
Usai shalat subuh, Zalfa melipat mukena dan menaruh peralatan shalatnya ke lemari. Dia menghentikan gerakannya saat merasakan sesuatu, dia meringis sebentar merasakan ngilu di pinggangnya. Dia mengelus pinggangnya sebentar sambil beristighfar. Setelah rasa ngilu menghilang, ia keluar kamar mencari Arkhan. Dugaannya tidak meleset, Arkhan berada di ruang kerjanya, tepat di ruangan yang bersebelahan dengan kamarnya.
Zalfa melihat Arkhan sudah duduk di kursi kerjanya, netranya fokus ke laptop dan kedua tangan pria itu mengetik tust-tust keyboard.
“Mas Arkhan!” Zalfa mengalungkan lengannya ke leher Arkhan dari arah belakang.
Arkhan menarik sudut bibirnya merasakan sentuhan Zalfa. Istrinya itu meletakkan dagu di pundaknya. Zalfa menghirup aroma segar dan wangi dari tubuh suaminya.
“Apa kamu tadi udah mandi?” Tanya Zalfa mengamati penampilan Arkhan yang rapi. Pria itu memakai kemeja lengan pendek serta celana panjang.
“Apa yang kau cium dari tubuhku?” Arkhan balik tanya.
“Wangi.” Zalfa menatap rambut Arkhan yang masih lembab. “Kamu keramas?”
“Ya. Aku lebih dulu bangun darimu.”
“Setelah itu kamu shalat?”
__ADS_1
“Ya. jangan menggangguku. Aku sedang fokus.” Arkhan tidak ingin menghentikan pekerjaannya.
“Aku mau bicara sebentar.”
“Katakanlah!” Pandangan Arkhan tidak beralih dari layar laptopnya.
“Apa pembicaraanku nggak akan mengganggumu?” Zalfa mengelus-elus dada bidang Arkhan. Kepalanya menyender manja di pundak Arkhan.
“Tidak. Bicarakan saja. Aku mendengarmu.”
“Apa kamu masih ingat dengan Ustad Bukhori?”
“Beliau mengundangmu untuk menjadi qori’ di acara keagamaan besar-besaran hari ini,” kata Zalfa dengan senyum lebar.
Arkhan sontak mengehentikan pekerjaannya. Dia menoleh ke arah wajah yang sangat dekat dengannya itu. “Hari ini?”
“Iya.” Zalfa mengangguk penuh semangat. “Ini kejutan, sayang. Kamu harus mneghadirinya. Ada jutaan orang yang akan menyaksikanmu membaca Al Qur’an. Bacaanmu akan mengalirkan pahala untukmu atas setiap telinga yang mendengarkannya. Bayangkan jika jutaan umat yang mendengarkan ayat-ayat yang kamu bacakan, maka seberapa banyak pahala yang kamu dapatkan? Acara ini ditayangkan secara live dan disaksikan oleh seluruh negeri.”
__ADS_1
Arkhan mendengarkan setiap kata yang diucapkan Zalfa dengan seksama. Tatapannya nanar tertuju ke manik mata Zalfa.
“Kenapa malah melihatku seperti itu?” Zalfa menjauhkan wajahnya mendapat tatapan berbeda dari Arkhan. Dia kemudian memutari kursi dan dengan entengnya duduk di pangkuan Arkhan. Dia menarik satu tangan Arkhan dan meletakkan telapak tangan suaminya ke permukaan perutnya yang menonjol.
“Aku mengerti maksud dari ucapanmu, amal, pahala dan ibadah. Tapi hari ini aku bermaksud untuk membawamu cek kandungan.”
“Apa masalahnya dengan cek kandungan? Kita kan bisa cek kandungan besok, kenapa harus sekarang?”
Manik mata Arkhan mengitari wajah Zalfa, terutama ke bibir wanita itu. bibir yang dulu selalu terlihat seperti tomat yang ranum, kini berubah sedikit memucat. “Beberapa hari terakhir ini aku melihat kondisimu kurang sehat, rasanya aku tidak ingin menunda untuk mengecek kandunganmu.”
Zalfa tersenyum senang. “Kamu perhatian banget sama aku.”
“Lalu harus kepada siapa aku menunjukkan perhatian jika bukan kepadamu, hm?”
To Be Continued
Nih Author maen cut sembarangan, soalnya error hp nya nih. iya, aku ngetik di ponsel gegara laptop ketinggalan di kantor. Pas hari libur gini tentu kantor tempat kerjaku gak buka. syedih... hu huuuu
__ADS_1
Mana vote untuk Zalkhan?
Follow instagramku @emmashu90 supaya gak ketinggalan info tentang novel-novelku.