SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
254.


__ADS_3

Tiba-tiba serombongan emak-emak berduyun menggerombol sambil berbicara saling sahut, semuanya bicara hingga tidak ada yang bisa didengar. Arkhan pun heran dengan emak-emak yang bergerombolan menuju ke arahnya itu tidak bisa gantian jika bicara.


Pandangan Arkhan kembali ke arah keranjang sayuran yang sudah mulai penuh, namun Zalfa di depannya masih terlihat asik memilih sayuran.


Arkhan terkejut saat tubuhnya tiba-tiba terdorong dari arah belakang, dan wilayahnya berdiri mendadak sempit seketika. Zalfa pun sampai terhimpit oleh serombongan orang yang tidak tahu munculnya dari arah mana.


“Aih, gantengnya kelewatan si Arkhan ini.”


“Mukanya comel.”


“Foto bareng yuk.”


“Sini-sini!”


Arkhan baru tersadar kalau serombongan emak-emak yang sempat menjadi pusat perhatian Arkhan akibat keramaiannya yang luar biasa itu ternyata bertujuan untuk mendekatinya. Bahkan kini emak-emak yang mayoritas sudah mengeriput itu berfoto ria menggunakan ponsel gaul mereka. Astaga.

__ADS_1


Tubuh Arkhan terdorong ke sana kemari, kakinya juga terpijak-pijak. Bermacam aroma menyeruduk ke pernafasan Arkhan. Bukan hanya itu saja, leher kaos yang dikenakan Arkhan melebar sampai ke pundak akibat tarikan tangan salah seorang emak-emak.


“Buk! Ibuk-ibuk, udah ya! itu suami saya. Kok, dikeroyok begitu?” Zalfa sejak tadi berteriak meminta supaya para emak-emak meninggalkan Arkhan, namun mereka tidak menggubris perkataan Zalfa.


Zalfa kasihan melihat Arkhan yang tampak bingung dan kesal atas kejadian itu namun pria itu tidak bisa berbuat apa-apa akibat tubuhnya yang terhimpit.


Penjual sayur keheranan melihat keramaian itu. sampai akhirnya Arkhan memaksa diri untuk keluar dari kerumunan sambil menarik tangan Zalfa menjauh dari sana.


Sepanjang ditarik oleh tangan Arkhan, Zalfa melirik wajah Arkhan di sisinya. Wajah pria itu tampak memerah karena kesal. Insiden tadi benar-benar membuat Arkhan ingin mengumpat namun ia tidak mungkin melakukannya, karena dia tahu para emak-emak mengeroyoknya bukan karena alasan penganiayaan, namun pengeroyokan beralasan kekaguman. Walau pun pada kenyataannya Arkhan merasa seperti menerima pengeroyokan dan dianiaya beneran.


Arkhan menghadap Zalfa dengan tatapan tajam. Nafasnya ngos-ngosan. Zalfa pun terdiam mendapat tatapan itu. Zalfa menatap setiap tetes keringat di wajah suaminya. Duh, Arkhan jadi speerti mandi keringat, dia tampak gerah sekali.


“Ini pertama dan terakhir kalinya yang namanya blusukan ke pasar.” Arkhan mengusap wajah kasar.


“Maaf.” Zalfa menatap iba. “Loh, trus belanjaannya mana? Keranjangmu mana?” Zalfa menatap tangan kosong Arkhan.

__ADS_1


Sekilas ingatan Arkhan melayang pada kejadian saat dikerumuni emak-emak rempong tadi. Keranjang terlepas dari tangannya meski sudah sangat sulit dia mempertahankan keranjang itu. Tubuhnya yang terhimpit dan terdorong ke sana kemari, membuat tangannya dengan spontan menyeimbangkan diri dan keranjang pun terlepas saat ia merasakan dorongan kuat dari arah samping. Keranjang belanjaan pun terinjak-injak, sayur mayor berserakan, daging pun entah seperti apa nasibnya, yang jelas isi kerangjang sudah mengenaskan.


“Lupakan!” kata Arkhan setelah bayangan mengenaskan itu mengelebat di kepalanya. “Tidak ada keranjang belanjaan lagi.”


Mendengar penjelasan singkat Arkhan dengan raut tidak enak dipandang, Zalfa pun tidak mau protes meski kepalanya hampir pecah mengingat uang yang sudah dia keluarkan lumayan banyak. Dan bagaimana nasib rendang yang sudah sejak tadi ingin dia masak? Pupus sudah harapannya.


“Padahal aku udah kepingin banget masak rendang. Nggak jadi deh,” lirih Zalfa tidak ingin menyalahkan siapa pun. Melihat muka Arkhan yang merah biru dan kuning saja, dia sudah kasihan, bagaimana dia akan menyalahkan Arkhan. Uang lenyap, barang belanjaan pun tidak dapat. Apes.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2