
Rumah kediaman Ismail sudah dipenuhi oleh para tamu. Sebagian lantai utama sudah digelar dengan permadani. Ruangan tertentu dihias. Sebenarnya tidak banyak tamu yang diundang. Tapi entah kenapa rumah sederhana itu malah dikunjungi banyak orang hingga memadati ruangan, menjadi seperti lautan manusia.
Sebagian besar orang-orang yang mengenal Zalfa dan Ismail, berbondong-bondong datang untuk menyaksikan acara ijab qobul yang akan berlangsung. Mereka ingin memberi selamat dan mengabadikan momen itu. bahkan sudah sejak pagi mereka datang memenuhi ruangan.
Ismail, pria sederhana yang ramah dan santun, membuat orang-orang yang mengenalnya tak ingin melewatkan momen itu ketika mendengar kabar pernikahan Ismail. Mulai dari teman-teman sekantor, teman sekolah, orang-orang yang mengenalnya di luaran sana yang menganggap Ismail adalah pria berhati baik yang suka menolong dan dermawan, hadir di sana meramaikan acara.
Bukan maksud Ismail tidak ingin mengundang teman-temannya, melainkan sisi hati kecilnya yang merasa enggan menyebar luaskan pernikahan yang kedua, takut dianggap gagal berumah tangga.
Zalfa sejak tadi melongok keluar mencari kemunculan Arkhan, namun hingga kini pria itu belum muncul juga. Entah sudah yang ke berapa kali Zalfa keluar masuk hanya untuk mengecek kehadian Arkhan, entah kemana pria itu. Sejak dua malam, Zalfa menginap di rumah Ismail untuk mengurus berbagai hal mengenai pernikahan Ismail. Sebab jika bukan Zalfa, maka siapa lagi yang akan membantu Ismail.
Zalfa memasuki kamar, tempat dimana Ismail menunggu kedatangan Tini dan keluarga.
Ismail menoleh ke arah Zalfa yang memasuki kamar. Ada tatapan gusar di mata Ismail.
“Mas, aku seneng banget hari ini. Mas akan memiliki istri sebaik Tini.” Zalfa duduk di sisi Ismail, tepatnya di tepi ranjang.
Ismail mengangguk.
“Mas, kenapa keliatan gugup begitu? Grogi mau ijab qobul? Bukankah Mas udah pengalaman untuk ini?” Zalfa menggoda.
“Bukan begitu. Aku Cuma nggak nyaman aja, kenapa yang dating malah serame ini? Padahal Tini mintanya acara dibikin sesederhana mungkin, cukup tetangga aja yang hadir.”
“Jangan cemaskan hal itu, Tini pasti bisa ngerti.”
__ADS_1
“Aku nggak enak sama pandangan orang lain yang melihatku menikah dua kali.”
“Mereka yang hadir adalah untuk memberimu selamat, Mas. Bukan untuk menghinamu. Jangan berpikiran buruk.”
Ismail tersenyum tipis. “Kamu benar, kenapa malah aku yang jadi bingung begini.”
“Setiap orang memiliki masalah hidup amsing-masing, kan? So, jangan memikirkan hal yang buruk. Ini hari bahagiamu, Mas. Berbahagialah!”
Ismail mengusap pucuk kepala Zalfa singkat.
“O ya, Ustad Bukhori juga dating loh, Mas.”
“Serius kamu?” Ismail tampak kaget.
“Alhamdulillah. Aku seneng banget ustad kondang sepertinya bersedia hadir di acara sesederhana ini.”
“Itulah yang namanya manusia berakhlak mulia, dia nggak membedakan kemana arah tempat tujuannya, nggak harus dari kalangan berada aja yang jadi tempatnya bertamu.”
“Ya, kamu benar. O ya, apa keluarga Tini udah datang?”
“Tadi belum.”
Ismail dan Zalfa sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seseorang menyembul masuk dan memberitahukan bahwa mempelai wanitanya sudah datang. Ismail mengangguk dan bvangkit berdiri. Zalfa merapikan jas dan kemeja yang dikenakan kakaknya. Sengaja mereka mengadakan acara di rumah Ismail sebab keluarga Tini berada jauh di kampung dan orang tuanya juga sudah meninggal. Sehingga Tini yang tidak memiliki rumah pun meminta supaya pernikahan dilangsungkan di rumah mempelai pria. Tini diantar oleh paman, bibi dan kerabatnya.
__ADS_1
Zalfa menemani Ismail keluar menuju ke ruangan utama. Mereka disambut oleh tamu yang berjubel, duduk memenuhi lantai ruangan. Mereka menikmati makanan ringan seadanya. Ketakutan Ismail yang sejak tadi menyumpal batinnya pun tidak terjadi, pada kenyataannya semua mata yang memandang, tidak menganggapnya buruk. Yang terlihat di wajah-wajah dan tatapan para tamu hanyalah raut turut gembira. Begitu besar rasa solidaritas mereka hingga bersedia datang di acara itu.
Zalfa sempat melempar senyum ke arah ustad Bukhori yang duduk tak jauh dari penghulu sebagai bentuk hormatnya dan dibalas senyum pula oleh sang ustad. Soleh yang duduk tepat di sebelah ustad Bukhori pun membalas senyuman Zalfa, mengira dirinya yang mendapat lemparan senyum tersebut. Ya ampun, pe de sekali dia. Pikir Zalfa.
Ismail sudah duduk berdampingan dengan Tini setelah kedua belah pihak keluarga mengadakan pembicaraan khusus.
Pandangan Zalfa kembali mengarah ke pintu. Ya ampun, Arkhan belum juga muncul. Kemana dia? Zalfa beringsut mundur dari posisi duduknya, lalu berjalan menjauh ke arah luar. Ia menelepon Arkhan. Telepon tersambung, namun Arkhan tidak menjawabnya.
Ya ampun, Arkhan kenapa belum muncul juga? Ini adalah acara sacral kakakku, setidaknya kamu sebagai suamiku ada di sisiku menyaksikan. Apakah kamu menganggap acara ini tidak begitu penting? Zalfa menggigit bibir kesal. Maria juga belum hadir.
“Aduh!” pekiknya saat gigitannya agak keras.
Sial! Malah bibir jadi korban.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1
.