
Zalfa melihat Arkhan sedang menelepon dalam posisi memunggungi, suaminya itu berbicara dengan suara rendah supaya suaranya tidak terdengar oleh orang lain. Zalfa juga melihat Arkhan mengacak kasar rambutnya, seperti panik bercampur marah.
“Persetan dengan semua itu. Semua sudah ketahuan. Sekarang kita dalam masalah besar. Kacau! Sial! Sial!” Arkhan menyapu meja dengan sekali usap lengannya. Pot bunga, hiasan, asbak yang ada di atas meja pun berserakan di lantai. Disusul dengan beberapa buku lainnya yang juga turut berjatuhan ke lantai setelah sapuan yang ke dua.
Arkhan memutus sambungan telepon. Masih dengan mengumpat panik, ia memutar balik tubuhnya dan terkejut saat mendapati Zalfa di belakangnya.
“Mas Arkhan!” lirih Zalfa dengan mata berkaca-kaca. Perasaan Zalfa mulai tidak nyaman.
Melihat ekspresi wajah Zalfa, Arkhan sudah tahu apa yang terjadi. Zalfa mendengar pembicaraannya di telepon tadi. Mungkinkah begitu?
“Mas Arkhan, apa yang terjadi?”
“Apa yang kau dengar?” Arkahn balik Tanya.
“Apanya yang ketahuan? Sebenarnya apa yang kamu lakukan?” Manik mata Zalfa yang seperti kelereng itu pun bergerak tak menentu.
Ekspresi wajah Arkhan yang menegang sedikit rileks. Pertanyaan Zalfa membuat Arkhan yakin kalau Zalfa tidak mendengar seluruh perbincangannya.
“Apa ini berkaitan dengan Bu Fatima?” Tanya Zalfa dengan suara bergetar.
“Tidak begitu, Zalfa.”
“Lalu?”
Arkhan memalingkan pandangannya. “Aku harus pergi. Tinggalah sebentar di sini!” Arkhan mengecup sekilas kening Zalfa kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
“Tunggu!”
Arkhan menoleh tanpa menghentikan langkahnya.
“Faisal di luar ingin bertemu denganmu. Temuilah dia! Bicarakan masalahmu dengannya!” ucap Zalfa sambil berjalan mengikuti Arkhan.
Arkhan tidak menjawab. Pria itu terus melangkah hingga melintasi ruang utama. Ia mendapati Faisal berdiri di tengah-tengah ruangan itu.
“Lain kali saja bicara denganku! Aku sibuk!” Arkhan melewati Faisal begitu saja.
Faisal sontak menghadang langkah Arkhan. “Aku ingin bicara penting,” tegas Faisal.
Melihat keseriusan dan tatapan penuh harap di mata Faisal, Arkhan pun mengalah. “Katakan!”
“Ibuku meninggal tadi malam. Dibunuh. Aku tahu kau adalah orang terakhir yang menemuinya. Dan aku tahu siapa saja orang-orang yang bermasalah dengannya, salah satunya kau.”
“Tetangga menyebutkan ciri-ciri orang yang datang ke rumah tengah malam dan sempat ribut dengan ibuku, kaulah orangnya.”
“Ya, benar. Aku memang menjumpai ibumu. Tapi aku sama sekali tidak melakukan apapun terhadapnya.”
“Arkhan, tolong! Bicaralah dengan jujur! Apakah kau benar-benar terlibat atau tidak? Saat ini tetangga tidak kuijinkan membongkar kedatanganmu ke rumah untuk menemui ibuku. Aku melarangnya bicara karena ingin menjadikan kasus ini diselesaikan secara baik-baik. Jika kau mengakuinya, maka aku tidak akan menyeret masalah ini ke hukum. Jadi kumohon, bicaralah dengan jujur!” Faisal memohon.
“Apa lagi yang harus kukatakan? Inilah kejujuranku!” tegas Arkhan.
“Baiklah, jika memang itu kenyataannya, jangan salahkan aku jika aku membawa-bawa namamu ke hukum untuk mengusut kebenaran masalah ini. Aku memang marah pada ibuku karena beliau sudah melakukan banyak kesalahan besar padamu terlebih kepada Zalfa, tapi aku tetaplah anaknya. Inilah bakti terakhirku padanya, aku harus menemukan siapa dalang dibalik masalah ini.” Faisal tampak kesal kemudian berlalu pergi setelah menoleh ke arah Zalfa yang berdiri tak jauh di belakang Arkhan.
__ADS_1
“Dia membuang waktuku saja!” ungkap Arkhan sambil berjalan ke arah pintu.
“Mas Arkhan! Kenapa harus terburu-buru?” Tanya Zalfa sambil mengejar Arkhan.
Arkhan menoleh namun tidak mengatakan apa-apa. Kemudian pandangan matanya tertuju ke arah jam tangannya. “Sial!” kesalnya kemudian menutup pintu dnegan tergesa-gesa dan menguncinya. Ia seperti membatalkan niatnya untuk keluar. Lalu ia balik badan dan menghampiri Zalfa. Kedua tangannya menyentuh lengan Zalfa dan menatap mata wanita itu lekat-lekat. Tatapan itu teduh dan dipenuhi dengan hasrat cinta, Zalfa sangat tahu dengan arti tatapan mata suaminya. “Zalfa, tetaplah tinggal di rumah, aku akan pergi. Jangan pikirkan apapun tentangku. Aku baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik!” Arkhan menautkan bibirkan ke bibir Zalfa.
Zalfa merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik saat bibir mereka bertautan. Dia juga tidak bisa menjawab apapun. Kata-kata Arkhan seperti menembus jantung Zalfa. Entah apa maksudnya, tapi kenapa jantung Zalfa menjadi lemah karenanya. Ada apa dengan Arkhan?
Saat itu, dentang jam terus berputar, dan Arkhan seperti tidak ingin melepaskan ciumannya.
Setelah beberapa menit berlalu, Arkhan pun memundurkan wajah dan menaiki anak tangga dengan langkah lebar.
BERSAMBUNG
Pertahankan Zalkan untuk tetap berada di rank 10 besar, okeeee?
Makasih udah stay baca sampe sini dan makasih juga buat yg rajin nge-vote.
Yuuk kasih poinnya lagi untuk hari ini 😘😘😘
.
.
.
__ADS_1
.