
“Loh?” Zalfa membelalakkan mata saat menyadari rumah yang dia masuki berbeda, bukan rumah yang dia beli dulu. Dia sudah memasuki ruangan utama yang luas. “Ini rumah siapa?” Zalfa mengedarkan pandangan ke seisi rumah.
“Rumah kita,” jawab Arkhan sambil menuang air minum ke gelas lalu meneguknya.
Tak yakin, Zalfa pun melangkah ke luar, mengamati bangunan rumah dengan seksama. Jelas itu memang bukan rumahnya. Zalfa kembali masuk. “Jadi, ini rumah baru?”
“Ya,” jawab Arkhan dengan entengnya.
“Terima kasih Ya Allah. Karunia-Mu sungguh tidak terhingga.” Zalfa terharu.
Arkhan tertegun menatap keharuan yang tercipta di wajah Zalfa. Istrinya itu benar-benar merasa bersyukur.
“Lalu, Mama dan Elia mana?” Tanya Zalfa.
“Mereka sedang berkemas, mengangkut barang-barang dan semua keperluan kita dari rumah lama. Nanti mereka menyusul kemari.”
“Mas Arkhan!” Zalfa memegang lengan Arkhan dan menempelkan kepalanya di pundak pria itu.
Arkhan mengernyit melihat tingkah Zalfa yang berbeda, istrinya itu tampak manja.
“Kamu kan udah punya pendapatan yang wow dan lumayan nih, gimana kalau kita ajak Mbak Yen ke sini lagi untuk bantuin aku,” ucap Zalfa dengan nada manja. Dia menatap wajah datar Arkhan yang berjarak dekat dengan wajahnya. “Kamu tentu bisa menggaji dia kan? Aku nggak mungkin sanggup mengurus rumah ini sendirian.”
“Ya. kau ada nomer teleponnya, kan?”
“Ada.”
“Telepon saja dia.”
__ADS_1
“Oke.” Segera Zalfa menelepon Mbak Yen. Zalfa ingin memberi kabar gembira pada Mbak Yen atas keuangannya yang sudah kembali membaik, dan dia ingin berbagi dengan mbak Yen dengan kembali mengajak Mbak Yen tinggal serumah dengannya.
Zalfa duduk di sofa sambil menempelkan ponsel di telinga. Dia sudah tidak sabar ingin berbeicara dengan Mbak Yen.
“Halo!” suara di seberang menyahut. Bukan suara Mbak Yen, melainkan suara anak kecil.
“Halo sayang, ini siapa ya?”
“Anaknya Mamak,” ceplos si kecil yang mungkin usianya sekitar tujuh tahun.
“Ooh… Mamaknya mana? Kasih hp-nya ke mamak, ya!” lembut Zalfa gemas sekali mendengar suara anak-anak.
“Mamak lagi di kamar mandi ngambilin air hangat untukku mandi. Aku sedang sakit, jadi mamak mengurusku.” Suara anak itu terdengar tidak bersemangat.
Zalfa terdiam.
Zalfa mengenal suara itu, tak lain suara Mbak Yen.
“Mbak Yen, masih ingat denganku?” sahut Zalfa dengan riang.
“Tentu. Nomernya saja masih saya simpan. Ada apa Non Zalfa?”
“Mbak Yen, sekarang perekonomian kami udah kembali membaik. Mbak Yen mau ya kembali tinggal bersama kami? Bantu-bantuin aku di rumah kayak dulu lagi,” bujuk Zalfa.
“Mm… Bukannya menolak Non. Tapi maaf, anak saya sakit. Saya harus merawat dan menjaganya. Saya juga tidak tahu sampai kapan saya begini, jadi saya lebih baik memilih untuk berada di sisi anak saya.”
Zalfa merasa sedih mendengar pengakuan Mbak Yen. Kasihan sekali Mbak Yen.
__ADS_1
“Kalau begitu Mbak Yen, bawa anaknya Mbak Yen saja kemari, biar anak Mbak Yen bisa sekalian menjaga anak Mbak Yen di sini,” sambung Zalfa yang tidak ingin mengganti mbak Yen dengan orang lain.
“Maaf Non, saya kan juga punya suami. Suami saya mau ditarok mana jika saya membawa serta anak saya. Selama ini kan suami saya berahan di rumah, kerja di kampung karena ada anak. Lah, kalau anak pun saya bawa ke kota, suami saya pasti nggak ijinkan.”
“Ooh… Ya udah deh, Mbak.”
“Non jangan marah, ya. saya minta maaf.”
“Nggak masalah. Aku nggak apa-apa, kok. Aku doain semoga anak Mbak lekas sembuh.”
“Aamiin. O ya, kalau Non mau, saya punya saudara. Dia orangnya baik dan penurut. Nggak jauh bedalah sama saya. Kebetulan dia sedang butuh pekerjaan, nanti biar saya suruh bekerja di rumah Non saja, bagaimana?” Mbak Yen menyampaikan ide.
“Ooh… Boleh. Boleh banget, Mbak. Sekarang aku sedang hamil muda, jadi butuh orang untuk membantu di rumah.”
“Oke, Non. Nanti saya kabarin ke Non. Tapi saya yakin dia akan mau bekerja di rumah Non. Orangnya baik banget, kok.”
“Ya. Aku percaya sama Mbak Yen. Kirim aja rekeningnya biar kutransfer uang untuk ongkos.”
“Siap, Non.”
Zalfa menyudahi pembicaraan.
TBC
.
.
__ADS_1
.