SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
195.


__ADS_3

Bukan hanya Zalfa saja yang terkejut melihat kedatangan Bu Fatima, namun Arkhan dan Faisal juga mengalami hal yang sama, kaget dan spontan memaku di tempat melihat kehadiran Bu Fatima yang tampak jelas sedang dalam keadaan tersulut emosi, wajahnya merah padam, sorot matanya membara, dan urat-urat di wajahnya mengeras.


“Seharusnya tidak perlu ada acara syukuran di rumah ini. Rumah yang dihuni oleh wanita tidak bermoral dan selalu mengumpani laki-laki dengan kecantikannya, Zalfalah orangnya!” seru Bu Fatima dengan suara lantang dipenuhi dengan kebencian.


“Hentikan, Bu Fatima! Fitnah apa lagi ini?” Zalfa menghambur mendekati Bu Fatima, berusaha untuk membuat wanita itu menutup pembicaraan. Namun belum sempat Zalfa sampai pada Bu Fatima, suara wanita paruh aya itu sudah kembali menggema memnuhi ruangan.


“Lihatlah! Puteraku pun bisa ada di sini!” Bu Fatima memekik kaget melihat Faisal yang ternyata sudah lebih dulu ada di rumah itu. Betapa marah dan muaknya dirinya, melihat Faisal menginjakkan kaki di rumah Zalfa. “Apa lagi yang puteraku inginkan di rumah wanita yang sudah bersuami jika bukan atas godaan Zalfa sendiri. Sudah berkali-kali aku peringatkan Zalfa supaya tidak menggoda puteraku, tapi setelah peringatan terakhir, masih saja dia melakukannya dengan mengundang puteraku kemari di acara ini. Biarlah aku bicara begini meski harus menanggung resiko dijauhi anakku sendiri. Sudah hancur, maka lebih baik hancur sekalian.”


“Keterlaluan! Ini fitnah!” Zalfa membela diri.


“Kau sudah menikah, Zalfa. Jangan lagi menggoda puteraku. Aku tidak sudi puteraku menjadi bagian hidup wanita sepertimu. Kau terlahir tanpa ayah, kau bahkan menikah setelah disentuh pria itu disaat kau akan menikah dengan puteraku, apakah kau pantas menjadi bagian dari keluargaku?” Fatima menunjuk Arkhan. Kemudian ia menurunkan telunjuknya dan berkata, “Kepada semua yang hadir di sini, berhati-hatilah pada wanita seperti Zalfa.” Bu Fatima berharap kalimatnya itu akan mengundang kewaspadaan semua orang, kemudian Zalfa akan disudutkan dan bila perlu tamu undangan pun bubar karena tidak sudi menghadiri acara yang diadakan di tempat Zalfa.


Dengan wajah bengisnya, Arkhan melangkah maju mendekati Zalfa, berdiri di sisi wanita itu dan menatap Bu Fatima dengan sorot membunuh. “Jika dramamu sudah selesai, silahkan keluar!” Suara Arkhan terdengar sangat rendah, namun ekspresinya menjadi kunci bahwa emosinya saat itu sedang meroket.


“Kau tidak berhak mengusirku!” bantah Bu Fatima yang keberaniannya entah datang dari mana.


Uuugh… wanita tua ini! Tunggu pembalasanku! Kalimat itu hanya ditelan dalam hati. Minimal Arkhan masih bisa mengatur emosi pada tempatnya.

__ADS_1


“Tidak ada yang ingin mendengar teriakanmu yang tidak sopan itu,” balas Arkhan.


“Ibu, tolong jangan membuat keributan di sini! Jika tidak ada keperluan lagi, silahkan keluar! Mohon maaf ya, Bu!” Ustad Bukhori menengahi dan meminta Bu Fatima meninggalkan tempat dengan nada sopan meski kalimatnya terkesan mengusir. Sikap itulah yang menurutnya tepat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi saat itu.


Terdengar kasak-kusuk para hadirin membicarakan Bu Fatima dengan tatapan tidak bersahabat.


Tidak seperti yang diharapkan, ternyata sambutan para tamu justru berbalik. Merasa disudutkan, Bu Fatima pun akhirnya berkata, “Faisal, pulanglah! Ibu minta kamu pulang ke rumah.”


Tidak ada jawaban dari Faisal, sebab pria itu hanya diam memaku. Fatima pun berlalu pergi meninggalkan rumah.


“Maaf jika kedatangan ibu tadi membuat kacau situasi. Maklumi saja, dia stres!” Arkhan menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Kemudian ia menatap Zalfa dan berkata, “Ayo, kita pulang, sayang!”


“Kenapa?” tanya Arkhan saat melihat Zalfa hanya diam di depan pintu mobil.


Arkhan kembali menutup pintu, lalu memutari mobil. Dan membukakan pintu mobil untuk Zalfa. “Apa perlu kubukakan pintunya, hm?”


Zalfa mengangkat kepala menatap wajah Arkhan di sisinya.

__ADS_1


“Sayang, jangan bengong! Lupakan kejadian tadi. Aku sudah sangat muak mengingatnya. Masuklah ke mobil, sayang!”


Deg!


Rasanya jantung berdebar mendengar Arkhan menyebutnya sayang.


Setelah kejadian menyakitkan tadi, Zalfa seperti mendapat hiburan menyenangkan dari Arkhan. Hatinya yang sakit berubah berbunga. Terima kasih, Arkhan!


***


BERSAMBUNG


.


.


.KLIK Like dan dukung dengan vote poin yaaak 🤗🤗🤗

__ADS_1


.


.


__ADS_2