
“Mama, beberapa hari lagi kakakku akan menikah. Aku harap mama, Arkhan dan Elia hadir di acara pernikahannya,” ucap Zalfa kemudian meneguk minum. Ia sudah selesai makan.
“Baiklah. Aku akan hadir,” jawab Maria ringan tanpa beban.
“Di acara pernikahanku dengan Arkhan, mama dan Elia tidak hadir. Kuharap mama bisa menghadiri pernikahan Mas Ismail supaya mama mengenal keluargaku,” sambung Zalfa.
Maria mengelap bibirnya dengan tisu. “Aku tidak bisa menghadiri pernikahnmu karena sedang mengurus hal penting di luar kota. Apa kau ingin pernikahnmu dnegan Arkhan dirayakan besar-besaran?”
“Ah, enggak. Enggak begitu, Ma. Tawaran ini sangat berharga untukku, tapi aku udah merasa cukup dengan acara pernikahan yang udah berlalu.”
“Katakan saja apa yang kau inginkan, aku pastikan Arkhan akan mengabulkannya. Bukan hal sulit baginya membahagiakanmu.” Maria menatap Arkhan. “Kau jaga istrimu dengan baik, berikan aku cucu!”
Mendengar perkataan mertuanya, muka Zalfa langsung merona merah. Cucu? Zalfa juga sebenarnya sudah sangat ingin merasakan bagaimana nikmatnya hamil, tapi mungkin Tuhan belum mengamanahkan dirinya. Ia menundukkan kepala dan melihat telapak tangan Arkhan yang mengelus permukaan perutnya.
Dengan ekspresi tegang karena takut ketahuan sedang dielus, Zalfa pun menurunkan tangan Arkhan. Andai saja Arkhan melakukan hal itu di kamar, Zalfa tentu akan menikmatinya. Eiih… mikir apaan sih?
“Elia, setelah ini kau kerjakan PR, jangan tidur terlalu larut.” Maria melenggang pergi setelah berpesan pada Elia.
“Iya, mama!” sahut Elia kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan sesaat setelah menyambar buah pir.
Zalfa mendekatkan gelas berisi air mineral kepada Arkhan. “Ini untukmu.”
__ADS_1
Arkhan melirik istrinya itu. Ia merasa benar-benar dihargai sebagai suami, selama ini Zalfa selalu berusaha melayani dirinya meski sebenarnya dia tidak pernah meminta bantuan pada istrinya itu. bahkan untuk urusan yang kelihatannya sepele, mengambil air minum pun Zalfa lakukan. Padahal Arkhan jelas-jelas bisa melakukannya sendiri. Bahkan Zalfa sampai harus berdiri demi menjangkau gelas tersebut karena posisi gelas lebih dekat dnegan Arkhan. Segini besar bentuk perhatian dan cara Zalfa mengabdi pada suami.
“Aku bisa mengambil minum sendiri, tidak perlu kau lakukan itu padaku,” ucap Arkhan sambil menunjuk gelas dengan dagu.
“Aku hanya ingin melayanimu.”
“Aku tidak suka membebanimu,” tegas Arkhan.
“Kamu nggak suka membebaniku, tapi kamu bisa membebani Reza. Kami sama-sama manusia.”
“Berbeda kasus. Dia anak buahku. Dia tangan kananku. Dia memang pesuruhku. Dan aku juga membayar mahal untuk itu supaya impas. Antara kau dan Reza memiliki hubungan yang berbeda denganku. Kau istriku.”
“Ya, aku tahu.”
“Ini tugasku, Arkhan.” Zalfa juga berdiri. Mereka berhadapan. “Jadi aku nggak boleh melayanimu?”
“Aku tidak melarangmu, tapi aku juga tidak memintamu melakukan hal itu. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” Arkhan menatap intens mata istrinya.
“Karena ini adalah ladang amalku. Aku suka melakukannya.”
Singkat, padat dan jelas. Jawaban itu membuat Arkhan tidak lagi bertanya.
__ADS_1
“Biar mejanya diberesin asisten rumah tangga,” ujar Arkhan melirik meja yang berantakan.
Zalfa mengangguk.
Arkhan melenggang menuju pintu, dia menoleh saat menyadari Zalfa masih berdiri di dekat meja. “Ayo!” seru Arkhan.
“Ayo kemana?” tanya Zalfa yang baru saja meneguk minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
“Temani aku di kamar.”
Zalfa mengangkat alis. Dasar laki-laki! Pikirannya kamar melulu.
“Apa kamu mengingat perkataan mama tadi yang bilang menginginkan cucu? Nggak trus harus langsung juga kali.” Zalfa menutup mulutnya setelah mengucapkan kalimat itu. “Bukankah kamu mesti harus ke kamar Elia untuk menepati janjimu tadi? Kamu lupa?”
Arkhan memutar mata. “Oh ya, baiklah. Aku harus ke kamar Elia.”
“Aku masih ada pekerjaan, menelepon Mas Ismail untuk membicarakan persiapan pernikahannya. Aku juga harus mencatat makanan yang dipesan untuk acara tersebut.”
“Lakukanlah pekerjaanmu itu. Setelah itu temui aku. Kutunggu di kamar!” Arkhan pergi meninggalkan ruang makan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terus dukung cerita ini dengan bagi bagi poin untuk Arkhan yak, tengkyuh cintah.