
Helooow.. setelah mood-ku enak, aku balik lagi nih.
Mohon dukungannya untuk tetap kasih like di setiap chapter ya. 😘🥰
----------------
“Apakah Arumi menceritakan sesuatu padamu?” tanya Arkhan penuh selidik.
Zalfa hanya tersenyum. “Aku melihat nama Arumi disebut di dalam pesan yang masuk ke ponselmu, suatu yang wajar jika aku menanyai Arumi mengenai hal ini.”
“Dan dia menjawabnya?”
“Lebih tepatnya menjelaskannya.”
“Beraninya dia.” Arkhan menggertakkan giginya kemudian melangkah pergi. Baru beberapa langkah saja, gerakan tubuhnya terhenti saat dua lengan mungil melingkar erat di perutnya. Zalfa menahan tubuhnya dari arah belakang.
“Apa yang akan kamu lakukan pada Arumi? Apakah kamu akan marah padanya? Apa kamu akan kembali mengancamnya?” bisik Zalfa sambil menempelkan pipi ke punggung Arkhan.
Arkhan menatap dua lengan yang melingkar di perutnya, tangannya terangkat ingin memegangnya dan melepaskannya, namun tangannya itu hanya tertahan di udara. Kepalaya menoleh ke samping, pandangannya tidak bisa menjangkau Zalfa yang berada di belakangnya.
“Arumi adalah wanita, sama sepertiku. Ketakutan yang dia raskaan juga menjadi rasa takutku. Jangan temui dia lagi!” lanjut Zalfa.
“Dia bisa saja mengatakan kejadian tentang Reza kepada siapa saja selain dirimu, atau bahkan mungkin kepada polisi. Dia bisa saja mengubah keterangannya di hadapan polisi jika gertakanku kepadanya tidak mempan. Sepertinya ancamanku tidak berhasil membuatnya takut, terbukti dia berani mengatakannya padamu.”
“Aku adalah orang terakhir yang menjadi bagian pengaduannya, jika bukan karena aku memohon, Arumi pasti nggak akan buka mulut. Atas dasar alasan cinta, aku memohon padanya supaya dia mengatakan kaitan antara dirinya denganmu, dan akhirnya dia bicara yang sebenarnya, sama seperti apa yang kamu ceritakan padaku.”
“Kau yakin kalau kau adalah orang terakhir tempat Arumi buka mulut?”
“Ya, aku yakin.”
“Seberapa yakin?” Arkhan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Seratus persen. Aku meminta pada Arumi untuk mengungkap masalah yang sebenarnya karena alasan cintaku kepadamu. Aku ingin melindungi orang yang kucintai dengan caraku.”
Lagi-lagi, kata-kata cinta itu membuat Arkhan membeku di tempat. Tubuhnya memang bisa digerakkan, namun hatinya rasanya seperti membeku.
Pelan Zalfa melepas lingkaran lengannya di perut Arkhan saat merasakan otot-otot di tubuh suaminya itu tidak lagi mengeras.
“Arkhan, aku mohon, jangan bebani Arumi dengan masalahmu. Jangan beri dia ancaman yang bisa membuatnya tidak bisa hidup tenang. Biarkan dia hidup dengan nyaman.” Zalfa memutari tubuh Arkhan dan berdiri di haapan pria itu. keduanya bertukar pandang.
“Aku hanya ingin membuat Arumi tutup mulut. Itu saja.”
“Kedekatanku dengannya sudah cukup membuatnya tutup mulut, hubungan baik yang tercipta diantara kami meski baru beberapa jam kami berteman, sudah menjadi alasan Arumi untuk tidak bicara pada siapapun tentang masalah ini.”
“Zalfa, kenapa kamu harus menanyakan hal ini kepada Arumi? Kenapa kamu nggak cukup menanyakan hal ini padaku saja? Apa kau mencurigaiku? Apa kau tidak percaya padaku sampai harus menanyai masalah ini pada Arumi?”
“Maaf. Maaf jika aku sempat nggak percaya padamu. Aku takut penjelasan antara kamu dan Arumi berbeda. Tapi kenyataannya sama.”
“Zalfa....” Suara Arkhan terdengar serak.
“Jangan curigai aku, Zalfa!” ucap Arkhan seperti tertahan.
Zalfa pun mengangguk. “Aku akan mempercayaimu. Mulai sekarang aku nggak akan pernah mencurigaimu lagi. maafkan aku.”
Arkhan mengehla nafas, raut tegang di wajahnya sudah menghilang, sorot matanya juga sudah berubah teduh. Kemudian terbit senyuman kecil di wajah tampan itu.
“Aku akan memaafkanmu, tapi jawab jujur pertanyaanku,” ucap Arkhan dengan mengacungkan jari telunjuknya.
“Apa?” Zalfa mengernyit heran. Ucapan Arkhan kedengaran serius.
“Kamu ingat pertemuanmu dengan mantanmu itu di restoran?”
Zalfa menghela nafas mendengar Arkhan menyebut Faisal dengan sebutan ‘mantan’. “Kenapa?” tanya Zalfa.
__ADS_1
“Apa yang kamu rasakan saat bertemu dengannya?”
Zalfa membelalak. Maksud pertanyaan Arkhan ini apa? Kenapa Arkhan harus menginterogasi dirinya tentang perasaannya kepada sang mantan? Bukankah itu hanya akan membuat situasi batin memburuk karena harus membicarakan mantan di tengah-tengah kebersamaan begini?
“Zalfa, jawab aku!” desak Arkhan.
“Oh... iya. Ini maksudmu rasa apa? Aku sama sekali nggak merasakan apa-apa. Justru perasaan kesalku kepada Bu Fatima yang malah mendominasi waktu itu.”
“O ya? kau yakin?”
“Arkhan, aku nggak suka berbohong. Aku bicara benar.” Zalfa tersenyum tipis. “Lagian, kenapa kamu mesti bertanya begitu? Faisal itu hanya masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku. Aku nggak perlu memikirkan dia.”
“Aku hanya nggak ingin di kepalamu masih terisi pria itu disaat kamu bersamaku. Dan aku juga nggak mau, disaat aku menyentuhmu, kamu membayangkan bahwa pria itulah yang sedang bercinta denganmu.”
“Arkhan!” Zalfa memukul dada keras Arkhan dengan tangannya kuat-kuat menghasilkan seringaian kecil di bibir Arkhan. “Aku nggak pernah terpikir hal itu. Bisa-bisanya kamu berpikir demikian?”
“Kamu dan pria itu menjalin hubungan sudah cukup lama bukan? Tentu kalian memiliki perasaan yang kuat.”
“Sejak tadi kamu bilang pria itu pria itu mulu, dia punya nama. Faisal namanya.”
“Tapi aku tidak suka menyebut namanya.”
Zalfa terkekeh kecil. “Kamu cemburu?”
“Entahlah. Aku hanya tidak ingin pria itu masih ada di pikiranmu.”
“Kamu yang membuat Faisal masih berada di antara kita, kamu yang sejak tadi nanyain dia terus.”
TBC
JANGAN LUPA KLIK LIKE
__ADS_1