
Faisal melontar senyum sekilas. Pria itu tampak berusaha menyembunyikan kekalutan dibalik senyumnya itu.
“Apa kabar?” tanya Faisal.
“Alhamdulillah, baik.” Zalfa berharap agar lampu merah segera berganti sehingga ia bisa cepat menjauh dari Faisal. Pria yang sudah lama ia kenal dan bahkan pernah menjadi calon suaminya itu membuat Zalfa merasa tak enak hati jika harus bersikap acuh tak acuh sementara Zalfa masih menangkap dengan jelas sorot cinta dari mata pria itu. dan Zalfa, kini tampak enggan untuk membalas tatapan cinta Faisal.
Mobil-mobil mulai bergerak saat lampu berganti. Zalfa menutup kaca jendela dan menjalankan mobil. Ia melepas nafas lega karena akhirnya bisa terlepas dari pautan mata Faisal.
Zalfa menjalankan amanah yang diberikan Maria, membeli roti sesuai pesanan. Ia tida hanya membeli satu porsi saja, melainkan dua porsi.
Di perjalanan menuju pulang, ponselnya menerima sebuah pesan, pesan yang tentunya juga masuk ke ponsel Arkhan.
Ismail
Zalfa, Mas pulang.
__ADS_1
Sebentar lagi nyampe rumah.
Mas bawain oleh-oleh buatmu.
Mau mas anterin ke rumahmu atau kamu jemput ke rumah Mas?
Zalfa membaca pesan tersebut. Kemudian ia membalas.
Zalfa
Aku OTW ke sana.
Ismail
Oke
__ADS_1
Zalfa mempercepat kelajuan mobil dengan tujuan rumah Ismail. Kepalanya sudah diserbu dengan berbagai macam kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Ismail, tentang Atifa. Bahwa wanita itu tidak pantas menjadi pendamping hidup Ismail, bahwa wanita itu terlalu buruk untuk sosok sebaik Ismail. Dia begitu hina dan memalukan. Bagaimana bisa wanita itu main serong dengan pria lain di saat suaminya sedang ke luar kota? Sungguh, yang dia laukan itu sangatlah hina dan tida beradab. Rasanya Zalfa sudah tida sabar untuk membuka semua kedok Atifa di hadapan Ismail.
Zalfa setengah berlari memasuki rumah sesaat setelah memarkirkan mobil di depan rumah Ismail. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan dan membelalak menatap Atifa yang saat itu sedang duduk berhadapan dengan Ismail. Tampak jelas penampilan Ismail yang terlihat kusut dan lelah akibat perjalanan panjang. Menunjukkan bahwa pria itu baru saja menginjak lantai rumah.
“Zalfa, kamu cepet banget dateng ke sini. mas baru aja nyampe.” Ismail tersneyum melihat kedatangan Zalfa. Ia kemudian menatap Atifa sambil berkata, “Ini aku bawain oleh-oleh buatmu. Ada jilbab sama makanan kesukaanmu.” Ismail mengambil dua bungkus plastik dari dalam ransel yang baru saja ia taruh ke lantai.
“Nggak perlu, Mas! Rasanya wanita itu nggak pantes ngedapetin perhatian sehebat itu dari Mas Ismail. Dia wanita berhati busuk, dia nggak pantes mendapatkan semua itu,” seru Zalfa dengan ekspresi merah padam. Pengkhianatan Atifa sudah cukup membuat Zalfa merasa sangat sakit. Dan bahkan ia merasa lebih sakit saat satu-satunya orang yang menyayangi dan membesarkannya itu disakiti.
“Zalfa! Kamu ngomong apa?” Ismail mengernyit heran atas sikap Zalfa yang tak biasa.
“Dia!” Zalfa menunjuk Atifa. “Dia berkencan dengan pria lain disaat Mas sedang ke luar kota. Dia berselingkuh. Hanya wanita kurang ajar yang berani melakukan hal itu. dia bahkan mengakui perbuatannya itu karena kekurangan materi darimu, Mas. Dan dia mendapatkan materi dari pria lain yang tidur bersamanya. Apa bedanya dia dengan wanita penjual diri? Dia memng menjual dirinya pada berondong.”
Ismail langsung memucat mendengar penjelasan Zalfa. Pria itu menatap Atifa dengan sorot mata berair.
TBC
__ADS_1
KLIK VOTE DI SETIAP CHAPTER, OKEE