SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
294.


__ADS_3

“Biar aku aja,” kata Zalfa yang sudah tak sabar ingin kembali menggendong bayinya. Beberapa menit saja dia meletakkan bayinya, dia sudah sangat rindu untuk memeluknya lagi.


“Aku saja,” balas Arkhan yang sangat ingin menimang bayinya seperti yang dilakukan Ismail.


“Mungkin Shanum pipis, kamu kan belum bisa mengganti popoknya.”


“Biar aku saja yang menggantinya.”


“Aku aja,” Zalfa memegangi erat tubuh putrinya.


“E e eeeh... kalian kok malah berantem sih? Sudah, Zalfa mengalah saja. Toh, lusa juga kamu bakalan lebih banyak memiliki wkatu mengurusi Shanum ketimbang Arkhan. Kasih kesempatan pada Arkhan sekarang.” Ismail menengahi.


Zalfa pun menarik tangannya. Dia tersenyum melirik Arkhan yang sudah dibela oleh kakak kandungnya. “Ya sudah, coba kamu cek Shanum pipis apa enggak. Hayooo... tau nggak gimana caranya?” ledek Zalfa.


Arkhan pun kikuk. Jelas saja dia tidak terbiasa melakukannya. Dia juga bukan tipe pria setelaten dan selihai Ismail dalam mengurus bayi. Arkhan lebih luwes dalam urusan pekerjaan dari pada urusan bayi.


“Aku hanya ingin menggendongnya saja,” kata Arkhan sambil mengangkat tubuh mungil putrinya dengan gerakan kaku. Bagian kepala bayi ada di tangan kiri dan bagian kaki di tangan kanan, namun ia tampak bingung memposisikan tubuh bayi saat bayi sudah berada dalam gendongannya.


“Tuuu kan... Mas Arkhan tuh kelihatan ribet banget pas menggendong bayi begini. Kelihatan banget nggak ahli dalam urusan bayi,” celetuk Zalfa dengan senyum lebar.

__ADS_1


Arkhan pun tampak bingung saat bayi dalam gendongannya menangis. Dia bahkan menyerahkan Shanum kepada Zalfa dengan gerakan kikuk.


“Mas Arkhan, aku menang. Shanum akhirnya balik ke aku,” kata Zalfa saat bayinya diserahkan kepadanya dan posisi Arkhan berada sangat dekat dengannya.


“Aku memang tidak ahli mengurus bayi, aku hanya ahli mengurusmu di ranjang,” bisik Arkhan tanpa seorang pun yang mendengarnya, kecuali Zalfa yang elinganya langsung memanas mendengar bisikan suaminya.


Cubitan kecil pun mendarat di pinggang Arkhan, namun tidak menimbulkan efek apa pun, justru seringaian kecil sebagai isyarat balasan cubitan Zalfa-lah yang muncul di wajah pria itu.


Tiba-tiba Elia menyembul masuk dan menghambur mendekati Shanum. Dengan wajah ceria, gadis kecil itu berteriak girang, “Yeeeey... keponakanku akhirnya jadi juga. Haloooo Shanum!” Elia menjerit histeris sambil melompat-lompat di tempat melihat bayi itu.


“PSsst... jangan berteriak-teriak, Shanum bisa terkejut!” gertak Arkhan.


“Horeeee... aku punya keponakan. Cantik banget kayak aku,” seru Elia girang bukan main.


Bruk!


Tubuh Elia yang melompat-lompat itu terpeleset dan jatuh mengenai tubuh Shanum. Tepat di bagian dada. Entah tertekan dnegan kuat atau tidak, yang jelas badan Elia terjatuh di atas tubuh si kecil. Cepat-cepat Elia bangkit dengan raut penuh ketakutan karena mengetahui letak kesalahannya.


Shanum tidak menangis, dia hanya menggeliat saja.

__ADS_1


“Elia!” tegas Arkhan keras. “Kau benar-benar ceroboh! Jangan dekati Shanum jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Kau bisa mencelakainya, mengerti?”


Elia menunduk merasa bersalah.


“Elia, kamu boleh melihat Shanum, tapi tidak perlu mendekatinya. Akan berbahaya jika tanpa sengaja kamu ceroboh,” kata Zalfa dengan lembut, dia takut akan membuat Elia marah.


“Aku minta maaf,” ucap Elia menyesal. “Tapi Sahnum nggak apa-apa, kan?” Dia terlihat cemas.


“Nggak apa-apa. Tubuhmu tadi tertahan oleh tanganku, kok. Jadi nggak mengenai badan Shanum,” jawab Zalfa.


“Kau jaga jarak saja dengan Shanum, kau itu pecicilan, bahaya jika dekat-dekat dengan Shanum,” kata Arkhan tegas.


Elia pun mundur tiga langkah, lalu duduk di sisi kasur dengan jarak agak jauh.


BERSAMBUNG


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2