
Arkhan berdiri di depan jeruji besi pembatas, tepatnya di koridor yang letaknya cukup jauh dari kamarnya. Ia melihat Reza yang sedang memijiti punggung Beno, berkali-kali terdengar bentakan Beno yang memerintah supaya Reza memijit dengan kuat.
Arkhan masuk dan menjatuhkan uang ke lantai, uang yang dia dapatkan dari temannya.
Segepok uang yang dijatuhkan menjadi pusat perhatian seisi ruangan, tak lain empat pria berbadan gede.
“Waow… amazing! Laur biasa! Kau benar-benar bisa diandalkan.” Beno terkekeh sambil menatap Arkhan puas. “Ngor, ambil tuh duit, bawa kemari!” titahnya memanggil Reza dengan sebutan ngor.
“Berhenti memerintah!” sarkas Arkhan tegas. “Uang sudah kuberikan, artinya Reza sudah lepas dari budakmu. Tidak ada kata memerintah lagi.”
Nada suara yang tegas, membuat suasana seketika hening. Bukan hanya nada suara Arkhan yang tegas saja yang membuat lawan bicaranya terdiam, namun juga rahang yang tegas, tatapan yang mendominasi, ditambah tajamnya sorot gelap matanya, membuatnya terlihat memiliki aura berbeda.
__ADS_1
Reza masih terlihat bimbang, antara menuruti Arkhan atau Beno. Di penjara, Beno seperti singa yang ditakuti karena kekuatannya, sehingga mayoritas orang berpihak pada yang kuat, membela pada yang kuat. Di sini, siapa kuat, dialah yang menang. Reza pun jadi bingung.
“Reza, ayo ikut aku! Tempatmu bukan di sini, kan?” titah Arkhan membuat Reza cepat-cepat menjauhi Beno dan mendekati Arkhan. Ia mengikuti Arkhan keluar sambil sesekali menoleh, menatap Beno yang meninju lantai dengan kepalan tangan.
“Bang, Beno kelihatannya marah sama Abang,” ucap Reza sambil terus mengikuti Arkhan berjalan.
“Biarkan saja.”
“Sepertinya dia tidak terima atas pembebasanku, Bang. Dia tetap terlihat tidak senang karena kau berhasil mendapatkan uang itu. seharusnya kau tidak perlu melakukan ini, Bang. Biar saja aku menjadi budaknya.”
“Maaf, Bang.”
__ADS_1
“Kau rela mati demi aku, kau benar-benar habis di sini juga demi aku, kau rela berada di sini sendirian tanpa mengikutsertakan namaku, bonyok sendirian, bahkan mati pun sendiri, lalu sekarang kau suruh aku diam saja setelah melihatmu begini?”
“Minimal anggap saja ini adalah hukumanku yang pernah menjebakmu bersama Zalfa,” lirih Reza penuh penyesalan.
“Lupakan itu! Kalau kau tidak mau ikut denganku, kembali saja kau dengan Beno!” Arkhan melenggang.
“Tidak, Bang. Tentu aku mau ikut denganmu.” Reza kembali mengikuti Arkhan menuju koridor. Ia sungguh tidak mau jauh-jauh dari Arkhan, sebab ia yakin akan sedikit lebih aman saat berada di sisi Arkhan. Setidaknya Arkhan akan menjadi pelindungnya di sana. “Masuk penjara pertama kali adalah pengalaman yang sangat menakutkan bagiku, Bang. Tidak peduli siapa orangnya, di sekeliling hanya ada kekerasan.” Kulit tubuh Reza meremang merasakan ketakutan setiap kali berinteraksi dengan tahanan lain. Perpaduan antara adrenalin, rasa takut, cemas, dan bingung seolah menjejal dirinya.
“Kau hanya perlu untuk diam, hindari masalah. Di sini, ada banyak predator. Predator ‘seks sesama laki-laki, predator makanan, predator uang. Tidak ada wanita, laki-laki pun dijadikan lawan seks*ual. Setelah pintu sel ditutup, kau harus mulai menguasai situasi dan merencanakan bagaimana bertahan hidup di sini. Kehidupan di penjara memang keras dan menakutkan, tetapi jika kau mengikuti aturan dan menjauhi masalah, kau bisa menjalani dengan selamat tanpa kejadian apapun. Sekarang kau hidup bersama dengan pencuri, pemerkosa, penipu, maling, bahkan pembunuh. Kita mungkin tidak lebih dari mereka, tapi aku yakin kau punya hati dan naluri kemanusiaan, yang tujuan bernafas bukan hanya untuk menginjak-nginjak dan menyiksa orang lain. Lebih baik kau mengikuti naluri dari pada mengabaikannya.”
TBC
__ADS_1
Love,
Emma Shu