SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
280.


__ADS_3

Zalfa meraih ponsel, ia mengernyit kaget melihat nomer yang menelepon. Ustad Bukhori. Segera Zalfa menjawab telepon dengan salam dan langsung dijawab salam pula oleh Ustad Bukhori.


“Ada apa menelepon saya jam segini, Ustad?” tanya Zalfa.


“Maaf sudah membuatmu bingung dengan munculnya telepon saya malam ini. Saya bahkan sampai tidak sadar jika sekarang ini sudah beberapa jam melewati isya, saya kira masih jam delapan.”


Zalfa tersenyum tipis, mengingat Ustad Bukhori yang gemar berdzikir sampai terkadang lupa waktu. Zalfa merasa terhormat mendapat telepon secara langsung dari Ustad kondang itu, biasanya asistennya yang menelepon untuk kepentingan apa pun. Namun kini Ustad Bukhori langsung yang menelepon.


“Bisakah saya berbicara dengan Arkhan, suamimu?” Tanya ustad Bukhori.


“Bisa, Ustad. Sebentar biar saya bangunkan dulu suami syaa.”


“Oh… Tidak perlu! Jadi suamimu sudah tidur? Kalau begitu saya berbicra denganmu saja, besok kamu sampaikan kepadanya.” Ustad Bukhori tidak ingin mengganggu istirahat orang lain.


“Baik, Ustad.”

__ADS_1


“Apakah suamimu ada menerima surat undangan dari saya?”


“Sepertinya tidak, Ustad.”


“Saya juga sudah menduga, sebab saya tidak mendapat tanggapan dari Arkhan. Sepertinya surat yang saya kirimkan tidak sampai karena salah alamat, mungkin terkirim ke alamat rumahmu yang lama.”


“Oh… saya memang sudah pindah rumah.”


“Ya sudahlah, saya bicarakan saja via ponsel. Jadi begini, Zalfa. Besok akan ada acara pengajian Al-Qur’an berskala besar, yaitu pertemuan keagamaan massal yang diadakan di seluruh negeri, disertai dengan khutbah, zikir dan dakwah dengan mengumpulkan ribuan peserta. Akan ada banyak acara yang berlangsung. Ribuan santri dan santriwan dari beberapa pondok pesantren juga akan berkumpul di sana nantinya, anak-anak yatim, serta dari kalangan umum. Saya ingin supaya Arkhan hadir dan menjadi qori di acara tersebut.”


“Alhamdulillah, ya Allah…” Zalfa terharu, tubuhnya yang mulanya terbaring pun kini sampai terduduk.


“Tidak masalah, ustad. Saya yakin suami saya pasti akan setuju. Pekerjaan apa pun akan dia tinggalkan demi penawaran yang sangat mulia ini. sungguh, ini sebuah kehormatan besar untuk kami.”


“Saya memilih Arkhan karena saya yakin Arkhan akan menjadi motivasi bagi jutaan orang di luaran sana. Dia mualaf yang sangat fasih dalam membaca Al Qur’an. Dan satu lagi, suamimu jangan dibangunkan jika hanya untuk membicarakan hal ini. saya takut istirahatnya justru akan terganggu dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Kamu bisa bicarakan besok pagi. Jika saja Arkhan bersedia, dia pasti akan datang. Kabari saya besok, ya!”

__ADS_1


“Baik, ustad.”


Pembicaraan disudahi dengan salam.


Zalfa menatap Arkhan yang sudah pulas. Dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin membicarakan perihal undangan qori kepada Arkhan, tapi dia ingat amanah Pak Ustad agar tidak membangunkan Arkhan. Zalfa pun membaringkan tubuhnya miring, menghadap Arkhan. Dia meletakkan tangannya ke lengan Arkhan dan mengusapnya pelan.


Usapan lembut tangan Zalfa membuat Arkhan menggeliat pelan.


“Mas Arkhan, kamu bangun apa Cuma menggeliat aja?” bisik Zalfa berharap Arkhan mendengar kata-katanya. Tapi dugaannya salah, Arkhan tidak merespon perkataannya. Pria itu tertidur pulas.


Uuugh… Zalfa benar-benar tidak sabar menunggu esok hari. Dia mengatur alarm di ponselnya pukul 03.30 am, berharap bisa bangun lebih awal sebelum subuh. Tentu saja dia juga akan membangunkan Arkhan pagi besok. Akhir-akhir ini Zalfa kesulitan bangun jika tanpa alarm, itu pun dengan nada dan volume tinggi supaya kenyenyakannya terganggu sehingga dia bisa cepat bangun.


BERSAMBUNG


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2