SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
142.


__ADS_3

Sembari menunggu masakan selesai, Arkhan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Ia menoleh ke samping, tepat ke meja makan yang telah dihidangkan semangkuk sop, sumber aroma sedap yang tercium adalah dari sop tersebut. Memang sejak Zalfa dalam proses memasak, aroma sudah tercium oleh Arkhan.


Arkhan mengambil garpu dan sendok di meja. “Ini untukku?” tanyanya sambil memasukkan sendok dan garpu ke mangkuk.


“Iya.” Zalfa duduk di sisi Arkhan sambil menaruh semangkuk sop lagi.


Arkhan mulai menyantap sop buatan sang istri. Ia berdecak kagum, ternyata si cantik mampu mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang sangat sedap dan menggoyang lidah.


“Gimana?” tanya Zalfa sambil mencermati ekspresi suaminya.


“Aku akan sering makan di rumah jika begini.” Arkhan terlihat menikmati. Kemudian ia menoleh menatap Zalfa yang malah hanya senyam-senyum. “Kenapa kamu tidak makan, bukankah itu sop milikmu?” Arkhan menunjuk mangkuk satunya dengan dagu.


“Iya, ini milikku. Tapi masih sangat panas.”


“Kenapa mangkukmu kecil?” Arkhan menatap mangkuk bergambar bunga warna biru milik Zalfa.


“Hanya ini sisanya,” jawab Zalfa.


“Kau masak sedikit sekali.”


“Kamu sendiri yang bilang kalau seluruh penghuni rumah ini jarang makan di rumah. Bahkan kamu juga dengar tadi kan kalau Elia juga nggak menyukai masakanku. Tentu hanya ini yang kubikin.” Zalfa tersenyum.


Arkhan tidak lagi menanggapi, ia terlihat menikmati makanannya.

__ADS_1


“Apa kamu masih mau nambah? Habiskan saja sop bagianku,” ujar Zalfa sambil menyorongkan mangkuk miliknya.


Arkhan menggeleng. Meski sebenarnya ia masih mau memakannya, namun ia memilih untuk menolaknya. Barangkali Zalfa juga ingin memakan hasil masakannya. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan isi mangkuk. Ia menyorong mangkuk ke tengah-tengah meja lalu meneguk air mineral yang sudah disiapkan oleh Zalfa.


“Sekarang aku mau pergi. Kau lakukan saja kegiatan yang menurutmu menyenangkan.” Arkhan bangkit berdiri.


Zalfa ikut berdiri dan mengikuti Arkhan yang berjalan menuju ke ruangan depan.


“Kamu nggak perlu ikut dneganku!” tegas Arkhan menoleh ke arah Zalfa.


“Aku hanya akan mengantarmu sampai ke depan.”


Arkhan memutar mata, ternyata dugaannya salah. Ia pikir Zalfa akan menguntitinya terus-terusan. Ia melirik Zalfa yang mengiringi langkahnya. Ia tidak menyangka jika ternyata kehidupannya benar-benar memiliki banyak perubahan setelah menikah dengan Zalfa. Lihatlah, ada sosok wanita yang mengantarnya sampai ke pintu depan saat ia akan bepergian. Perasaannya berbeda mendapat perlakuan tersebut. Jika dulu kehidupannya bebas dan bisa melakukan apapun dengan sesuka hati, kini Zalfa seperti rem yang membuat kebebasannya yang tanpa arah itu menjadi terarah.


“Hati-hati ya. Makasih untuk pagi ini. Jangan telat pulang, aku menunggumu,” ujar Zalfa dengan senyum lebar.


Arkhan malah terdiam menatap istrinya yang bersikap hormat padanya. Namun detik berikutnya ia mengangguk dan melangkah pergi. Ia memasuki garasi dan keluar menggunakan salah satu mobile lit miliknya.


Mbak Yen yang saat itu berada di halaman rumah pun terbengong melihat keromantisan yang diciptakan oleh Zalfa terhadap suaminya. Zalfa melempar senyum ke arah Mbak Yen saat menyadari kalau dia ternyata tidak sendiri, ada Mbak Yen yang tengah mengurus taman.


“Eh, Mbak Yen, itu airnya kok dibiarin?” Zalfa berlari mendekati selang air yang tergeletak di lantai halaman dengan bibir selang mengeluarkan semburan air. Ia meraih selang tersebut dan mengarahkan semburan air ke bunga-bunga yang menghias taman.


“Mm mm map eh maaf. Saking herannya ngeliatin Nona Zalfa sama Tuan Arkhan sampai-sampai lupa sama selang.” Mbak Yen ngeles. “Sini biar saya saja yang menyiram bunganya.” Mbak Yen menjulurkan tangan hendak mengambil alih tugasnya.

__ADS_1


“Nggak usah, Mbak. Biar aku kerjain aja. Ini menyenangkan.” Zalfa tampak bersemangat menyiram bunga-bunga tersebut.


“Jangan, Non. Nanti baju Non Zalfa kotor. Nona kan udah mandi, udah rapi, udah wangi lagi.” Mbak Yen merasa tidak enak hati.


“Udah, nggak apa-apa kok, Mbak. Aku seneng banget mengerjakan ini. Rasanya seger banget ngeliatin bunga-bunga yang disiram.”


“Beneran, nih? Takutnya gaji saya kena potong gegara kerjaan saya dikerjain Non Zalfa. He heeee…”


Zalfa tersenyum mendengar guyonan Mbak Yen. Wanita yang lidahnya kental dnegan logat Jawa itu pun sibuk memangkas bunga dengan gunting pangkas. “Non, saya lihat Tuan Arkhan akhir-akhir ini banyak perubahan.”


“Banyak perubahan gimana maksudnya?”


“Wah, pokoknya banyak perubahan deh semenjak beliau menikah dnegan Non Zalfa.”


“Memangnya dulunya Arkhan gimana?”


“Dulu, Tuan Arkhan itu jarang banget di rumah. Tuan Arkhan juga jarang bicara. Saya juga jarang banget mendengar suara Tuan Arkhan. Pokoknya suaranya itu udah kayak emas, deh. Susah nemunya.”


Zalfa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Mbak Yen ternyata lucu juga orangnya.


“Saya seneng banget ngeliat Non Zalfa yang ternyata membawa pengaruh besar dalam diri Tuan Arkhan. Karena saya sendiri jujur saja kurang mengenali Tuan Arkhan, dia orangnya kan tertutup dan pendiam, jadi berasa asing banget gitu. He heee… Lha wong saya juga bisa dibilang seminggu sekali mendengar suara Tuan Arkhan,” lanjut Mbak Yen.


TBC

__ADS_1


__ADS_2