
Sesampainya di rumah, Zalfa melihat seseorang yang berjualan minyak wangi sedang berbicara panjang lebar pada Mbak Yen, pria bertubuh tinggi besar dengnan penampilan ala-ala Arab itu menawarkan minyak wanginya dengan logat khas ke Arab-Araban. Tidak hanya logatnya saja yang seperti orang Arab. Mulai dari pakaian, wajah serta jenggotnya yang panjang dan lebat benar-benar khas Arab. Dia hanya sendiri, tapi untuk menawarkan satu merk minyak wangi kedengaran seperti sepuluh orang. Rame sekali.
Mbak Yen kelihatan bingung menanggapi si penjual, berkali-kali Mbak Yen hendak berbicara untuk menolak, namun si penjual lebih dulu bicara hingga niat Mbak Yen untuk menolak pun selalu terpotong ucapan si penjual.
Si penjual langsung mendekati Zalfa dan menawarkan parfumnya, menunjukkan berbagai jenis parfum miliknya.
Zalfa sebenarnya tidak ingin membeli parfum. Mencium aromanya saja untuk saat ini dia eneg sekali. Namun karena kasihan, Zalfa pun membeli lima jenis minyak wangi dan langsung membayarnya tanpa menawar. Si penjual segera pergi dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
“Ya ampun, itu orang dari planet mana ya, Non? Nyerocos terus. Saya baru ngomong satu, eeh dia udah ngomong seratus. Astaga…” Mbak Yen geleng-geleng kepala.
“Namanya juga orang jualan, ya harus cerewetlah biar dagangannya laku. Mbak Yen mau minyak wangi yang mana? Ambil dua!” Zalfa menawarkan sambil menunjukkan lima parfum yang dia beli tadi.
“E eh, serius nih untuk saya?”
“Iya.” Zalfa mengangguk.
Mbak Yen mengambil dua.
“Tolong yang parfumnya di bawa ke kamarku ya, Mbak,” pinta Zalfa sambil menyerahkan tiga parfum miliknya.
“Oke, Nona.” Mbak Yen membawa parfum milik Zalfa.
Zalfa menuju ke ruang makan. Dia tidak menemukan apa pun di meja makan. Tidak ada makanan, lauk atau sesuatu yang dapat mengenyangkan perut. Hanya ada buah-buahan di keranjang buah, serta makanan ringan di dalam toples.
Selama ini Zalfalah yang selalu rajin memasak, tapi akhir-akhir ini dia tidak lagi memasak karena perutnya tidak bisa diajak kompromi. Dia selalu mual setiap kali mencium aroma masakan, terutama bau bumbu dapur. Mbak Yen tentu saja tidak akan memasak jika tidak diperintah, sebab sejak awal keluarga Arkhan memang jarang makan di rumah.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Maria dan Elia selalu delivery atau makan di luar karena Zalfa memang tidak pernah lagi memasak.
“Zalfa, kau mau makan apa? Biar aku pesan makanan untukmu. Biasanya orang hamil makannya pilih-pilih,” ucap Maria yang baru saja memasuki ruang makan dan mendapati Zalfa berdiri di sisi meja makan.
“Nggak usah, Mama. Aku nggak berselera makan.” Zalfa tersenyum samar.
“Kau sudah makan apa belum? Kandunganmu perlu nutrisi, kau harus makan.”
“Aku belum lapar.”
“Apa kau masih memikirkan Arkhan?” selidik Maria.
“Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?”
“Arkhan pasti sanggup menjaga dirinya. Jangan terlalu kau pikirkan dia.”
“Apa kau menyesal hamil anak Arkhan?”
Zalfa tersentak mendengar pertanyaan itu.
“Sebab kau merasakan hamil di situasi seperti ini,” sambung Maria.
“Aku justru bahagia mendapat karunia anak. Dan inilah keturunan kami. Nggak ada yang disesalkan. Aku mencintai Arkhan, Mama,” jelas Zalfa tegas.
Maria akhirnya merasa lega. “Aku hanya takut kamu merasa kesal dengan situasi ini.”
__ADS_1
“Aku akan tetap menunggu Arkhan, meski dua puluh tahun lagi.”
“Terima kasih, Zalfa. Hatimu benar-benar mulia. Semoga Tuhan membalas kebaikan dan kesetiaanmu.”
“Jangan hanya karena aku nggak makan, Mama beranggapan aku meras ajemu dnegan rumah tangga ini. Kondisiku ini hanya karena aku sedang hamil muda, aku merasa kurang sehat sehingga nafsuku makanku juga hilang. Tadi di kafe udah minum jus. Kalau lapar, aku akan bikin makanan sendiri,” ucap Zalfa lembut.
“Baiklah. Jangan sampai kau merasa kelaparan dan kau biarkan perutmu dalam keadaan kosong.” Maria kemudian melenggang pergi setelah mendapat keterangan Zalfa.
BERSAMBUNG
.
.
POIN DWONGS BUAT ARKHAN YEEAA ,🥰
Maaf, cerita yang kuposting di instagramku mengenai Arkhan belum bisa posting hari ini. Kayaknya next part baru muncul. 😁😁😁
Follow instagramku @emmashu90
buat yg mau bocoran tentang kusah Arkhan
.
.
__ADS_1
.
.