SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
295.


__ADS_3

Zalfa meletakkan bayinya ke kasur bayi setelah memberi ASI pada bayinya tersebut. Arkhan merebahkan tubuhnya di sisi Zalfa. Sebentar saja matanya terpejam, dia sudah lari kea lam mimpi. Dia kelelahan setelah seminggu terakhir berada di rumah sakit mengurus anak dan istrinya. Terkadang dia juga berangkat bekerja saat ada panggilan.


Ismail mendekati Shanum, dengan senyum mengembang lebar dia berkata, “Semoga kamu menjadi anak yang salihah, berbakti pada kedua orang tua dan berakhlak baik. Sehat terus ya, Shanum.” Pandangan Ismail terarah kepada Zalfa, “Zalfa, Mas pergi dulu. Kalau ada apa-apa, kamu kabarin Mas saja.”


“Iya, Mas,” jawab Zalfa.


“Shanum menggemaskan sekali.” Ismail tersenyum menatap bayi mungil yang terbaring itu. disaat Ismail membungkukkan tubuhnya ingin melihat Shanum dari jarak yang lebih dekat, bayi dalam gendongannya pun menjerit dan menangis.


Jeritan itu tidak menghasilkan efek apa pun dari Shanum, Shanum terlihat tenang dengan mata terpejam.


Segera Ismail menjauh dari Shanum karena takut suara tangis bayinya justru akan mengganggu Shanum.


“Iiiiih… Itu jangan deketin bayinya ke Shanum, dong. Nanti Shanum ikutan nangis, urusin bayinya, dong! Jangan sampai gangguin bayi lain!” ketus Elia yang langsung berdiri saat mendengar jeritan bayinya Ismail.


Ismail hanya tersenyum saja sambil beralan keluar kamar. Dia mengerti bagaimana menyikapi gadis bermulut pedas seperti Elia.


“Halo, cantik!” Tini mendekati Shanum, menatap bangga pada bayi kuat yang berhasil melewati masa sulit di incubator. “Kamu imut banget, sih. Cepet gede, ya! jangan bikin ibumu susah. Harus menjadi anak yang baik, oke?” Tini mengusap lembut ujung hidung Shanum.


“E eh, jangan sentuh Shanum, itu tangannya higienis nggak? Nanti Shanum bisa sakit kalau dipegang dengan tangan yang belum cuci tangan,” ketus Elia lagi membuat Tini langsung menjauhkan tangannya dari wajah Shanum. Mukanya langsung memerah mendengar larangan dari Elia. Usia Tini yang masih belasan tahun terkadang mencerminkan jiwa yang juga masih muda.


“Mbak, maafin Elia. Dia masih sangat kecil dan belum memahami situasinya,” kata Zalfa

__ADS_1


Tini akhirnya tersenyum tipis mendengar permintaan maaf yang diwakilkan oleh Zalfa.


“Zalfa, aku pamit,” kata Tini.


“Iya, makasih udah jengukin.”


“Itu aku bawakan pakaian bayi dan perlengkapan bayi juga. Semoga bermanfaat untuk Shanum.” Tini menunjuk sebuah kantong di atas meja.


“Makasih banyak, Mbak. Mas Ismail udah nungguin tuh di luar, kasihan dia kalau kelamaan menunggu. Bayi kalian tadi juga lagi nangis, mungkin haus. Mas Ismail perhatian banget kan sama anak istri?”


“Iya, dia selalu ngurusin bayi kami dan membiarkanku banyak istirahat, katanya aku sudah capek mengurusi suami, memasak, mencuci piring, ngurusin rumah, nyuciin baju, nyetrika, jangan sampai kelelahan karena anak. Kalau pas Mas Ismail di rumah, dia pasti ambil alih ngurusin bayi. Mas-mu itu emmang luar biasa.”


Zalfa tersenyum ikut senang. Syukurlah kakaknya bisa membahagiakan wanita itu.


Zalfa tersenyum saja sambil geleng-geleng kepala.


“Elia! Ayo, keluar! Biarkan Shanum istirahat!” seru Maria yang baru saja muncul dan kini berdiri di ambang pintu.


Elia menoleh ke arah maria dengan tatapan tajam dan raut kesal. “aku baru aja sebentar di sini, kok udah disuruh pergi?”


“Apa yang akan kau lakukan di situ? Shanum juga harus beristirahat. Masih ada banyak waktu untukmu melihatnya. kau tinggal serumah dengan Shanum, jadi jangan ragukan hal itu,” lanjut Maria.

__ADS_1


“Biarkan saja Elia di sini dulu. Elia ingin bersama dengan Shanum,” kata Zalfa.


“Zalfa, kau pasti ingin beristirahat bukan? Di saat bayimu tertidur, disaat itulah waktu untukmu beristirahat. Karena jika dia terbangun, kau wajib menyusuinya. Lalu bagaimana kau akan beristirahat jika ada Elia di dekat Shanum?” ucap Maria.


“Tidak masalah, Mama. Aku akan bisa beristirahat, kok.”


“Kau belum tahu sbeerapa cerobohnya Elia. Tidak baik emmbiarkan Elia bersama dengan Shanum tanpa pengawasan. Shanum masih terlalu kecil.”


Zalfa tidak bisa berkata-kata lagi. Muka Elia semakin ditekuk mendengar kata-kata mamanya.


“Kenapa selalu aku yang nggak dibolehin deket-deket dengan Shanum? Menyebalkan!” pekik Elia dengan suara keras lalu berlari keluar kamar melewati Maria.


Shanum sampai terkejut mendengar teriakan Elia sehingga tubuhnya sedikit terlonjak, namun detik berikutnya dia kembali tidur dengan tenang. Arkhan pun terjaga, dia melihat ke arah pintu dimana Elia menghilang dari pandangan. Kemudian dia mengubah posisi tidurnya menghadap Zalfa, melingkarkan lengan kekarnya ke paha Zalfa tanpa peduli sosok yang kini berdiri di pintu.


“Kau lihat sendiri tingkah adikmu?” Maria geleng-geleng kepala kemudian menutup pintu kamar.


Entahlah, ngidam apa Maria sewaktu mengandung Elia. Bocah itu benar-benar membuat geram, namun Zalfa menanggapi dnegan senyuman. Dia terpejam dalam pelukan Arkhan.


BERSAMBUNG


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2