
Arkhan menghela nafas kesal. Urat-urat dipelipisnya pun mencuat. “Aku tidak suka didikte apa lagi diperlakukan seperti anak kecil, yang aktifitas dalam keseharianku harus dibaca oleh orang lain. Paham?”
“Aku ini istrimu. Harus berapa kali aku mengatakan ini? Aku sangat ingin tahu seluruh kegiatanmu agar kita bisa bersama-sama menuju ke jannah-Nya. Bukan hanya aku yang akan bertemu dengan Rabb-ku, tapi juga suamiku. Apa ini bukan bukti cintaku ke kamu? Aku sangat ingin kamu dan aku berada di surga, oleh sebab itu aku nggak mau kamu melakukan hal-hal buruk.”
“Ya, suamimu ini buruk. Pekerjaannya meretas bank, jual beli narkoba dan mengoleksi barang-barang mewah. Dari semua itu, satu pun tidak ada yang menghasilkan amal baik. Ya, aku ini buruk,” jawab Arkhan dengan nada bicara sangat rendah.
Zalfa terdiam. Ternyata berbeda rasanya saat mendengar pengakuan Arkhan tanpa harus menuduh pria itu. Jika tadi ia sempat merasakan sleuruh organ tubuhnya yang mendadak lemas saat mendengar penjelasan tentang pekerjaan Arkhan melalui mulut orang lain, tapi sekarang tidak. Ia justru merasa puas. Arkhan akhirnya jujur padanya.
“Kamu tahu, bahkan nggak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan pada keburukan. Lalu kenapa kamu lakukan itu? kamu tahu kalau perintah dalam semua agama melarang kejahatan, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru melanggar larangan ini,” ucap Zalfa, kali ini dengan nada lembut. Tanpa terasa air matanya menetes-netes. Entah kenapa ia merasa sedih sekali. Ia kemudian melangkah maju, telapak tangannya diletakkan diatas dada polos pria itu dan mengelusnya sebentar. “Di sini, di hatimu pasti juga tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah kesalahan besar, lantas kenapa masih juga kamu lakukan?”
Arkhan menatap setiap tetes-tetes air mata yang menetes di pipi bening Zalfa. Gurat kesedihan jelas terpancar dari wajah istrinya itu.
“Aku sedih, Arkhan. Aku sedih karena kamu melakukan ini. Jika polisi mengetahu kasusmu dan hidupmu berakhir di dalam bui, lalu harus dengan siapa lagi aku mengadu? Aku hanya mencintaimu dan nggak mau berpisah darimu. Kumohon, hentikan semua ini. Tinggalkan pekerjaanmu itu.” Zalfa menatap lekat manik mata Arkhan.
“Sebesar itu cintamu pada penjahat sepertiku?”
“Ya. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu. Kamu tetaplah Arkhan-ku, dan hanya pekerjaanmulah yang haram. Aku sangat mencintaimu sehingga aku takut kamu terseret ke neraka. Jadi satu permohonanku, jangan biarkan dirimu menebus dosa itu dengan merasakan panasnya api neraka.”
__ADS_1
“Neraka? Jika surga dan neraka tidak ada, apakah kau juga tetap akan takut dosa?”
Deg! Jantung Zalfa berdetak keras. Pertanyaan Arkhan cukup membuat batinnya kebas.
“Kamu sangat fasih membaca ayat-ayat Tuhan. Apakah kamu nggak meyakininya?” lembut Zalfa masih dengan tetes-tetesan air mata.
“Berikan satu hal saja agar aku juga bisa mempercayainya,” bisik arkhan sambil mengusap air mata di pipi Zalfa.
