
“Ayo, pulang!” ajak Arkhan.
Zalfa mengangguk. Baru selangkah berjalan, dia berhenti saat melihat sosok yang duduk di kursi tunggu sendirian tanpa suami, tak lain Tini.
“Loh, Mbak Tini di sini?” Zalfa menghampiri Tini. Meski usia Tini jauh lebih muda, tentu Zalfa harus membiasakan diri memanggil Tini dengan Mbak karena wanita itu kini sudah menjadi kakak iparnya.
Tini tersenyum girang kemudian bangkit berdiri.
Dengan raut gembira, Zalfa memeluk Tini sebentar sambil cium pipi kiri dan kanan.
Sungguh Tini merasa bahagia sekali mendapat perlakuan sebaik itu dari Zalfa, sosok yang dulu adalah majikannya. Kini tidak ada lagi istilah asisten rumah tangga dan majikan. Tidak ada dinding pembatas diantara keduanya, mereka seperti bertemu dengan saudara.
Arkhan mengernyit menatap Zalfa memeluk wanita yang tadi seperti reporter, sibuk menanyainya terus. Dan siapa tadi? Jadi, wanita itu adalah Tini? Kakak iparnya Zalfa yang juga merupakan iparnya juga? Arkhan memalingkan pandangan saat netranya bertemu dengan Tini. Pantas saja Tini sok kenal padanya, eh bukan sok kenal, tapi memang mengenalinya. Wajar saja Arkhan kurang mengenal wajah Tini, dia hanya sekali bertemu dengan Tini, itu pun wajah wanita itu dipoles dengan make up tebal. Kini Arkhan merasa canggung sendiri karena sudah bersikap tidak menyenangkan terhadap Tini yang telah berusaha untuk bertegur sapa dengannya tadi.
“Mbak Tini ngapain di sini? Mau cek kandungan, ya?” tebak Zalfa.
“Iya.”
“Alhamdulillah… Jadi Mbak Tini juga hamil?”
“Begitulah. Kamu akan punya keponakan. Ini udah lama kami nantikan. Syukurlah doa-doaku terkabul.” Raut wajah Tini tampak sangat gembira.
“Aku tadi sempat mengobrol dengan Arkhan, tapi aku nggak sempet menanyakan tentangmu,” ucap Tini sambil menatap Arkhan.
Yang ditatap hanya menaikkan alis kemudian memalingkan pandangan ke arah lain.
“Udah berapa bulan, Mbak?” Tanya Zalfa sambil melirik perut Tini yang sudah membesar.
__ADS_1
“Masuk tujuh bulan.”
“Wah, nggak lama lagi lahiran, dong!”
Tini mengangguk dengan senyum lebar.
Zalfa melirik ke kiri kanan, mencari-cari sesuatu. “Mbak sendirian? Mas Ismail mana?”
“Ada, kok. Tadi ke toilet, katanya mau buang air besar.”
“Haduh, kebiasaan deh itu Mas Ismail suka lama kalau udah bertapa di WC.”
Tini tergelak diikuti dnegan tawa Zalfa.
Arkhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal menatap Zalfa dan Tini yang keasikan mengobrol. Ugh… beginikah wanita jika sudah bertemu dnegan wanita yang lain? Enak sekali ngerumpi. Bahkan Arkhan yang sejak tadi berdiri di sana pun dikacangin. Sepertinya Zalfa lupa jika dia tidak sendiri, dia bersama dengan suaminya.
Zalfa yang masih asik mengobrol dengan Tini pun kurang begitu mendengar ajakan Arkhan. Perasaan bahagia dalam diri Zalfa membuncah begitu bertemu dengan Tini. Setelah dia mendapat kabar baik tentang dirinya yang sekarang sudah hamil, berikutnya dia mendengar kabar baik kalau Tini juga hamil. Bagaimana mungkin Zalfa melewatkan momen untuk saling berbagi dengan Tini meski waktu yang mereka miliki hanya sempit.
Ismail muncul dan langsung menghampiri Tini. Pria itu menunjukkan ekspresi cerah menatap adiknya. “Zalfa? Kamu di sini?”
“Iya, Mas. Aku cek kandungan. Baru jalan beberapa bulan.”
“O ya? Syukurlah!” Ismail terlihat sangat bersyukur. “Lusa anak-anak kita akan bermain bersama. Mereka usianya pasti tidak berjauhan. O ya, Zalfa, bagaimana kabarmu?”
“Baik, Mas.”
“Kamu sendirian? Arkhan mana?”
__ADS_1
Zalfa menoleh ke belakang. Arkhan sudah tidak ada di sana. Oh Tuhan, dia kehilangan suaminya. Zalfa sampai tidak menyadari kepergian Arkhan saking keasikan menciptakan momen dnegan Tini.
“Tadi Mas Arkhan bersamaku, tapi.. sepertinya dia menungguku di mobil. Ya udah, aku pergi dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi.” Zalfa berpamitan.
“Hati-hati!” Ismail berpesan.
Zalfa melangkah lebar menuju ke luar klinik.
...BERSAMBUNG...
Hayoo... mana nih poin buat Arkhan?
Thanks to :
Fitriani Harun
Minarni Suhendar
Dua akun tersebut udah kasih vote poin terbanyak di periode dua minggu ini. 😘😘😘😘
Follow instagramku @emmashu90 supaya gak ketinggalan info tentang cerita terbaruku dan tentang Zalkhan
.
.
.
__ADS_1
.