
Zalfa akhirnya memilih untuk berdamai. Tidak seharusnya dia menumpahkan kecemburuan pada Arkhan karena memang Arkhan tidak bersalah. Dia memanggil pegawainya dan memesan makanan serta jus. “Aku minta bikinin mie pangsit pedes dower, kamu apa? Sama kayak aku aja ya, biar kamu ngerasain gimana enaknya masakan ala Zalfa. Ini adalah masakan hasil kreasiku, loh.”
Arkhan mengangkat alis melihat Zalfa yag tampak bersemangat. Dia benar-benar tidak menginginkan makanan dengan judul mie, dia tidak memiliki selera menu itu. namun senyuman lebar Zalfa membuat kepala Arkhan seperti terhipnotis hingga tanpa sadar mengangguk mengkhianati tuannya.
“Oke.” Zalfa mengacungkan jempol mungilnya, kemudian dia memutar sedikit badannya hingga menghadap pegawainya yang masih setia menunggu, berdiri di sisi meja. “Kamu bikinin mie pangsit pedes dower spesial, ya. Jangan lupa kasih suwiran ayam yang udah digodok pakai bumbu, oke?”
“Siap, Kak!” Pegawai tersenyum sambil mengacungkan jempol penuh semangat. Bagaimana tidak semangat? Bosnya aja secantik dan sebaik Zalfa, tidak hanya mendapat gaji lumayan saat bekerja di sana, para pegawai di sana juga sering mendapat uang tambahan jajan atau makanan spesial setiap hari jumat. Pegawai berlalu pergi.
“Nah, kamu bakalan ngerasain masakan lezat di kafe ini, nanti ketagihan, deh.” Zalfa berbicara dengan penuh percaya diri.
Arkhan hanya diam, dia sungguh tidak menyukai makanan ala kesukaan Zalfa. Namun ia tidak mau berkomentar.
“Kamu belum pernah menyantap makanan jenis ini, kan? Hanya ada di kafe Zalfa.” Kembali Zalfa berpromosi.
“Aku tidak menjamin akan menyukainya.” Arkhan akhirnya buka suara.
Zalfa terdiam sebelum akhirnya berkata, “Boleh aja sekarang bilang ebgitu, tapi nanti kamu pasti akan mengacungkan dua jempol ke makanan itu. aku jamin. Ini kreasi yang berbeda, rasanya mak nyoss.”
__ADS_1
Arkhan hanya mengangkat bahu, terlihat tidak meyakini.
Lima belas menit berlalu, pesanan tak kunjung datang. Arkhan mulai menggoyang-goyangkan kaki merasa bosan.
“Lama sekali? Mereka masak atau nonoton TV? Aku sudah merasa lelah di sini.” Arkhan menghela nafas.
Zalfa jadi tak enak hati melihat Arkhan kelamaan menunggu. “seharusnya pelayanan di sini nggak seperti ini. Maaf. Biar aku cek ke belakang.” Zalfa bangkit berdiri.
“Tidak usah!” Arkhan menarik pergelangan tangan Zalfa membuat egrakan tubuh Zalfa terhenti. “Duduk saja!” titahnya sambil menunjuk kursi dengan dagunya.
“No problem. Aku sudah letih, jadi jangan tinggalkan aku sendiri di sini, nanti aku bisa jadi tambah letih.”
Zalfa tersenyum menanggapi.
Pandangan Zalfa kini tertuju ke arah pelayan yang membawa pesanan. Dua piring mie pesanan disajikan di meja, masih panas, lumer dan aromanya menggugah selera Zalfa.
Arkhan menatap mie dengan sajian kuah kental berwarna kuning kecoklatan, dicampur udang, telur, taoge, serta taburan krispi kue bawang di atasnya, dihias daun selada, dua butir potongan tomat dan taburan bawang goreng. Tidak ada ketertarikan di wajahnya. Dia menoleh ke arah Zalfa yang entah sejak kapan sudah melahap mie dengan semangat menggunakan sumpit.
__ADS_1
Arkhan mengambil sumpit lalu menyantap mie bagiannya.
Zalfa melirik Arkhan yang sedang mengunyah. Setelah mie di piring Arkhan hanya tinggal separuh, Zalfa pun bertanya, “Gimana? Enak banget kan?”
Arkhan menatap ekspresi wajah Zalfa yang dihias senyum lebar. Dia mengangkat alis lalu menjawab, “Mungkin menurutmu lezat, tapi bagiku tidak. Aku tidak menyukai makanan jenis ini. Zalfa, ini bukan seleraku.”
Ekspresi girang di wajah Zalfa sontak surut dan memudar. “Kamu jujur banget.” Zalfa kini tampak kurang bersemangat untuk menghabiskan sisa makanannya.
Arkhan tergelak melihat respon Zalfa. Ia tidak menyangka jika ternyata begitu besar pengaruh ucapannya terhadap Zalfa. “Selera kita berbeda, Zalfa. Ini bukan masalah. Tapi aku akan tetap menghabiskannya.” Arkhan melahap mie sampai habis, membuat Zalfa terheran-heran karena Arkhan menghabiskannya dalam waktu singkat dan bahkan sebelum isi piring Zalfa habis meski Zalfalah yang lebih dulu menyantap makanan.
TBC
.
.
.
__ADS_1