
Setelah berdoa bersama-sama, semua orang menuju ke ruangan makan. Sudah ada sajian makanan lezat yang tersaji di meja makan. Zalfa memesan lauk pauk dari restoran.
Emy tampak sibuk menyuguhkan jus kepada semua yang mengisi kursi.
“Eh, Emy!” panggil Zalfa ketika melihat Emy melangkah pergi setelah menyelesaikan tugasnya. “Kamu mau kemana?”
“Ke belakang.”
“Kamu ikutan makan di sini. Jangan malah pergi.” Zalfa menarik kursi kosong di sisi Tini. “Ini kursi sengaja kutarok di sini untukmu. Kita di sini ada tujuh orang, aku udah menghitung jumlah orangnya. Kamu ikutan makan di sini, ya!” Zalfa merengkuh pundak Emy dan membimbing wanita itu supaya turut duduk di sana.
“Nggak usah, Non. Saya nggak enak. Saya makan di belakang saja,” kata Emy.
“Hei hei, jangan menolak. Ini perintah!” Zalfa menekan pundak Emy hingga membuat Emy terpaksa duduk di sana. Kemudian Zalfa memutari meja dan kembali duduk di kursinya, tepatnya di sisi Arkhan.
Seluruhnya pun mulai menyantap hidangan.
“Sst… sekeliling mulutmu belepotan!” bisik Arkhan kepada Zalfa.
Zalfa sontak mengambil tisu dan mengelap sekeliling mulut. Arumi yang duduk di sisi lain Zalfa, mengernyit melihat Zalfa sibuk membersihkan sekeliling mulut.
__ADS_1
“Apa masih ada sisa makanan yang menempel di mukaku?” bisik Zalfa ke arah Arumi sambil memperlihatkan sisi wajah di bagian kanan dan kiri.
“Sejak tadi aku nggak melihat mukamu belepotan, tuh,” balas Arumi yang juga berbisik.
Zalfa pun menoleh ke arah Arkhan. Dia menurunkan tangannya dari atas meja dan menyusup ke kolong meja, lalu mencubit paha Arkhan, matanya menatap Arkhan dengan tajam.
Arkhan hanya menaikkan alis tanpa memperlihatkan respon apa pun atas cubitan Zalfa. Seakan-akan cubitan itu tidak berarti apa pun bagi tubuhnya.
“Mulutku nggak belepotan, trus kenapa kamu bilang belepotan?” bisik Zalfa dengan sorot membunuh.
Arkhan malah tersenyum tipis.
Pergeseran kursi membuat sejurus pandangan tertuju ke arah Arkhan.
“Arkhan, kau kenapa?” tanya Soleh.
“Aku hanya terkejut saja, kupikir di bawah ada binatang apa menggerayangi pahaku, ternyata…”
“Ikat pinggangnya sendiri,” sahut Zalfa sebelum Arkhan menuntaskan kalimatnya. Setelah mengucapkan itu, Zalfa melirik Arkhan, membuat Arkhan semakin gemas melihat tingkah Zalfa yang akhir-akhir ini semakin menggemaskan. Dia paling suka melihat Zalfa merajuk kecil.
__ADS_1
“Arkhan, aku ingin tanyakan satu hal kepadamu,” kata Soleh selanjutnya.
“Tanyakan saja!”
“Apa perasaanmu saat tahu kalau Zalfa hamil?”
“Kau tidak akan mengerti meski kukatakan, sebab kau belum beristri. Menikahlah dulu, baru kau tahu apa yang sebanrnya dirasakan oleh pria saat istrinya hamil.”
Soleh mengangkat bahu. “Aku belum punya calon istri.”
“Bagi laki-laki soleh, pasti akan mudah menemukan wanita solehah. Mayoritas wanita menginginkan pria yang baik, bukan? Kau memiliki segalanya.”
“Aku tidak sebaik yang kamu duga. Berhenti memujiku, Arkhan. Aku takut hal itu justru akan bisa meruntuhkan imanku.”
Arkhan terdiam. Dia tidak mau berkomentar lagi. Dia sangat mengenal Soleh, pria yang sejak dulu pantang dipuji.
Makan malam disudahi dengan hamdallah dan seluruhnya pulang. Kecuali Soleh yang saat itu ingin mengobrol dengan Arkhan. Para pria tampan itu duduk di kursi teras bersisian dibatasi oleh meja kecil dengan ditemani kopi hangat. Entah terbuat dari apa usus Arkhan, meski sudah makan dan ditambah dengan jus pun, sekarang masih harus mengopi pula.
BERSAMBUNG
__ADS_1