SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
292.


__ADS_3

Zalfa kembali tersenyum. “Aku nggak perlu egois serta bersikap kekanak-kanakan dengan merengek memintamu supaya tetap ada di sisiku saat aku melahirkan sementara kamu memiliki amanah lain. Amanah itu ditujukan untukmu, Mas Arkhan. Kita memiliki keyakinan bahwa Allah itu selalu melindungi, bukan? Kenapa harus merengek? Kecuali kamu nggak memiliki pekerjaan yang mendesak, mungkin aku akan memaksamu harus ada di sisiku.”


“Meski aku merasa sedih karena tidak bisa menyaksikan kelahiran bayiku secara langsung, tapi semua yang telah terjadi cukup memberikan pelajaran berharga untukku.” Arkhan mengelus singkat lengan istrinya. “Katakan padaku apapun yang kamu butuhkan, aku akan memberikannya.”


Zalfa mengangguk.


“Masih nyeri?” lanjut Arkhan melihat dahi Zalfa yang bertaut.


“Tambah parah,” lirih Zalfa.


Arkhan menghela nafas. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa rasa yang sedang dialami Zalfa, tapi dia cukup mengerti bahwa rasa nyeri itu tidak bisa diibaratkan dengan apa pun. Hanya wanita yang bisa merasakannya.


“Kamu pasti kuat. Anak kita sudah lahir ke dunia, kamu juga sudah melihat kondisinya. Dia akan menjadi penyemangatmu untuk kembali pulih seperti semula.” Arkhan memotivasi sambil menggenggam jemari Zalfa.

__ADS_1


Zalfa mengangguk. Betapa bahagianya dia mendapat sambutan sehangat itu dari Arkhan.


“Makasih ya Mas Arkhan, kamu udah menjadi suami yang terbaik untukku. dengan kamu memotivasiku seperti ini, aku merasa sangat terbantu, kamu penyemangatku.” Kemudian pandangan Zalfa tertuju ke tangan yang menggenggamnya. Tangan itu memucat dan dingin sekali. “Mas Arkhan, kamu kedinginan. Bajumu juga basah, bahkan ini udah hampir kering akibat kena AC. Kamu kehujanan? Apa di luar hujan?”


“Ya, tadi kehujanan,” jawab Arkhan sambil mengingat kejadian tadi. Kulit tubuhnya seketika meremang mengingat petir yang menggelegar dan menyambar pohon di depan matanya. Tidak jauh jarak pohon dari tempatnya berdiri, dan pohon menjadi hangus tepat di jarak beberapa meter saja darinya. “Jangan mencemaskanku.”


“Tapi kulitmu merinding begini. Kamu pasti kedinginan. Pergilah ganti baju.”


Arkhan memundurkan tubuhnya. Zalfa salah jika mengira kulitnya merinding akibat kedinginan, peristiwa sambaran petirlah yang membuatnya merasa merinding.


“Kau pergilah ganti baju dulu, jangan biarkan kondisimu memburuk jika sampai menjadi sakit,” ucap Maria kemudian mendekati bed dan duduk di kursi sisi Zalfa. “Aku akan menjagamu, Zalfa.”


Zalfa hanya mengedipkan mata sebagai isyarat anggukan kepala. Rasa nyeri di perutnya membuatnya tak kuasa melakukan banyak hal. Dia ingin tidur saja.

__ADS_1


Arkhan berpapasan dengan Ismail di pintu. Sejak tadi Ismail berdiri di sana, memberi waktu pada Zalfa dan Arkhan untuk bisa saling berkomunikasi pasca bayi mereka terlahir ke dunia.


“Arkhan, selamat ya. kamu sudah memiliki anak. Kamu menjadi seorang ayah sekarang,” kata Ismail.


“Ini pengalaman luar biasa bagiku.” Hanya itu yang bisa Arkhan katakan meski sebenarnya dia sangat ingin mengatakan banyak hal kepada Ismail, tentang perasaannya yang luar biasa berbeda saat memiliki seorang anak. Ismail juga seorang laki-laki, sama sepertinya, sama-sama memiliki bayi, kemungkinan Ismail mengerti dengan apa yang dia rasakan.


“Ya sudah, kau pergilah ganti bajumu dulu. Ada Bu Maria yang akan menjaga Zalfa.”


“Hm.” Arkhan melenggang pergi. Dia bukannya pulang untuk menukar pakaian, melainkan menuju ke ruang dimana bayinya ditidurkan. Dia melihat dari jarak jauh, melalui kaca yang korden di dalamnya dibuka, dia melihat di dalam ruangan higienis itu ratusan bayi tersusun berderet di box masing-masing. Dia melihat ada beberapa bayi yang berada di dalam inkubator. Dan dia tahu dimana Shanum berada. Terdengar tangisan beberapa bayi lainnya, dan Shanum terlihat tenang dalam tidurnya. Arkhan terdiam di balik kaca menatap bayinya.


BERSAMBUNG


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2