
Zalfa melirik Arkhan di sisinya, pria itu sedang fokus pada layar ponselnya, keringat membasuh tubuhnya mulai dari pelipis, leher hingga dada bidangnya. Selimut menutup sampai ke perut.
Zalfa menarik selimut menutup tubuh polosnya sampai ke leher. Ia melirik satu lengan Arkhan yang menjadi alas kepalanya, kemudian ia kembali melirik ke wajah Arkhan. Pria itu masih asik dengan ponselnya.
“Bisakah kamu tinggalkan ponselmu?” Zalfa sedikit merengut menatap Arkhan yang sejak saat keduanya melepas kepuasan setelah adegan panas, pria itu tampak sibuk dnegan ponselnya.
“Hm?” Arkhan menoleh ke arah Zalfa.
“Kamu nggak mendengarku tadi?”
“Apa?” Arkhan mengangkat alis.
Ya ampun, Arkhan bahkan sampai tidak mendengar perkataan Zalfa saking asiknya main ponsel. Kelihatannya ponsel Arkhan lebih menarik perhatian dibanding dirinya.
“Apa ponselmu sangat berharga? Sejak tadi kamu memainkannya,” celetuk Zalfa agak kesal.
Sudut bibir Arkhan sedikit tertarik. Ia meletakkan ponsel ke nakas lalu tubuhnya miring menghadap Zalfa. Ia baru sadar, sekarang ia sedang menghadapi seorang wanita, yang baru dia ketahui bahwa wanita sangat ingin diperhatikan.
“Kenapa?” Tanya Arkhan sambil meletakkan satu lengannya ke atas perut Zalfa.
“Aku bahagia.” Zalfa juga memiringkan tubuhnya menghadap Arkhan. Lalu dia peluk pria itu dengan lengan kecilnya. Tubuh besar Arkhan terasa keras dan berotot, Zalfa merasa nyaman saat memeluknya.
“O ya?”
__ADS_1
“Tentu.” Zalfa menatap wajah Arkhan lekat-lekat. Ia mengernyit, tatapan Arkhan terlihat berbeda. “Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?”
Arkhan menghela nafas. Ia memutar mata, seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang dia rasakan. Apakah mungkin Zalfa merasa bahagia bersama pria sepertinya?
Zalfa merapatkan tubuhnya, menempelkan pipinya ke dada bidang Arkhan. “Aku nggak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dan baru kusadari, kebahagiaan yang disertai cinta, ternyata memiliki kesan yang jauh lebih indah.”
Arkhan meletakkan dagunya ke atas kepala Zalfa. Dia memilih untuk diam.
“Arkhan!”
“Hm.”
“Kita mandi, yuk!” ajak Zalfa dengan mata terpejam kemudian menggigit bibirnya sendiri.
“Ya.” Arkhan menggerakkan tubuhnya untuk bangkit bangun.
“Ayo!” ajak Arkhan.
“Bisa minta tolong ambilin bajuku?” Zalfa melirik bajunya yang teronggok di lantai.
“Pakai kimono saja.” Arkhan menyambar kimono dari lemari dan memberikannya kepada Zalfa.
Zalfa meraih kimono tersebut dan mengenakannya dengan gerakan susah payah akibat tangan lainnya memegangi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar mandi disusul oleh Arkhan.
__ADS_1
Sungguh Zalfa tidak menyangka, sosok keras seperti Arkhan ternyata memiliki sikap yang sangat lembut pada wanita. Bahkan saat berada di dalam kamar mandi, Arkhan dengan telaten menyabuni punggung Zalfa, menggosoknya, hingga kemudian keduanya berpelukan di bawah guyuran air shower.
Usai mandi, keduanya mengenakan pakaian masing-masing. Arkhan menggosok rambutnya dengan handuk supaya air di rambutnya cepat kering. Ia tidak mau menggunakan hairdriyer karena rambut bisa rusak akibat panas yang muncul dari benda itu. ia meletakkan kembali handuk ke gantungan dekat pintu kamar mandi kemudian membariungkan tubuh ke kasur.
“Arkhan, ini udah subuh,” ujar Zalfa sambil menyisir rambutnya yang masih agak basah.
“Hm. Lalu?” Arkhan meletakkan satu lengan tangannya ke kening.
“Kita shalat berjamaah,” jawab Zalfa.
Bola mata Arkhan bergerak-gerak. Kemudian ia menoleh ke arah Zalfa.
“Aku masih ingat bagaimana indahnya lantunan ayat-ayat suci yang kamu bacakan.” Kulit Zalfa meremang mengingat suara merdu Arkhan. “Aku ingin mendengarnya lagi.”
Arkhan masih diam.
“Jadilah imam shalatku!” lanjut Zalfa. Ia menatap wajah Arkhan yang berada di belakangnya melalui pantulan cermin di hadapannya.
Arkhan bangkit bangun. “Aku akan berwudhu dulu.”
Zalfa tersenyum melihat Arkhan berjalan menuju ke kamar kecil.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terima kasih atas antusias kalian. Aku jadi semangat nulis, dan berkuang untuk tetap udape secepat mungkin demi pembaca setia. aku terhura eh terharu 😘😘😘