SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
278.


__ADS_3

Arkhan memasuki kamar dan mendapati Zalfa sudah tertidur pulas. Dia mendekati ranjang, duduk di sisi ranjang, netranya menatap wajah Zalfa yang sudah terpejam. Nafas wanita itu terdengar keras dan teratur.


Arkhan melirik jam di tangannya, baru jam delapan dan Zalfa sudah tertidur pulas. Akhir-akhir ini Zalfa memang kerap tidur lebih awal. Bahkan wanita itu dengan mudahnya tertidur setelah shalat isya. Jika tubuhnya sudah dibaringkan di kasur, maka tidak ada kegiatan lain selain tertidur pulas. Jangankan berbaring di kasur, saat terduduk di kursi pun, Zalfa dengan mudahnya tertidur pulas sampai-sampai Arkhanlah yang mengangkat tubuh Zalfa dan menidurkannya ke kasur.


Arkhan juga sudah lupa kapan terakhir kali dia bercinta dengan Zalfa, sebab Arkhan tidak pernah mengajak Zalfa melakukannya, dia merasa iba terhadap wanita itu dan tidak ingin memulai lebih dulu.


Setiap kali melihat Zalfa yang meringis sambil mengelus perut saja, Arkhan ikutan meringis dan mendadak persendian tubuhnya terasa ngilu. Bagaimana mungkin dia akan tega mengajak Zalfa bercinta disaat kondisi Zalfa seperti itu?


Arkhan menggeser posisi duduknya hingga mendekat ke tubuh Zalfa yang sedang berbaring miring. Dia meraih lengan Zalfa, lalu memijit-mijit dengan pelan. Setelah itu, dia juga memjit-mijit kaki Zalfa.


Arkhan meyakini satu hal, bahwa orang hamil pasti mudah kelelahan. Dia berharap pijitannya itu akan mampu mengurangi pegal-pegal di tubuh istrinya. Pijitan Arkhan sama sekali tidak berpengaruh pada Zalfa. Wanita itu tetap terlelap seperti tidak merasakan pijitan Arkhan.


“Pulas sekali kau tidur, Zalfa!” Arkhan bicara sendiri.


Setengah jam berlalu, akhirnya Arkhan pun menyudahi aksi pijitnya itu. Dia kemudian mmebaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Zalfa, tepatnya menghadap punggung Zalfa.


Arkhan melingkarkan lengannya ke perut Zalfa dari arah belakang, memasukkan tangannya ke baju istrinya dan mengelus permukaan kulit perut itu. dia merasakan tendangan-tendangan kecil di perut itu. Nafasnya tertahan setiap kali merasakan tendangan janin di rahim istrinya.


Tak lama kemudian, Arkhan turun dari ranjang setelah mendaratkan kecupan singkat di leher Zalfa. Dia belum ingin tidur. Langkah kakinya menuju ke luar kamar. Saat tangannya sedang mengayunkan daun pintu untuk menutupnya, Maria muncul dan menghampirinya.

__ADS_1


“Zalfa sudah tidur?” tanya Maria sambil memiringkan kepala untuk menjangkau pemandangan di dalam kamar sesaat sebelum Arkhan menutup pintu.


“Sudah.”


“Wanita yang kehamilannya sudah semakin membesar, pasti mudah mengantuk, mudah kelelahan dan malas bergerak. Itu wajar,” kata Maria seperti sedang memberi pengertian pada Arkhan, padahal Arkhan justru mengetahui hal itu lebih awal tanpa perlu Maria memberi tahu.


Arkhan hanya menatap Maria tanpa mengatakan apa pun.


“Usia kandungannya baru tujuh bulan, tapi sikap dan keluhan Zalfa menunjukkan seakan-akan kehamilannya sudah menginjak usia Sembilan bulan. Tidak apalah, yang penting kandungannya sehat. Apa kau sudah membawanya kontrol ke dokter?”


“Dua bulan yang lalu.”


“Ya. besok aku akan membawanya ke dokter.”


Maria mengangguk kemudian pergi.


Arkhan turun ke lantai bawah. “Emy!” panggilnya sambil berjalan menuju ke ruangan lain mencari asisten rumah tangganya itu.


“Ya Tuan Arkhan!” Emy menyembul.

__ADS_1


“Kau bawakan termos yang kecil itu ke kamarku, isi dengan air panas, kau bawa juga air dingin dan gelas. Siapkan di kamar!” titah Arkhan.


“Baik, Tuan. Untuk apa ya, Tuan?”


“Sewaktu-waktu Zalfa akan terbangun saat tengah malam karena kehausan. Dia sering kali turun ke bawah untuk mengambil minum. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi.”


“Tapi kenapa harus air dingin dan panas, Tuan?” tanya Emy.


“Semanjak hamil, aku lihat Zalfa lebih menyukai air hangat kuku. Kau sediakan saja air panas di termos. Saat tengah malam, Zalfa mengaku sering kepanasan dan kehausan. Dia dehidrasi, dan yang dia butuhkan adalah air minum hangat kuku.”


“Ooh… begitu. Baik, akan segera saya siapkan dan saya antar ke kamar Tuan.” Emy membungkuk patuh. Baru selangkah, Emy balik badan lalu menoleh memperhatikan Arkhan yang masih berdiri mematung.


“Tuan Arkhan sangat perhatian kepada Non Zalfa, ya!” celetuk Emy yang sudah mulai berani untuk mengobrol dengan majikannya.


Arkhan hanya mengangkat alis.


“Beruntung sekali Non Zalfa memiliki suami yang sangat perhatian,” lanjut Emy penuh rasa kagum. “Saya meyakini hubungan yang begini pasti akan langgeng, Tuan.”


“Aku mencintainya,” kata Arkhan kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2