SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
133.


__ADS_3

Seperti sudah memahami sebab kemarahan Arkhan, Reza dan Atifa tampak memucat ketakutan. Tanpa perlu penjelasan, Atifa dan Reza sudah tahu apa yang telah terjadi hingga menyebabkan kemarahan Arkhan mencuat. Kedekatan Atifa dan Reza tentu saja menjadi hal ganjil di pandangan Arkhan.


Atifa menjerit sangat keras melihat senjata api yang diarahkan kepadanya.


“Jangan, Bang!” seru Reza.


Arkhan tidak perduli, ia melangkah maju dan kemudian menekan pelatuk. Namun gerakan jarinya terhenti saat mendengar suar teriakan yang bersumber sari arah samping.


“Arkhan, jangan!”


Arkhan tidak menoleh, sorot matanya tajam tertuju ke arah Atifa. Ia sudah tahu siapa pemilik suara nyaring yang memanggil namanya itu meski ia tidak menoleh.


Zalfa yang baru saja turun dari mobil pun menghambur mendekati Atifa. Posisinya lebih dekat dengan Atifa sehingga ia memilih untuk mendekati kakak iparnya itu.


“Arkhan, jangan lakukan, aku mohon!” Zalfa memohon dengan ekspresi panik bercampur bingung. Kemarahan di wajah Arkhan terlihat meledak-ledak terbukti dari kulit wajah dan ekspresinya yang dipenuhi dengan angkara murka. Berbeda dengan Zalfa yang terlihat gugup dan cemas. Matanya berair dan keluar keringat dingin dari sekujur tubuhnya. Pelipisnya juga telah basah oleh peluh.

__ADS_1


“Jangan melarangku!” ujar Arkhan dengan suara bergetar.


“Aku mohon, jangan lakukan, Arkhan! Ingatlah ini resikonya besar,” seru Zalfa semakin panic.


“Biarkan dia merasakan akibatnya.”


“Baiklah, tembaklah sekarang!” Zalfa berdiri tepat di hadapan Atifa, menghalangi tembakan Arkhan. Andai saja Arkhan benar-benar menarik pelatuk, jelas dirinyalah yang tentunya akan tiada. Entah bagaimana kenekatan itu muncul begitu saja hingga ia berani berdiri menghalangi. Andai saja peluru melesat, andai saja Arkhan tidak mau mendengarkannya, maka habislah nyawanya. Dia tidak tahu apakah setelah itu dia benar-benar akan mati jika Arkhan sungguhan menekan pelatuk. Namun hanya satu keyakinannya, Tuhan ada bersamanya.


“Dia telah menjerumuskanmu, Zalfa. Dialah dalang dibalik penjebakan kita di hotel, ini pengkhianatan besar,” geram Arkhan.


“Menyingkirlah!” hardik Arkhan.


“Enggak!” Zalfa bertahan.


Suasana benar-benar terasa genting saat Arkhan akhirnya melangkah mendekat.

__ADS_1


“Jangan lagi membela wanita picik itu,” gertak Arkhan semakin emosi. “Aku akan menghabisinya. Beraninya dia mempermainkanku.” Arkhan sudah berada di hadapan Zalfa, kemudian ia menarik lengan wanita itu dan menyingkirkannya dari hadapan Atifa.


“Arkhan, jangan!” jerit Zalfa sambil memegangi lengan Arkhan yang menahan tubuhnya. “Ini bukan perkara pembelaan, tapi perkara dirimu. Jangan kotori tanganmu. Jika kamu sampai menembak Mbak Atifa atau bahkan melenyapkan nyawanya, lalu apa yang akan terjadi denganmu jika masalah ini sampai ke polisi? Kalaupun kamu berhasil menyembunyikan masalah ini dari pihak kepolisian, tapi Tuhan tidak. Tuhan akan menghukummu. Itulah yang menjadi alasanku menahanmu, bukan karena hal lain. Aku hanya peduli padamu.”


Sunyi.


Hanya hembusan angin lewat yang terdengar.


Zalfa menatap wajah Arkhan yang berada di dekatnya, urat rahang yang menegang tampak mulai rileks. Pria itu menoleh ke arah Zalfa. Sepersekian detik keduanya bertukar pandang. Kemudian Arkhan menoleh ke arah Reza.


Reza tampak memucat. Dan tubuhnya gemetar mendapat tatapan sadis dari bosnya.


Arkhan mengangkat lengannya dan mengarahkan pistol kepada Reza. Seketika itu tubuh Reza bergetar.


“Apa aku pernah main-main, Reza?” Suara Arkhan masih bergetar. Nada suara ditambah kalimat bernada ancaman itu membuat Reza semakin ketakutan. Arkhan berjalan mendekati Reza.

__ADS_1


TBC


__ADS_2