SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
215.


__ADS_3

“Abang benar. Aku sekarang bahkan menyesal, Bang,” ungkap Reza. “Aku menyesal. Jika saja aku keluar dari sini, aku berjanji tidak akan melakukan semua kejahatan yang pernah kulakukan. Aku juga nggak akan main perempuan lagi. Aku taubat, Bang. Aku sungguh-sungguh menyesal, hidupku jadi blangsatan begini dan berakhir di penjara seperti sekarang. Abang sudah larikan aku ke luar negeri, tapi tetap saja aku tertangkap di luar negeri dan dikembalikan ke negaraku sendiri dengan status ini.” Tangis Reza pecah. Badannya bergetar sesenggukan. Air matanya menetes. Kedua telapak tangannya mengusap-usap wajahnya yang basah. Berangsur punggungnya yang menyandar di dinding, melorot dan kini ia dalam posisi jongkok.


Arkhan ikut jongkok, mengamati tangisan Reza hanya dengan diam. Lebam di wajah Reza menjadi bukti betapa kerasnya kehidupan di penjara. Itu baru yang kelihatan saja, entah di bagian tubuh yang tak terlihat, mungkin ada banyak bekas luka.


“Aku akan usahakan supaya kau bebas, Reza.” Arkhan menepuk pundak Reza. “Kau harus bebas. Aku tidak masalah jika aku tetap di sini.”


Reza menatap Arkhan. “Enggak, Bang. Kalau aku bebas, kau juga harus bebas.”


“Otak dari hecker adalah aku, kau hanya asistenku. Hukumanmu juga tidak seberat aku.”

__ADS_1


“Aku masih lajangan, dan tidak ada orang yang membutuhkanku di luaran sana. Aku hidup sendiri dan aku juga bebas. Sekalipun aku mati, tidak akan ada yang menangisiku. Sementara Abang? Pikirkan istrimu, Bang. Dia pasti juga membutuhkanmu. Kamu harus ebbas. Pikirkan cara supaya kau bisa bebas dengan cara baik-baik.”


Arkhan menghela nafas. Zalfa. Nama itu terlukis di benaknya. “Aku bisa apa untuk membebaskan diriku sendiri? Apa kau ingat dengan hecker dari Palestina yang pernah meretas bank Amerika dan bank-bank besar dunia? Dia ditangkap di luar negaranya dan dijatuhi hukuman enam puluh lima tahun serta denda yang tidak sedikit. Bahkan pada akhirnya rumor yang beredar menyatakan kalau dia dijatuhi hukuman mati. Aku sudah merasa mendapatkan hukuman ringan dengan vonisku ini. Apakah mungkin akan ada jalan untukku keluar?”


“Abang jangan pesimis. Zalfa kan wanita solehah, dia pasti mendoakanmu setiap shalat tahajud. Dia pasti meminta hal yang baik-baik untukmu. Tuhan Maha Besar, bukan mustahil keajaiban akan datang untukmu atas berkah doa-doa istrimu.”


Arkhan diam saja.


“Tidak. Dia tidak meninggalkanku. Dia sangat setia padaku.”

__ADS_1


“Lalu kenapa wajah Abang berubah saat kusebut nama Zlafa?”


“Aku tidak yakin akan ada keajaiban untukku. Kau tahu seberapa banyak orang yang sudah kuzolimi? Banyak. Meski Zalfa mendoakanku, sampai air matanya kering sekali pun, keajaiban itu tidak akan pernah ada untuk manusia sepertiku.”


Reza tidak lagi bisa bicara banyak. Dia juga kurang memahami soal itu.


“Sekarang ini, kau hanya perlu merencanakan sesuatu untuk bisa bertahan hidup di sini. Pertama, jika kau merasa akan terjadi sesuatu yang tidak beres, jangan berpikir panjang, langsung pergi dan cari tempat aman. Hormati saja narapidana lain. Jangan menghina kejantanan siapa pun kecuali kau ingin masuk rumah sakit, sel isolasi, atau kuburan. Jangan memotong antrian di kantin, bisa-bisa kau disela, mengalah saja. Hindari kekerasan sebisa mungkin, kecuali jika kau dihina, jangan diam. Karena jika kau dihina dan diam saja, berarti kau pengecut. Intinya, ramah, dan hargai semua orang.”


“Baik, Bang.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2