
“Terima kasih atas pembelaanmu untukku di hadapan Bu Fatima dan Faisal. Aku merasa sangat tersanjung, bangga, dan bahagia atas sikapmu,” ucap Zalfa meski sebenarnya hatinya masih kesal atas efek dari emosi yang dirasakan Arkhan hingga membuatnya merasa hampir mati duduk di atas mobil.
Arkhan diam saja, menatap Zalfa dengan raut yang tak berubah sejak tadi.
“Tapi bukan harus semua masalah kamu selesaikan dengan kemarahan,” lanjut Zalfa lagi. “Kamu boleh marah pada Bu Fatima, bahkan aku juga sangat marah atas perbuatannya itu. dan aku akui itu manusiawi. Tapi apakah kemarahanmu itu masih harus terus kau pupuk hingga efeknya justru berujung buruk padaku, orang yang kamu bela?”
“Lalu aku harus apa?” Arkhan datar.
“Aku sangat mengerti dengan kemarahanmu, Arkhan. Dan aku berterima kasih untuk itu. tapi bukan begini, kan? Cukup, jangan lagi lanjutkan kemarahanmu itu. bisa-bisa semuanya jadi sasaran. Setelah tadi aku yang merasa hampir mati di mobil berikutnya gelas, nanti apa lagi?”
“Apa ini menjadi masalah bagimu?”
__ADS_1
“Tentu. Bisakah kamu mengerti aku? Aku sungguh nggak suka dengan kemarahan yang membabi buta. Aku nggak suka dengan kekasaran. Aku bahkan tadi udah berkali-kali memintamu supaya kamu memelankan mobil, tapi kamu nggak peduli. Bukankah kamu membelaku di hadapan Faisal? Lalu apa gunanya jika kamu nggak bisa mengerti dengan orang yang kamu bela? Bisakah kamu sedikit mengerti wanita? Wanita mudah merasa takut dengan arogan. Sebab selamanya nggak akan ada gunanya pengorbananmu jika tanpa pengertian pada wanita.”
“Aku membenci wanita tua yang telah membuat kondisimu terpuruk, Zalfa. Itu saja.”
“Nggak masalah bagiku. Manusiawi jika kita merasa sangat marah karena perbuatan Bu Fatima memang benar-benar sangat hina dan rendahan, tapi apakah kemarahanmu sampai harus berefek pada keharmonisan kita? Kamu peduli padaku, atau hanya peduli pada emosimu aja?”
“Cukup! Jangan bahas lagi!” balas Arkhan dingin.
Zalfa tersentak mendengar kata-kata Arkhan. “Ya sudah, aku kembali ke rumah Mas Ismail aja.” Zalfa balik badan. Ugh… Entah kenapa Zalfa merasa sangat kesal atas perlakuan Arkhan yang tak peduli atas rasa takutnya.
“Bagaimana bisa aku bertahan di sini, di tempat pria yang sebenarnya hanya mementingkan egonya sendiri?” Zalfa melangkah pergi.
__ADS_1
“Stop! Jangan langkahkan kakimu dari pintu!”
Zalfa yang sudah berada di ambang pintu, terdiam dan tidak lagi melanjutkan langkahnya. Sebab selangkah lagi, ia telah melewati batas pintu. Suaminya tidak memperkenankannya keluar rumah, maka ia tidak akan melangkahkan kaki melewati batas pintu. Tidak akan ada kebaikan jika tanpa keridhaan suami.
Tiba-tiba tubuh Zalfa berputar sesaat setelah ditarik oleh tangan Arkhan. Tubuh Zalfa membentur dada Arkhan dan berakhir dalam dekapan pria itu. Ya, Zalfa merasakan lingkaran lengan Arkhan di punggungnya. Lehernya yang menempel di dada Arkhan, membuatnya merasakan detakan kuat di dada pria itu.
Sesaat keduanya diam membisu.
Zalfa memejamkan mata menikmati pelukan hangat yang ternyata mampu menenangkannya hanya dalam seketika waktu. Memang, Arkhan ngeselin. Emosinya tidak bisa direm. Namun pria itu memiliki segudang kejutan yang tiba-tiba bisa dia ungkapkan melalui sikapnya. Bahkan sampai detik ini Zalfa masih belum bisa memahami suaminya. Jujur saja, Zalfa merasa sangat tenteram berada di pelukan Arkhan. Pelukan itu memberinya ketenangan. Ia merasakan elusan di punggungnya.
“Maaf, jika sikapku di mobil tadi membuatmu ketakutan. Ya, aku mungkin kurang memahami wanita.”
__ADS_1
Nyesss… Batin Zalfa terasa dingin bak disiram salju. Suara Arkhan sangat lembut. Dan ini adalah kali pertamanya Zalfa mendengar suara Arkhan yang lembut.
TBC