
Langkah kaki Zalfa terhenti saat melintasi pintu kamar Maria. Dia mendengar suara seseorang membaca iqro’ dengan terbata-bata. Zalfa sangat mengenal suara itu. Maria. Zalfa membuka pintu kamar Maria, dia melihat Maria sedang membaca iqro, seperti sedang mempelajarinya. Satu hal yang membuat Zalfa merasa kagum, Maria membuka youtube untuk bisa belajar mengenal huruf hijaiyah. Ustad Bukhori terlihat sedang berteori memberi acuan dan panduan cara belajar membaca iqro’. Sekarang ustad Bukhori pun sudah memiliki akun youtube dan beramal dengan cara menyebarkan ilmu melalui sosial media dengan harapan bermanfaat untuk banyak orang, termasuk orang seperti Maria yang benar-benar membutuhkan guru untuk belajar mengaji.
Masyaa Allah… Zalfa menggumam kagum. Ia melangkah masuk, suara langkahnya membuat Maria menghentikan bacaannya dan menatap Zalfa yang tersenyum sangat manis meski wajahnya memucat karena kurang sehat.
“Aku sama sekali belum mengerti dengan bacaan ini.” Maria berceletuk saat dipergoki sedang terbata membaca iqro’.
Zalfa duduk di sisi Maria dengan seulas senyum lebar, betapa hatinya basah melihat ibu mertuanya memiliki hasrat untuk mendalami ilmu agama.
“Aku akan tunjukkan huruf-hiruf itu kepada Mama. Percayalah, mama akan dengan cepat mempelajarinya. Kita belajar bersama-sama, Mama,” tukas Zalfa dengan mata berkaca. Hatinya terharu.
“Sungguh? Kau mau mengajariku membaca Al Qur’an?” Maria sumringah.
“Sangat sangat mau. Aku justru merasa bersyukur Mama bersedia untuk mempelajari ini.”
__ADS_1
“Aku tadi mendengar kau mengaji. Dan aku sangat ingin bisa membaca Al Qur’an seperti tadi kau melakukannya. Pasti senang sekali jika bisa membaca dengan irama sebagus itu.”
Luar biasa, Maria terketuk untuk belajar mengaji meski di usianya yang sudah tidak lagi muda.
“Arkhan, putra Mama menjadi salah satu contoh mualaf yang dikagumi seantero negeri karena suaranya yang indah saat mengaji. Dia benar-benar luar biasa. Mama pun pasti bisa menjadi sepertinya. Kita bisa mulai kapan pun Mama mau. Sekarang pun boleh.” Zalfa bersemangat.
“Jangan sekarang. Kau belum sarapan. Aku tidak mau kau kenapa-napa. Aku tadi sudah menggoreng telur dadar. Kau mau memakannya?” Maria bangkit berdiri. “Si Yen tidak datang kemari, katanya dia sakit. Jadi aku memasak untukmu.”
Zalfa juga ikut berdiri. Dia menatap Maria ragu-ragu. Dia sungguh tidak menginginkan makanan yang digoreng, dia sekarang lebih suka makanan yang berkuah, entah apa pun itu jenis masakannya, yang jelas Zalfa merasa lebih menikmati makanan berkuah. Tapi apakah dia akan menyinggung maria jika menolak tawaran Maria? Ibu mertuanya itu sudah capek-capek masak, tapi malah ditolak.
“Ooh… Baiklah. Biar telur dadarnya dimakan oleh Elia. Kau mau makan apa sekarang? Apa perlu kubelikan di luar? Atau kau mau aku saja yang memasak?”
Penawaran yang memikat, Zalfa senang sekali mendengarnya. Hati Maria benar-benar mulia. Dia selalu berbuat baik kepada orang lain, memuliakan orang lain, tak peduli yang dia muliakan adalah menantunya sendiri. Ilmu itulah yang Maria terapkan dari ajarannya yang dulu sebelum dia menjadi mualaf, yaitu berbuat baik kepada sesama manusia. Sungguh beruntung Zalfa memiliki ibu mertua sebaik Maria.
__ADS_1
“Kita masak sama-sama aja di dapur, kita manfaatkan bahan yang ada,” ucap Zalfa.
“Kau yakin? Apa kau tidak merasa mual saat mencium aroma bumbu di dapur?” Maria mengernyit.
Benar apa kata mertuanya, Zalfa pasti merasa mual saat mencium aroma menusuk dari bahan-bahan di dapur. Tapi ia merasa sangat sungkan jika dia hanya berpangku tangan dan justru mertuanya yang melayaninya. Andai saja ibu kandungnya yang bersikap demikian, mungkin Zalfa akan merasa leluasa. Namun Zalfa lupa, bahwa Maria memperlakukannya sudah seperti anak kandung sendiri.
“Mama benar, ya sudah kalau begitu kita ke kafeku aja. Kita makan di sana. Pelayan di sana akan memasakkan makanan sesuai permintaan kita,” ajak Zalfa.
***
TBC
.
__ADS_1
.
.