SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
226.


__ADS_3

Arkhan memundurkan wajah. Matanya nanar mereguk wajah yang disinari temaram lampu. Wajah cantik itu tampak sangat indah utuk dipandang.


“Aku merindukanmu,” bisik Arkhan sambil terus menatap wajah istrinya.


Air mata Zalfa menetes tanpa permisi. Dia tidak bisa mengatakan apa pun. Kekalutannya akan kabar Arkhan yang melarikan diri dari tahanan, membuat lidahnya tak bisa berkata-kata meski hatinya merasa bahagia melihat kedatangan suaminya.


Telapak tangan Zalfa mengusap keringat di pelipis Arkhan. Kemudian itu meraba wajah suaminya. Terasa dingin saat jemarinya menyentuh bibir Arkhan.


Arkhan membuka mulutnya, menciumi jemari lentik itu dengan hisapan dan cumbuan. Lalu kepalanya maju, bibirnya mendarat di pipi Zalfa, menciumi wajah itu seperti tidak ingin melewatkannya meski hanya satu inchi. Berhenti di bibir Zalfa dan melanjutkan raupan yang rasanya masih membuatnya merasa penasaran.


Sunyi.


Dentang jam terdengar keras memenuhi ruangan.


“Bagaimana kamu bisa ada di sini? Polisi tadi datang kemari mencarimu?” Tanya Zalfa dengan raut yang masih bingung.


“Aku di bawah kolong ranjangmu,” jawab Arkahn dengan berbisik supaya suaranya tidak terdengar siapa pun. Hanya Zalfa yang harus mendengarnya.


Arkhan ingat, dia memanjat jendela untuk bisa masuk ke kamar Zalfa. Kebetulan Zalfa lupa mengunci jendela saat menutupnya. Arkhan sempat mendekati Zalfa yang saat itu sedang tertidur. Kemudian dia mencium pipi Zalfa sesaat sebelum polisi datang menggerebek kamar. Arkhan buru-buru menyelinap masuk ke bawah ranjang. Untungnya ranjang Zalfa memiliki ruang kosong di bawahnya, yang setiap sisinya ditutupi dengan papan sehingga tidak ada yang menyangka jika Arkhan menggantung di bawah ranjang dengan berpegangan besi bawah ranjang, dia sempurna tertutup papan di sekelilingnya.


“Apa aku membuatmu takut? Apa kedatanganku tidak kau harapkan?” bisik Arkhan menatap wajah Zalfa yang gusar.

__ADS_1


“Ya, aku takut dengan situasi yang kau ciptakan,” balas Zalfa yang juga berbisik. “Kenapa kamu harus kabur? Kenapa kamu nggak kooperatif aja? Aku masih setia menunggumu, dan kamu malah melarikan diri begini. Kalau begini caranya, bagaimana kamu akan bebas secara baik-baik? Bagaimana aku bisa hidup bersamamu sementara kamu menjadi daftar pencarian orang? Mas Arkhan, jangan membuatku semakin ketakutan dengan situasi ini.”


“Maaf. Maaf jika aku malah membuatmu menjadi tidak tenang. Aku berjanji akan mengembalikan kehidupanmu seperti semula. Jangan pikirkan aku.”


“Apa maksudmu?” Zalfa memegang erat lengan Arkhan.


Arkhan enggan menjawab.


“Bagaimana kamu bisa keluar?” tanya Zalfa lagi. “Aku kecewa padamu. Aku sungguh sangat kecewa.” Zalfa mundur, dia lepaskan tangannya dari genggaman Arkhan.


“Kau tidak suka aku datang memelukmu?”


“Bukan begini caranya. Ini akan memperkeruh masalah yang sudah ada.”


“Pergilah, Mas Arkhan. Kembalilah ke tahanan. Serahkan dirimu kembali kpada pihak yang berwajib.”


“Tidak,” tegas Arkhan.


“Kalau kamu nggak mau menyerahkan diri, biar aku yang menelepon polisi supaya mereka menjemputmu di sini,” ancam Zalfa sambil berjalan menuju nakas untuk meraih ponselnya yang tergeletak di sana.


“Zalfa!” hardik Arkhan dan menyambar ponsel di tangan Zalfa. “Kau sungguh tidak bisa mendukungku! Sudah sesulit ini aku berjuang supaya bisa bertemu denganmu, tapi ini tanggapanmu.” Arkhan melepas nafas kasar.

__ADS_1


“Apa masih belum cukup kubuktikan kesetiaanku ini untuk menjelaskan semuanya? Aku jauh lebih ingin bisa hidup bahagia bersamamu. Aku rela menjalani sebagai ibu hamil tanpa suami demi bisa hidup bersamamu lagi, tapi malah ini yang kamu lakukan. Kamu melarikan diri di saat aku berharap bisa hidup bersama-sama denganmu setelah dua puluh tahun ke depan. Lalu bagaimana harapanku akan terwujud disaat kamu dalam posisi seperti ini? Caramu ini justru akan memperpanjang hukumanmu. Karena jika kamu kembali tertangkap, hukumanmu akan jauh lebih berat lagi. Aku sungguh nggak suka caramu ini, Mas Arkhan.”


Arkhan kembali melepas napas berat, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian dia pandangi wajah Zalfa yang memucat akibat kondisinya yang memang kurang sehat smeenjak berbadan dua. Arkhan kembali mendekati Zalfa. Tangannya menjulur dan mengusap air mata di pipi Zalfa dengan jempolnya, gerakannya sangat lembut.


Zalfa meraih tangan arkhan yang berada di pipinya. Dia ciumi tangan itu beberapa kali. “Kembalilah ke tahanan! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”


“Tapi aku tidak bisa, Zalfa!”


“Kenapa?”


Arkhan diam.


“Kamu ingin hidup bebas namun kenyataannya tidak bebas? Hidup berkeliaran namun menjadi buronan polisi? Kapan hidupmu akan tenang? Aku bahkan nggak bisa menjalani hidup bersamamu jika itu yang menjadi pilihanmu.”


Arkhan masih diam.


“Sekarang pilih, kamu kembali ke tahanan dengan statusku yang tetap menjadi istrimu, atau teguh pada pilihanmu melarikan diri dari pengejaran polisi tanpa dukunganku?”


“Kau mencoba mengancamku?”


“Jika kamu memilih pilihan ke dua, maka setelah bayi ini lahir, aku minta kita nggak memiliki status suami sitri lagi,” lirih Zalfa dengan lidah yang terasa berat sekali.

__ADS_1


Keduanya diam.


TBC


__ADS_2