SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
164.


__ADS_3

Zalfa berhenti di tengah-tengah ruangan utama saat melihat Arkhan dan Soleh yang berdiri berhadapan di teras. Pandangan Zalfa tertuju pada sorot mata Arkhan yang ditujukan ke mata Soleh. Zalfa masih terpaku di sana memperhatikan interaksi antara Arkhan dan Soleh.


“Kaukah ini?” tanya Soleh.


“Siapa maksudmu?” Arkhan balik Tanya. “Apa kau mengenalku?”


“Kau Arkhan.”


“Ya.”


Ekspresi Soleh terlihat kaget. Matanya membelalak dan senyumnya mengembang lebar. “Luar biasa. Ternyata aku tidak hanya sekedar bermimpi. Berarti aku tidak salah orang.”

__ADS_1


Arkhan tertegun dan diam. Kembali diamatinya postur tubuh Soleh yang tegap, tinggi dan penampilannya rapi. Rambutnya potongan tentara. Wajahnya bersih dan bercahaya.


“Aran!” panggil Arkhan tegas, menyebut nama sabahat masa kecil yang memiliki pengaruh besar dalam dirinya. Dan kini ada di hadapannya.


“Ya, aku!” jawab Soleh.


“Aranta Soleh Al Kahfi. Amazing! Kupikir tadi aku salah orang. Kau terlihat jauh berbeda. Bahkan aku hampir tidak mengenalimu.” Arkhan mengingat-ingat saat pertama kali ia melihat wajah Soleh di meja makan. Ia berpikir kalau pandangannya salah, bahwa wajah yang mirip dengan sahabatnya itu bukanlah Aran. Namun pemikirannya salah. Dialah Aran. Sosok yang dulu tengil, cungkring, rambutnya selalu disisir ke samping, dan sedikit cupu di mata Arkhan, kini sungguh terlihat berbeda. Jika Arkhan tidak memperhatikan secara seksama, jelas Arkhan tidak mengenal pria yang telah belasan tahun tidak pernah bertemu. Muka Aran remaja yang dulu tirus, kini sedikit melebar dan berisi.


Sama halnya seperti yang dirasakan Soleh. Dia juga meragukan wajah Arkhan yang sepertinya mirip dengan sahabatnya. Mulai dari postur tubuh dan wajah Arkhan mirip sekali dengan Arkhan-nya dulu. Sorot mata, wajah, dan segalanya tidak banyak berubah dalam diri Arkhan sehingga Soleh bisa langsung mengenalnya meski di awal sempat merasa ragu. Hanya ada sedikit perubahan dalam diri Arkhan, area wajahnya yang dulu halus, kini ditumbuhi bulu halus di sekitar dagu dan rahang yang membuatnya tampak lebih dewasa dan semakin tampan. Sejak saat di usia remaja, postur tubuh Arkhan memang sudah atletis dan kekar, dia seperti pangeran sekolah dan selalu menjadi pusat perhatian para cewek. Sehingga di usianya sekarang tidak memiliki banyak perubahan dengan kondisi tubuhnya saat remaja.


Nyes. Hati Zalfa terasa sejuk melihat pemandangan itu. ia salah menduga, ternyata inilah yang terjadi sekarang. Arkhan justru menemukan sahabat masa lalunya, sosok manusia yang memiliki pengaruh besar seperti magnet untuk kehidupan Arkhan. Jika saja Zalfa tahu kalau Soleh adalah Aran, tentu sudah sejak dulu ia mempertemukan Arkhan dengan Soleh, yang ternyata adalah tetangga baiknya. Ya Tuhan, begitu indahnya cara-Mu mempertemukan mereka.

__ADS_1


“Aku sungguh tidak menyangka jika manusia setengil dirimu ternyata masih hidup,” celetuk Arkhan membuat Soleh tertawa ringan.


“Bagaimana bisa kita bertemu di situasi seperti ini?”


“Apa masalahnya?”


“Kau sudah menikah dan aku masih jomblo. Padahal aku ingin bertemu denganmu disaat aku bisa mengenalkan istriku padamu.”


“Kau protes pada siapa?”


Soleh tertawa lagi. “Mungkin pada diriku sendiri. Aku terlalu berharap pada satu wanita padahal wanita itu sudah menikah. Aku akui itu salah dan aku akan segera memperbaikinya. Inilah pembicaraan terakhir kita di bangku sekolah. Kau bilang akan menikah setelah aku menikah, tapi kenyataannya akulah yang belakangan menikah. Kau ingat, kau bahkan pernah bilang kalau kau tidak ingin menikah karena pernikahan tidak semenarik yang kita bayangkan. Tapi skenario Tuhan tentu lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Dan lihatlah, Tuhan menjadikan pernikahanmu sangat indah dan menarik bukan? Sebab kau menikah dengan wanita seperti Zalfa, dia wanita yang baik. Aku sangat mengenalnya dengan baik.”

__ADS_1


Arkhan diam saja.


TBC


__ADS_2