SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
263.


__ADS_3

Langsung saja Zalfa menyusup masuk ke mobil saat melihat mobil Arkhan sudah keluar dari area parkir dengan lampu sein kedip-kedip.


“Udah lama menunggu?” tanya Zalfa. Ia mendadak bingung karena Arkhan menatap ke arahnya sejak saat ia masuk ke mobil dengan tatapan berbeda.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Zalfa, dia malah diam saja dan kemudian mengalihkan pandangan ke depan, mengemudi dengan konsentrasi. Mobil bergerak perlahan keluar area klinik.


“Mas Arkhan, kamu marah, ya?” Zalfa mencoba berdamai.


“Jadi… Begitukah jika wanita sudah bertemu dengan teman mengobrolnya?” Arkhan balik Tanya.


“Begitu gimana maksudnya?”


“Lupakan.” Arkhan konsentrasi menyetir.


“Ya maaf, wanita emang begitu kalau lagi pas dapet temen ngobrol.” Zalfa mendengus.


Ya, sampai-sampai suami pun dikacangin. Zalfa berpikir sendiri.


Mobil berhenti di depan minimarket. Arkhan menoleh ke arah Zalfa dan berkata, “Aku haus. Biakah kau belikan aku minuman dingin?”


“Tentu.” Zalfa langsung melepas sealt belt dan turun dari mobil. dia menjalankan permintaan suami dengan penuh semangat, itung-itung sebagai wujud permintaan maafnya yang telah membuat Arkhan merasa dikacangin dan bahkan menunggunya terlalu lama.

__ADS_1


Zalfa membeli dua botol minuman dingin, satu botol air mineral dingin, dan botol lainnya adalah teh dingin. Zalfa kembali ke mobil.


“Ini!” Zalfa menyerahkan botol berisi teh dingin kepada Arkhan dengan kondisi botol yang tutupnya sudah dibuka.


Arkhan meneguk kemudian meletakkkannya ke sisi pintu mobil.


Zalfa merasakan pernafasannya sakit dan sesak saat mencium aroma tidak enak.


“Mas Arkhan, tolong matikan rokoknya!” pinta Zalfa saat ia mencium asap rokok yang menyakitkan di pernafasannya. Kedua jendela terbuka, dan AC tidak menyala. Arkhan pun tampak tennag menghisap rokok.


Arkhan menoleh ke arah Zalfa, dia tidak mengatakan apa pun, hanya menatap beberapa bagian tubuh Zalfa, seperti bagian tangan, perut, jilbab dan berakhir di wajah. Setelah itu ia kembali menghisap rokoknya dengan tenang.


Tidak ada respon dari Arkhan, pria itu hanya mengeluarkan tangan kanannya yang memegang batang rokok ke luar jendela.


“Meski pun kamu keluarkan batang rokoknya, asapnya tetap masuk terbawa angin. Aku nggak bisa menghirup asap rokok. Kalau kamu nggak mau buang rokoknya, berhenti di sini. Aku mau turun,” ancam Zalfa dengan ekspresi wajah ditekuk.


Arkhan menginjak gas dan menambah kelajuan mobil.


“Aku ini lagi hamil, aku nggak boleh mencium asap rokok, ini berbahaya untuk kandunganku.”


Arkhan melepaskan puntung rokok di tangannya. Lalu menaikkan kaca jendela keduanya dan menutupnya rapat. Ac pun kembali dinyalakan.

__ADS_1


“Kamu pikir aku nggak berani turun kalau kelajuan mobil ditambah?” Zalfa memegang hendle pintu.


Tik.


Terdengar suara pintu dikunci melalui bagian pintu supir. Arkhan bergerak cepat menekan tombol di sisinya untuk mengunci seluruh pintu sehingga Zalfa tidak bisa membuka pintu di sisinya.


“Berhenti!” titah Zalfa.


Arkhan meletakkan kedua tangannya di bundaran kemudi. “Aku sudah membuang rokoknya.” Arkhan menunjukkan kedua tangannya yang sudah kosong. Ia menoleh ke wajah Zalfa, dia mendapati raut kesal dan cemberut.


Zalfa memalingkan wajah ke jendela. “Kamu kan udah tahu kalau aku nggak suka asap rokok. Di awal kita bertemu, kita juga udah pernah berdebat soal ini. kenapa sekarang terulang lagi?”


Arkhan diam saja mendengarkan gerutuan istrinya. Pandangannya konsentrasi ke depan.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2