
Tak sampai lima belas menit, Arkhan sudah sampai di kafe tempatnya akan bertemu dengan Zalfa. Ia menunggu di salah satu meja. Sebuah pesan masuk membuat jemarinya cekatan mmebuka isi pesan.
Someone
Secepatnya menikahlah dengan Zalfa kalau kau tidak mau menerima resiko
Arkhan meremas ponselnya geram. Mukanya memerah. Ingin ia membalas pesan tersebut, namun urung dan memilih mendelete-nya.
“Bang*at! Ini sudah yang kesekian kalinya dia mengancamku.” Arkhan mengumpat kemudian menarik gelas di hadapannya dengan gerakan kasar hingga menimbulkan bunyi deritan, gesekan antara gelas dan meja.
Arkhan mengangkat wajah saat kursi di depannya ditarik dan sosok wanita duduk di hadapannya. Tak lain Zalfa.
Zalfa terdiam sejenak menatap wajah Arkhan yang dipenuhi dengan emosi. Ada apa dengan pria itu? kenapa kedatangannya disambut dengan muka garang? Ah, muka Arkhan kan memang dingin, pria itu jarang tersenyum dan selalu sadis. Wajar saja dia begitu.
Dengan muka waspada, Zalfa bertanya, “Arkhan, hal darurat apa yang mau kamu omongin?”
Arkhan tidak menjawab, ia meneguk kopi panas miliknya. “Kau mau pesan minum apa?”
__ADS_1
“Aku nggak minum.”
Arkhan menatap wajah Zalfa. “Jangan terlalu tegang gitu, rileks aja!”
Zalfa menarik nafas. Ya ampun, Arkhan malah membahas kepanikannya. Ya, sejak di perjalanan, Zalfa merasa panik dan was-was gara-gara mendengar Arkhan bilang akan membicarakan hal darurat.
“Kita pesen makan dulu aja,” ujar Arkhan ketika seorang pelayan menghampiri.
“Mau pesan apa, Nona?” pelayan menyodorkan kertas menu makanan.
Zalfa berpikir. Kok Arkhan malah nyantai gitu? Katanya tadi darurat. Tau gitu aku nggak terburu-buru.
Zalfa akhirnya mengalah, terpaksa ia harus memesan, minimal minuman saja. Ia menunjuk jus jeruk. Pelayan langsung pergi.
“Kapan kita menikah?” tanya Arkhan tanpa berbasa-basi.
Zalfa mengernyitkan dahi. Kenapa tiba-tiba Arkhan yang terlihat terburu-buru ingin menikahinya? Padahal sejak awal Arkhan selalu menolak saat Ismail memaksanya untuk menikah.
__ADS_1
“Lebih cepat lebih baik, sebelum bisa dipastikan apakah ada janin dalam rahimku atau enggak,” jawab Zalfa.
“Kalau begitu tiga hari lagi kamu yang atur tempat dan keperluan untuk ijab qobul kita. Soal dana, aku yang urus.”
Tiga hari? Arkhan bercanda atau apa? Zalfa semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria dingin di hadapannya itu.
Seorang pelayan meletakkan pesanan. Jus jeruk untuk Zalfa dan chicken katsu untuk Arkhan.
Arkhan segera menyantap hidangannya. Sementara Zalfa menyedot jusnya. Zalfa menunggu Arkhan hingga selesai makan. Pria tampan itu menyingkirkan piring kosong miliknya ke tepi, lalu menyesap kopi. Setelah itu ia meraih kotak merah berukuran sangat kecil yang sejak tadi sudah bertengger di atas meja dekatnya. Lalu menyorongnya ke arah Zalfa dan membukanya. Sebuah cincin berlian terlihat indah memantulan sinar yang seakan menyala-nyala.
Ini artinya Arkhan sedang melamar? Zalfa semakin gugup. Kenapa mendadak gugup begini? Tadi tidak apa-apa.
“Bukankah dalam ta’aruf nggak butuh berpacaran untuk mengenal satu sama lain? Aku udah mengenalmu. Kamu juga udah mengenalku luar dan dalam.”
Kalimat apa itu? luar dan dalam? Zalfa mulai kesal mendengarnya. Ia menggelengkan kepala pelan. Arkhan berkata demikian seakan dia adalah seorang muslim. Kenapa Allah mempertemukan Arkhan padanya? Semakin ke sini, kenapa Zalfa menjadi ragu? Apakah ini karena hatinya masih terpaut pada sosok Faisal?
TBC
__ADS_1