tidak sendiri, dia bersama seorang wanita.
“Iya,” jawab wanita itu dengan senyum ramah. “Kok, kamu tahu? Apakah kamu disuruh menjemput saya oleh Non Zalfa?”
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanya pria bertopi tanpa menggubris pertanyaan Emy.
“Emy,” polos Emy.
Pria bertopi menoleh ke samping, menatap wanita yang tadi membonceng bersamanya. Kemudian dia memberi kode dengan anggukan kepala pada wanita di sisinya.
Dengan raut penuh tanya, wajah polos si wanita kampung masih tersenyum saat kedua manusia di hadapannya itu saling mengkode. Dia terkejut dan tidak sempat melakukan apa pun saat sebilah pisau menghunus ke arah perutnya.
***
...BERSAMBUNG...
Apa kabar pecinta Zalkhan?
Tungguin debay mereka lahir yah 😘😘😘
.
.
.
.
__ADS_1