
Zalfa menatap jam dinding yang terpajang di kamar dekat televisi, sudah pukul satu dini hari. Arkhan belum pulang. Keresahan Zalfa semakin meningkat. Bukan resah karena cemas memikirkan kondisi Arkhan yang tidak ada kabar, melainkan resah menanti saatnya pertemuannya dengan Arkhan yang akan dia tanyai mengenai retasan Bank, juga perdagangan narkoba. Sungguh, Zalfa tidak bisa tenang dengan masalah besar yang dihadapi suaminya. Arkhan sungguh telah melakukan dosa besar dengan pekerjaannya itu.
Dentang jam terus berputar dan batang hidung Arkhan belum juga muncul. Entah sudah berapa kali ia berdiri dan duduk, kemudian mondar-mandir dan kembali duduk lagi.
Ya ampun Arkhan, sampai jam berapa kamu pulang? Ini sudah dini hari dan kamu belum juga pulang. Kamu lembur hanya untuk menherjakan perbuatan haram. Zalfa mengesah. Kini, ia duduk di sisi ranjang. Perasaannya seperti diobrak-abrik. Dia sudah tidak sabar ingin membahas masalah besar itu. Berapa lama ia masih harus menunggu lagi? Tidak, ia tidak bisa menunggu lagi, meski hanya beberapa menit saja. Sebab ini masalah besar, sangat besar dan menyangkut jutaan umat manusia. Bagaimana mungkin ia akan bisa menunda waktu untuk membahas perkara sebesar itu. Arkhan tidak hanya merugikan satu manusia, tapi bahkan jutaan manusia. Dia tentu akan memikul dosa besar atas perbuatannya itu. Ya, peretas bank dan pengedar narkoba. Dua jenis pekerjaan haram.
Deg!
Jantung Zalfa berdetak kencang melihat sepasang sepatu yang dia lihat dari celah bawah pintu. Itu pasti Arkhan. Tebaknya dalam hati. Dan benar, Arkhan menyembul masuk sesaat setelah pintu didorong dari luar dan terbuka.
Zalfa menatap pemampilan Arkhan yang masih sama seperti saat dia meninggalkan rumah.
Arkhan kembali menutup pintu dan berjalan ke tengah-tengah kamar sambil menatap Zalfa. Ia tetap terlihat rileks meski mendapati tatapan berbeda dari Zalfa. Ya, istrinya itu menatapnya dengan sorot mata tajam.
Zalfa berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha menguasai emosi. Dia sadar saat ini sedang berhadapan dengan sosok mualaf, tidak baik baginya menunjukkan emosi saat menyelesaikan masalah. Dalam kasus Atifa, Zalfa sungguh tak kuasa melawan emosi dalam dirinya karena pengkhianatan Atifa sudah benar-benar kelewatan dan pantas mendapat perlakuan tersebut. Sebab wanita yang berselingkuh adalah seburuk-buruknya wanita. Berbeda hal dengan Arkhan, pria itu tidak berkhianat, tidak berselingkuh. Pekerjaannyalah yang haram dan butuh bimbingan untuk diluruskan.
__ADS_1
“Arkhan, dari mana aja kamu?” Tanya Zalfa masih dengan ekspresi yang sama. Mengenai perkara sebesar itu, Zalfa tidak mau menunggu beberapa saat lagi untuk membahasnya. Ini genting dan tidak bisa dinegosiasi. Mana mungkin ia bisa duduk tenang dan menunda waktu.
Arkhan melepas kemeja dan kaos dalamnya hingga membuat tubuh six packnya terpampang. Ia meraih handuk lalu menyampirkannya ke pundak. “Jam segini kamu belum tidur dan menungguku hanya untuk menanyakan ini?”
“Ya. Aku butuh jawabanmu,” tegas Zalfa. Nada bicaranya yang tegas tentu jauh berbeda dari biasanya, membuat Arkhan mengerti bahwa wanita itu sedang memendam kekesalan. Dan tentu saja ekspresi wajah Zalfa juga menjadi saksi kekesalannya itu. Namun Arkhan tidak mau ribut.
“Aku mau mandi.” Arkhan melangkah menuju kamar mandi. Namun ia terkejut saat tiba-tiba Zalfa sudah menghadang di hadapannya hingga membuat gerakan tubuhnya terhenti.
“Aku sedang bicara denganmu. Tolong jawab!” tegas Zalfa lagi dengan tatapan nanar. Apakah mungkin ia masih bisa memberi waktu Arkhan mandi disaat begini? Bahkan meski Arkhan dalam posisi sedang makan pun, Zalfa tetap akan langsung membahasnya. Jika hanya urusan kecil, mungkin Zalfa masih bisa menunda waktu untuk bicara, tapi ini dua kasus besar yang dosanya juga tidak bisa ditunda. Ya, peretas bank dan pengedar narkoba adalah dua kegiatan bermuatan dosa besar. Zalfa tidak bisa main-main dengan urusan itu.
“Apa aku terlihat seksi saat begini, hm?” Arkhan melirik sekilas ke arah dadanya yang polos. “Dan kau menginginkan ‘itu’?” Arkhan merapatkan tubuhnya ke permukaan tubuh Zalfa dan langsung ditolak oleh Zalfa dengan cara mendorong dada pria itu. namun gerakan Zalfa kalah cepat karena Arkhan sudah lebih dulu melingkarkan lengannya ke punggung Zalfa hingga posisi tubuh Arkhan tidak bergerak dari semula.
“Bukan ini mauku,” seru Zalfa geram.
“Lalu? Apa, hm?” Arkhan sangat mengerti kalau Zalfa tidak sedang memancingnya untuk bermesraan, Arkhan sengaja melakukan hal ini untuk mengalihkan pembicaraan. Sebab ia tahu kemana arah pembicaraan yang dibawa oleh Zalfa. Tentu seputar penyelidikan tentang pekerjaannya.
__ADS_1
“Aku sedang bicara hal penting dan jangan bercanda. Lepasin!” titah Zalfa melotot.
Arkhan tersenyum samar. Ia memajukan wajahnya dan mendaratkan ciuman ke bibir Zalfa namun hanya mengenai pipi karena Zalfa mengelak dengan cara menoleh ke arah samping.
“Katakan, kemana kamu tadi pergi? Apa yang kamu lakukan? Jawab aku!” Zalfa kembali memusatkan arah pembicaraan. Siapa pun wanita yang masih bisa tenang saat mendengar suaminya bekerja haram, berarti psikisnya perlu dicurigai. mungkin dia tidak waras, dan Zalfa sangat waras, juga sangat takut dengan dosa.
“Apa maksudmu menginterogasiku, begini?” Arkhan menaikkan alis.
“Aku istrimu. Aku ingin tahu kegiatanmu. Kamu pulang di waktu yang nggak wajar begini, bagaimana mungmin aku emmbiarkannya. Aku bahkan nggak tahu apa yang kamu kerjakan di luaran sana!”
Arkhan tersenyum sinis. Ekspresinya mulai tak bersahabat. “Jangan menganggapku seperti anak kecil. Lagi-lagi kamu menanya-nanyaiku begini. Kemana aku pergi, apa yang kulakukan, dengan siapa aku bepergian? Dan apa lagi? Aku suamimu, bukan anakmu. Jadi jangan berpikir sedangkal itu.” Arkhan mengendurkan pelukan.
Zalfa memundurkan tubuhnya hingga terlepas dari lengan Arkhan. “Apa perlu aku langsung menuduhmu? Enggak, Arkhan. Saat inilah aku butuh kejujuranmu.”
TBC
__ADS_1