
Arkhan mendekatkan tubuh ke tubuh si kecil, mendekatkan mulutnya ke wajah baby. “Allahuakbar Allahuakbar... Allahuakbar Allahuakbar... Ashadualaillahaa ilallah...”
Si kecil yang imut pun langsung diam dan tampak tenang mendengar lantunan adzan yang dilafazkan Arkhan dengan suara lembut, seakan bayi itu menikmati lantunan yang dia dengar sehingga tingkahnya yang tadi gelisah pun berubah menjadi tenang, seakan dia memahami betapa indah ajakan yang diserukan papanya.
Zalfa tersenyum melihat respon bayinya saat Arkhan menyerukan adzan, betapa agung Kuasa Allah dalam melembutkan dan melunakkan hati si kecil melalui lafaz adzan yang dilantunkan oleh Arkhan. Lihatlah, si kecil pun tenang dalam tidurnya.
“Dia seperti mendengarmu saja,” kata Zalfa sambil mengamati wajah yang tertidur pulas dalam gendongannya.
“Selamat datang di dunia, putri cantikku.” Arkhan tidak berani menyentuh bayinya. Sejak tadi dia hanya melihat-lihat saja tanpa ingin menyentuh meski hati kecilnya sangat ingin memegangnya. “Zalfa, terimakasih sudah memberikan hadiah terindah dalam pernikahan kita. Terima kasih udah berjuang demi anakku.”
Zalfa mengalihkan pandangan dari bayinya dan kini menatap suaminya. “Ini sudah menjadi kodrat wanita. Aku dilahirkan di dunia untuk melahirkan keturunan suamiku.”
Jawaban Zalfa benar-benar membuat hati Arkhan semakin basah. Dulu, dia yang selalu mudah terpancing emosi, kini hatinya begitu mudah menjadi basah melihat perjuangan sang istri yang merelakan tubuhnya menjadi tempat anaknya tumbuh dan berkembang.
“Siapa nama bayi kita?” tanya Arkhan.
“Kamu mau kasih nama siapa?”
“Kamu yang mengandung selama tujuh bulan, kamu juga yang bersusah payah melahirkannya, maka kamu beri saja nama kepadanya seperti doa yang kamu harapkan pada bayi kita.”
Zalfa tersenyum tipis. “Aku ingin mengambil nama belakangmu. Dan nama depan kuserahkan kepadamu.”
__ADS_1
“Baiklah. Aku beri nama Shanum El Ibadullah.”
“Nama yang bagus.” Zalfa menyukai nama itu.
Seorang perawat menyembul masuk dan tersenyum ramah. Pandangan sejurus mata tertuju ke arah perawat tersebut.
“Permisi, saya ambil bayinya untuk dibawa kembali ke inkubator,” kata perawat.
Zalfa mengangguk dan memberikan bayinya.
“Bagaimana ibu? Apa bayinya sudah belajar menyusu?” tanya perawat.
“Air susunya sudah lancar, Bu?”
“Alhamdulillah sudah, deras sekali. Bayi saya benar-benar terpenuhi ASI-nya.” Zalfa tersenyum melihat si kecil tampak menggeliat. Meski yang tampak hanyalah bagian wajahnya saja, namun gerakannya tetap terlihat di mata Zalfa.
“Syukurlah. Baiklah, saya bawa bayinya ya, Bu?”
Zalfa mengangguk.
Sepeninggalan perawat, pandangan Zalfa tertuju ke arah Arkhan. Priaitu tengah menatapnya intens.
__ADS_1
“Apanya yang sakit?” tanya Arkhan melihat kedipan mata Zalfa yang lemah.
“Nyeri di perut.”
“Aku memang tidak bisa menggantikan rasa sakitmu supaya pindah kepadaku, setidaknya aku bisa membantumu melakukan sesuatu supaya rasa sakitmu sedikit mereda. Katakan, apa yang harus kulakukan untuk dapat meringankan rasa sakitmu?”
“Nggak ada. Kamu di sisiku aja udah cukup.”
Arkhan mengelus pucuk kepala Zalfa. “Kau ingat, bahwa kau pernah bilang agar aku meyakini kalau segala sesuatu yang terjadi di sini sudah menjadi takdir dan aku harus yakin kalau Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita.”
“Hm.” Zalfa mengangguk.
“Dengan penuh keyakinan, aku pergi meninggalkanmu. Aku serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, bahwa penjagaan-Nya jauh lebih baik dibanding siapa pun. Dan sekarang aku mengerti kenapa aku harus meyakini hal itu. Tuhan maha segala-galanya.”
TBC.
.
.
Baca karyaku Menikahi Sang Konglomerat di fi z z o ya. catet judulnya dan langsung cari ke sana. ceritanya sama serunya dengan Salah Nikah. Baca gratis kok
__ADS_1