SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
277.


__ADS_3

“Zalfa, kau sedang hamil. Mungkin perubahan hormon dalam tubuhmu membuat kondisi tubuhmu menjadi seperti sekarang. Untuk merasakan segala perubahan dalam tubuhmu saja tentunya sudah membuatmu merasakan banyak hal tidak nyaman, lalu apakah aku masih harus menambah rasa tidak nyaman itu?” kata Arkhan lagi.


Perkataan Arkhan membuat Zalfa merasa terharu, hatinya benar-benar basah karenanya. Tidak pernah dia mendengar kalimat berisi perhatian seperti itu sebelumnya. Kini, Arkhan bisa bersikap jauh lebih terbuka.


“Aku nggak masalah kok, Mas Arkhan. Aku nggak mau egois juga, kan? Kupikir tadi bukan hanya aku saja yang merasa gerah, tapi ternyata kalian kedinginan.”


“Bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri demi orang lain demi supaya tidak terlihat egois. Aku dan Elia bisa mengerti dengan kondisimu.” Arkhan kembali memencet dan menambah suhu Ac.


Melihat hal itu, Elia menatap kesal ke arah Arkhan.


Sesampainya di mol, Zalfa menatap heran pada Arkhan yang malah memarkirkan mobil dan memilih untuk mengikuti Zalfa memasuki mol.


“Loh, katanya kamu hanya mengantarku saja, ini kok malah ikutan turun?” Tanya Zalfa.


“Ya, aku akan mengantarmu belanja.”


Zalfa tersenyum senang. “Makasih, sayang!”


Arkhan menarik sudut bibirnya mendengar Zalfa memanggilnya sayang. Cukup jarang dia mendengar panggilan itu.

__ADS_1


“Uugh… ampun deh malah sayang-sayangan nih bedua.” Elia menggerutu sambil memutar mata.


Zalfa langsung menuju ke butik. Dia memilih-milih pakaian gamis yang longgar dan berukuran jumbo. Arkhan duduk di sebuah kursi yang disediakan dengan pandangan fokus ke ponsel yang sedang dia mainkan.


“Kak Zalfa, aku belanja ke toko lain, deh. Barang-barang yang ingin kubeli nggak ada di sini,” celetuk Elia yang merasa bosan karena sudah cukup lama menunggu Zalfa memilih-milih pakaian.


“Oke, nanti kakak telepon kalau mau pulang.”


Elia mendekati Arkhan. “Kak arkhan, aku minta duit, dong. Mau belanja, nih.”


Arkhan mengeluarkan dompetnya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang untuk Elia. “Cukup?”


Zalfa tampak memilih beberapa pakaian dan mencoba di tubuhnya. Bolak-balik dia melepas dan memasang pakaian untuk emmastikan apakah baju tersebut cocok atau tidak. S esekali dia menoleh ke arah Arkhan, takut Arkhan menjadi bosan karena terlalu lama menunggu. Tapi pria itu tampak bersabar. Dia hanya diam di kursi sambil mengamati gerakan Zalfa tanpa sedikit pun terlihat raut kesal.


“Mas Arkhan, kita pindah butik yuk. Aku nggak menemukan pakaian yang cocok.”


Arkhan menatap Zalfa yang kini berdiri di hadapannya dengan heran. Sejak tadi bolak-balik pasang baju lalu dilepas lagi, Zalfa juga sudah menghabiskan waktu sekian lamanya, tapi tidak satu pun yang dibeli. Ya ampun.


Sejak tadi Arkhan bersabar saat menunggu Zalfa memilih pakaian, tapi mendengar pengakuan Zalfa yang mencengangkan itu, Arkhan sudah mulai gemas. Makhluk paling cantik berperut besar di depan matanya itu terlihat menggemaskan saat tersenyum seperti sekarang. Alhasil Arkhan hanya bisa menarik sudut bibir tanpa mau protes.

__ADS_1


“Oke,” jawab Arkhan. Dia setia mengikuti kemana pun Zalfa melangkah, dia bahkan setia menunggu tanpa terlihat jengah sedikit pun saat Zalfa berkali-kali mencoba pakaian. Entah kenapa, kehamilan Zalfa membuat hati Arkhan seperti luluh lantak sehingga membuatnya sangat sabar menghadapi ibu hamil.


Melihat Zalfa yang sering kali meringis dan terduduk lemas sambil memegangi perut yang mmebuncit, membuat Arkhan merasa iba dan tiba-tiba hatinya terenyuh.


Saat sudah keluar masuk toko dan Zalfa sudah menghabiskan banyak waktu untuk memilih pakaian, akhirnya Arkhan mendekati Zalfa. Pria itu memilih beberapa lembar baju kemudian dia tempelkan baju tersebut ke permukaan tubuh Zalfa.


“Ini cocok untukmu,” tukas Arkhan yang ingin mencoba untuk memberi bantuan kepada Zalfa dalam memilih pakaian.


“Sungguh?” tanya Zalfa sambil menatap cermin. “Oke, deh. Pilihanmu bagus, kok.”


Zalfa mengambil beberapa helai pakaian yang dipilihkan oleh Arkhan. “Makasih ya Mas Arkhan, kamu udah bantuin aku memilih baju.”


Arkhan mengangguk. Sejujurnya Arkhan sudah mulai jengah menunggu di sana, dan satu-satunya jalan supaya mereka tidak berlama-lama di sana adalah dengan memilihkan baju untuk Zalfa.


BERSAMBUNG


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2