SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
287.


__ADS_3

Sementara di dalam ruangan operasi, Zalfa sudah berbaring dengan sangat tenang. Bibirnya tak lepas dari ******* senyum manis. Dia membayangkan Arkhan yang sedang membaca Al Qur’an, melafazkan kebesaran nama Allah di setiap ayatnya. Ya Allah, betapa bangganya jika dia bisa menyaksikan Arkhan membaca ayat-ayat tersebut.


“Dokter, bolehkah saya menonton acara televisi melalui ponsel?” Tanya Zalfa dengan suara lemah, wajahnya memucat.


Dokter saling pandang. Namun melihat kondisi Zalfa yang terlihat memprihatinkan, akhirnya dokter pun mengabulkan permintaan Zalfa. “Boleh.”


Seorang bidan yang disuruh pun meletakkan ponsel ke tempat yang agak tinggi, tepat dimana pandangan Zalfa bisa menjangkaunya, membuka tayangan yang disiarkan secara live. Tampak lautan manusia menyerukan salawat dan zikir bersama. Kulit Zalfa meremang menyaksikan hal itu.


Sambil menonton, Zalfa menuruti perintah dokter untuk mengubah posisi tubuhnya supaya miring, kemudian Zalfa diberikan suntikan.


Selama itu, Zalfa diajak mengobrol oleh dokter.


Tak berselang lama, Zalfa merasa keliyengan. Namun dia masih sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Antara sadar dan tidak.


Dokter menyentuh kaki Zalfa sambil bertanya, “Apakah sentuhan saya di kaki Nyonya Zalfa terasa?”


Zalfa menggeleng karena dia tidak merasakan apa pun. Ada kain pembatas antara dada dan perutnya sehingga dia tidak bisa melihat pekerjaan dokter yang membedah perutnya.


“Baik, kalau begitu kami mulai,” ucap dokter dan memulai aksi pembedahan.

__ADS_1


Zalfa tidak begitu mengerti dnegan apa yang diucapkan dokter. Pandangannya terus tertuju ke ponsel yang menayangkan siaran langsung. Setelah aksi salawat dan zikir bersama disudahi, pembaca acara pun menyebut nama Arkhan Al Ibadullah untuk membaca Al Qur’an. Beberapa menit setelah nama Arkhan dipanggil, pria itu tak kunjung muncul. Kemudian pembaca acara pun kembali memanggil nama Arkhan beberapa kali.


Tak kunjung muncul, pembaca acara pun meminta maaf dan akan menggantikan Arkhan dengan yang lain sebab kemungkinan Arkhan sedang berhalangan hadir.


Mendengar pernyataan itu, terjadi kegaduhan pada sekelompok muda-mudi yang tampak di pojokan, mereka berdiri dari duduk dan bersuara saling sahut hingga menimbulkan keriuhan seperti segerombolan lebah, mereka menunjukkan kekecewaan mereka.


Polisi mengamankan dan menenangkan, keadaan pun kembali tenang. Mereka tidak membuat kacau, mereka hanya menunjukkan kekecewaan saja dengan wujud protes. Sebab mereka hadir di sana demi bisa melihat Arkhan secara langsung, namun gagal.


Suasana kembali hennaing saat sosok pria tampan muncul ke tengah-tengah panggung dan memberi isyarat kalau dia akan membaca Al Qur’an di sana. Tak lain Arkhan.


Arkhan pun dipersilahkan menuju ke tempat yang sudah dipersiapkan.


Dengan menggunakan kopiah putih, baju koko yang juga berwarna putih, serta celana hitam dengan corak warna putih di sisi kantongnya, pria berwajah tampan itu duduk, lalu membuka Al Qur’an yang sudah disediakan. Dia mengucapkan salam.


Suara syahdu menggema melalui mikrophone. Merdu. Iramanya indah. Menyentuh kalbu. Seluruh pendengar menunduk, diam dan mendengar dengan seksama.


“Bismillahirrohmanirrohim…”


Tidak hanya tampan, bahkan suaranya juga sangat indah, alunan iramanya sangat bagus. Hadirin yang berada di paling depan, tampak mengarahkan kamera ponsel ke wajah Arkhan demi mengabadikan momen tersebut.

__ADS_1


“Amma yatasaaa’aluun, ‘anin-naba’il-‘azhiim. Allazii hum fiihi mukhtalifuun. Kallaa saya’lamuun. Summa kallaa saya’lamuun….”


Nyess… Seluruh hati terasa dingin mendengar suara merdu itu.


Sementara di televisi, yang disorot kamera adalah wajah Arkhan, sesekali menyorot ayat Al Qur’an yang ditunjuk oleh Arkhan.


Zalfa meneteskan air mata. Meski dalam keadaan setengah tidak sadar akibat efek suntikan bius, namun ia masih bisa mendengar lantunan indah ayat-ayat suci yang dibacakan oleh Arkhan. Hanya zikir yang terus mengalir di benak Zalfa, sesekali dia mengikuti bunyi ayat yang dibacakan oleh Arkhan. Semua terjadi seperti di bawah alam sadar.


“…. maa qoddamat yadaahu wa yaquulul-kaafiru yaa laitanii kungtu turoobaa.”


Tepat saat Arkhan mengakhiri bacaannya kemudian mengucap salam, bersamaan dengan suara nyaring yang terdengar di kamar operasi.


“Oeeeek….. ooweeeeek….”


Maha besar Allah, tangisan bayi yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar juga. Suaranya nyaring memenuhi ruangan.


BERSAMBUNG


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2