SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
112.


__ADS_3

Jantung Zalfa berdetak keras mendengar satu kata yang meluncur dari bibir Arkhan. Wajah pria itu berada sangat dekat dengan wajahnya, tatapan mata pria itu nanar, nafasnya keras. Seketika wajah Zalfa memucat ketakutan.


Dan bahkan hanya dengan sekali tarik, jilbab Zalfa terlepas dari kepala dan mendarat di lantai.


“Arkhan, hentikan!” Zalfa menahan lengan Arkhan ketika pria itu karena rasa takut.


“Kenapa, hm? Kau masih mengharapkan mantanmu itu? Kau menginginkan dia yang meminta hak ini?” Suara Arkhan terdengar bergetar. “Masa bodoh dengan semua kesepakatan yang kamu buat di pranikah, aku hanya ingin menuntut hakku.”


“Jangan lakukan, Arkhan!” Tanpa sadar, air mata menitik dari sudut mata Zalfa. Pandangannya gusar karena merasa terancam.


“Kamu berdosa dengan menolak ku. Kau tahu itu bukan? Kenapa melanggarnya? Hanya demi pria yang haram untuk kau pikirkan, kau rela berkutat dengan kesalahan. Kau tidak mau segala amalmu lebur oleh perbuatan yang sudah kau ketahui dosanya kan? Lalu kenapa isi pikiranmu masih terus saja terhubung dengan segala yang haram? sudah! Jangan banyak bicara!”


“Arkhan!” Zalfa memegang tangan Arkhan yang kini menyentuh lengannya erat.

__ADS_1


“Berhentilah bicara!”


“Hentikan! Kamu menakuti ku!”


Arkhan mengernyit dan menghentikan perbuatannya.


“Jangan lakukan kalau kamu masih dalam keadaan emosi. Aku nggak mau tersakiti oleh kekasaranmu.”


Arkhan terdiam, ternyata penolakan Zalfa adalah karena tidak mau tersakiti jika Arkhan masih dalam kondisi emosi. Arkhan menghela nafas. Sorot matanya yang nanar pelan berubah teduh, nafasnya yang memburu keras, perlahan berubah teratur. Ekspresinya yang menegang juga berubah rileks.


Arkhan mengamati wajah pucat Zalfa yang tampak ketakutan. Tangannya terangkat kemudian mendarat di pucuk kepala Zalfa dan mengelusnya. Sementara tangan lainnya mengusap air mata yang menetes.


“Aku membuatmu takut?” bisik Arkhan.

__ADS_1


Zalfa mengangguk patah- patah. air matanya menitik.


“Aku nggak marah lagi,” ucap Arkhan kemudian dengan suara yang lembut, tatapan yang teduh. "Maafkan aku. Aku marah padamu tadi. Aku kesal. Tapi sekaramg tidak lagi. Aku suka melihatmu begini. Kau berusaha meninggalkan dan melepaskan kebahagiaan yang seharusnya kau miliki demi menjaga sesuatu yang halal. meski kau anggap ini buruk, namun kau tetap mempertahankannya."


Zalfa diam saja, manik matanya masih terus mengawasi bola mata Arkhan yang kini sudah tidak lagi nanar. Ya, pria itu sudah menguasai emosinya.


“Aku nggak akan menyakitimu,” lanjut Arkhan membuat ketakutan Zalfa sedikit memudar. “Aku nggak akan berbuat kasar. Jangan takut! Aku akan bersikap sangat lembut.” Arkhan mengusap kepala Zalfa dengan mengelusnya pelan. Berharap ketakutan Zalfa akan benar- benar menghilang. ia memulai dengan sangat lembut dan sopan.


Menakjubkan, Zalfa tidak melawan. Melihat reaksi Zalfa yang hanya diam, manik mata Arkhan melirik wajah Zalfa yang terlihat menunduk. Sudut bibir pria itu pun tertarik sedikit.


Zalfa tak kuasa melawan, bukan karena tidak sanggup melawan tenaga Arkhan, melainkan karena ingin memegang teguh agamanya, yang mewajibkannya taat saat suami memintanya. Ia hanya memejamkan mata dan membiarkan Arkhan melakukan apa saja terhadap dirinya.


Segala tindakan Arkhan kembali terulang. Zalfa setengah mampu mengingat kejadian yang pernah terjadi padanya saat dia dalam keadaan setengah tak sadar.

__ADS_1


Kini, tak ada lagi yang menghalanginya untuk mengatakan bahwa ia melanggar sunnah, ini halal dan Thayib.


TBC


__ADS_2