“Cukup Al Ikhlas menjadi satu pedoman. Dia-lah yang Maha Esa dan nggak ada sesuatu yang setara dengan Dia. Bertanyalah pada hati kecilmu, apakah nggak cukup peringatan yang telah ditunjukkan di muka bumi ini?” Zalfa menjatuhkan kepalanya di dada Arkhan. Memeluk pria itu erat. “Tuhan itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dengan urat leher. Yakinilah hal ini, lalu mintalah pada Tuhan apapun itu. Perccayalah, Tuhan akan menunjukkan kebesaran-Nya. Disaat kamu meyakini adanya Tuhan, tentu kamu juga akan meyakini segala perintah, larangan serta kehidupan seteah kematian yang tertulis dalam ayat-ayat suci.”
“Aku sudah melakukan banyak dosa, apakah Tuhan masih mau mengampuniku?”
“Sungguhpun kamu melampaui batas atas dirimu, janganlah berputus asa dari menggapai kasih sayang-Nya. Dia maha pengampun dan Maha Penyayang,” bisik Zalfa sambil menarik wajah Arkhan yang lebih tinggi darinya agar menunduk, lalu menyatukan kening mereka. Air matanya tak henti berderai.
“Jangan menangis. Aku tidak ingin kau menangisi seorang yang jahat.”
“Bagaimana mungkin aku nggak menangis? Aku takut suamiku dilaknat karena perbuatannya yang sudah tahu dosa namun masih dikerjakan.” Zalfa mengelus caruk leher Arkhan dengan kedua tangannya yang kini berada di sana. Bibirnya dengan lembut memberikan ciuman singkat di setiap inchi wajah Arkhan. “Setiap anak Adam pasti melakukan dosa, baik dosa besar maupun kecil, bahkan dosa-dosa besar yang kasat mata, tapi Tuhan mengampuni segala bentuk dosa dengan syarat bertaubat. Menghadaplah pada Tuhan meski dengan tumpukan dosa yang menggunung! Jika kita bertaubat, maka dosa-dosa kita akan lebur. Ada banyak ayat mulia yang mengabarkan bahwa Tuhan akan mengampuni dosa-dosa orang yang bertaubat. Aku juga manusia biasa yang berharap perbaikan meski terkadang selalu saja melanggar larangan Tuhan dalam khilaf. Tapi kita tetap harus belajar untuk menuju kebaikan. Ayo Arkhan, kita bersama-sama mengubah akhlak. Aku juga belajar, sama sepertimu.”
__ADS_1
Arkhan hanya diam.
“Arkhan!” bisik Zalfa memanggil nama itu.
Arkhan memundurkan tubuh Zalfa hingga pandangan keduanya berjarak. Zalfa mengernyit menatap ekspresi dan tatapan mata Arkhan yang berbeda. Manik mata pria itu bergerak-gerak tak menentu, Zalfa tidak mengerti dengan arti tatapan pria itu. apa yang sedang dipikirkan Arkhan?
Untuk satu menit keduanya terlibat adu pandang tanpa sepatah kata. Kemudian Arkhan melempar handuk ke sembarang arah dan meraih kemeja dari lemari. Ia melenggang pergi sambil mengenakan kemeja tersebut.
“Arkhan!” panggil Zalfa bingung melihat kepergian Arkhan. Ekspresi wajah Arkhan yang sulit ditebak, membuat Zalfa tidak mengerti apa yang sedang dirasakan pria itu. Apakah pria itu sedang marah, kesal, benci karena merasa digurui, atau apa?
“Jangan panggil aku!” seru Arkhan dan menghilang dari pandangan.
Zalfa mengejar keluar namun Arkhan sudah tidak terlihat. Pria itu berlalu begitu cepat. Zalfa memegangi pagar balkon sambil mengusap air mata yang menganak sungai. Ya Tuhan, apa yang ada di dalam pikiran Arkhan?
BERSAMBUNG
Maaf kalau ketikanku banyak typo, harap maklum. Soalnya aku ketik langsung posting tanpa pengeditan. Ini kulakukan demi kalian supaya kalian nggak kelamaan nunggu update. Hyeeeng…
__ADS_1
Jan lupa follow instagramku @emmashu90
Sekali lagi, berikan dukungan cerita ini dengan memberikan POIN.