SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
192.


__ADS_3

Zalfa terdiam saat pandangannya mendapati sosok pria berdiri di ambang pintu, tak lain Arkhan. Acara ijab qobul sudah selesai dan Arkhan baru muncul. Uuugh…


Untung saja di rumah itu sedang ada banyak tamu, sehingga Zalfa merasa harus bersikap sopan. Kalau tidak, Arkhan benar-benar sudah dijewer olehnya.


Melihat Arkhan yang sepertinya sedang kebingungan harus menuju kemana, Zalfa pun berjalan mendekati Arkhan.


“Baru datang?” geram Zalfa.


“Ya,” singkat Arkhan seperti tanpa dosa.


“Mama sama Elia mana?” ketus Zalfa.


“Elia sakit. Mama menjaganya di rumah.”


Ooh… Pantesan Maria dan Elia tidak muncul. Ternyata Elia sakit. Pikir Zalfa.


“Ya udah, masuk!” ucap Zalfa dengan nada tak bersahabat, sebagai bentuk wujud kekesalannya atas keterlambatan Arkhan. Zalfa balik badan hendak langsung pergi. Namun tangannya ditarik oleh Arkhan hingga membuat langkahnya terhenti dan badannya setengah berbalik.


“Dimana aku harus duduk?” Arkhan mengedarkan pandangan pada lantai ruangan utama yang dipadati oleh manusia, tidak ada lagi tempat kosong untuknya


Zalfa mengikuti arah pandang Arkhan. Kemudian keduanya bertukar pandang. Arkhan menaikkan alis.


Kasihan, Zalfa pun melangkah masuk melewati pintu samping dan Arkhan mengikutinya. Mereka melintasi para ibu-ibu yang sedang sibuk di ruangan tengah mengurus makanan.

__ADS_1


Salah seorang ibu menyeletuk, “Itu suaminya Zalfa? Ganteng ya? Cakep banget.”


“Gantengan ini sama Faisal, calonnya Zalfa yang nggak jadi itu.” ibu yang lain menyeletuk.


Telinga Zalfa terasa risih mendengar celetukan yang saling berbalas. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya diam. Kulitnya meremang menyadari sorot mata Arkhan yang tertuju ke arahnya di sepanjang mereka berjalan sejak pembicaraan ibu-ibu itu.


“Duduk di sini aja.” Zalfa menunjuk lantai dekat pintu yang menghubungkan ruangan utama.


Arkhan terdiam menatap lantai.


Oh… Zalfa sadar jika Arkhan mungkin tidak pernah duduk lesehan di lantai saat mendatangi acara serupa. Tapi mau bagaimana lagi? Seluruh kursi sudah disingkirkan dari sana. Dan kini, lantailah yang menjadi tempat duduk.


Zalfa berusaha untuk tidak peduli pada raut wajah Arkhan yang bingung. Ia bergegas pergi meninggalkan Arkhan begitu saja.


Beberapa gadis menghidangkan makanan ringan di hadapan Arkhan.


“Silahkan mengambil nasi di sana, Mas. Prasmanan di sebelah sana!” salah seorang gadis yang bertugas menghidangkan makanan ringan pun menunjuk kea rah ruang utama tempat dimana lauk-pauk disajikan.


Arkhan mengangguk.


Dari kejauhan, tepatnya melalui pintu yang berjauhan, Zalfa mengintip Arkhan. Dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh pria itu saat berada di acara kekeluargaan begitu tanpa adanya dirinya di sisinya. Itulah hukuman bagi pria yang sengaja melupkan hari spesial.


Arkhan melihat-lihat makanan ringan yang dihidangkan. Tangannya menjulur mengambil air gelas dan meneguknya melalui sedotan. Ia juga mengelap keringat yang meleleh di pelipis dengan tisu yang disediakan. Entah sudah yang ke berapa kali ia mengelap keringat yang membanjir. Pria itu kemudian membuka kancing kemeja atasnya. Dia melihat-lihat ke dinding bagian atas, tidak menemukan AC.

__ADS_1


Sebenarnya Zalfa kasihan melihat Arkhan kepanasan karena tidak terbiasa dengan situasi itu, bahkan Arkhan juga terlihat tidak betah di sana karena bingung harus melakukan apa. Pria itu hanya diam saja, lirik sana lirik sini.


Arkhan meraih ponsel dan menempelkannya ke telinga.


Zalfa yang sejak tadi memantau setiap gerakan Arkhan, terkejut mendengar ponselnya berdering. Ternyata Arkhan meneleponnya. Zalfa sengaja tidak menjawab. Biarkan saja Arkhan kepanasan dan kebingungan sendirian di sana.


Zalfa melihat Arkhan kembali memencet ponsel dan menempelkan ke telinga, otomatis ponsel Zalfa kembali berdering.


Lagi-lagi Zalfa merasa iba, ia pun menjawab telepon. “Ada apa?”


“Apa yang harus kulakukan di sini?”


“Duduk aja di situ, yang penting hadir,” ketus Zalfa masih kesal.


“Aku pulang saja.”


“Kamu baru datang dan sekarang bilang mau pulang?”


“Zalfa, aku seperti orang hilang di sini.” Arkhan memutus sambungan telepon.


Zalfa buru-buru menemui Arkhan sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkan rumah. Ia berdiri di hadapan Arkhan yang saat itu berniat hendak pergi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2