SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
163.


__ADS_3

Zalfa menatap Arkhan yang terpaku di ambang pintu. Wanita itu bingung mengartikan tatapan Arkhan yang digin dan dulit dimengerti. Ia tidak tahu apakah Arkhan sedang kesal, marah, senang atau biasa saja.


“Arkhan! Kebetulan kau datang. Kemarilah! Kita makan bersama.” Ismail bangkit berdiri dari kursinya. Ia menarik kursi miliknya tersebut dan mempersilakan Arkhan supaya duduk di sana. Hanya ada empat kursi di sekeliling meja makan. Ismail mengalah untuk Arkhan.


Arkhan menatap satu per satu penghuni meja makan. Pertama, Tini. Kemudian Zalfa, dan terakhir Soleh yang posisi duduknya tak jauh dari Zalfa. Ekspresi Arkhan berubah tegang saat manik matanya menemukan Soleh. Dahinya mengernyit dan mulutnya terbuka sedikit ingin mengatakan sesuatu, namun tak juga keluar sepatah kata pun dari mulutnya itu.


Sebaliknya, Soleh hanya diam terpaku tanpa ekspresi. Kedua pria itu bertukar pandang.


Ismail menatap Soleh dan Arkhan silih berganti. Seperti ada ketegangan yang tercipta di antara keduanya. Mungkinkah Arkhan marah karena ada pria lain di meja makan itu saat istrinya juga ada di sana?


Untuk mencairkan situasi, Ismail mendekati Arkhan dengan senyum lebar. “Arkhan! Aku senang kau datang kemari! Ayo, kita makan bersama. Aku sengaja tadi mengundang Soleh kemari untuk makan malam bersama. Ya, dia itu Soleh, tetanggaku.” Ismail menunjuk Soleh. Penjelasannya tersebut tak lain untuk memberi pengetahuan pada Arkhan mengenai kehadiran Soleh di sana tak lain atas undangan dari Ismail, dan berharap tidak ada kesalahpahaman.


“Arkhan!” panggil Zalfa membuat pandangan Arkhan kini beralih ke wajah Zalfa.


“Lanjutkan saja! Aku tunggu di luar.” Arkhan melenggang pergi.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Arkhan sekarang? Apakah dia merasa cemburu? Ataukah dia sedang merasa kesal? Atau kenapa? Arkhan sungguh sulit ditebak. Namun ekspresi wajah Arkhan mendadak berubah saat bertatapan dengan Soleh, apakah Soleh adalah alasan perubahan sikap Arkhan? Zalfa bertanya-tanya dalam hati.


“Pria itu tadi siapa namanya? Arkhan?” Tanya Soleh.


“Iya. Suamiku,” jawab Zalfa singkat.


Kini, ekspresi Soleh tampak berubah saat mendengar penjelasan singkat dari Zalfa. “Akan kutemui dia. Kalian lanjut saja dulu makan malamnya.” Soleh meninggalkan meja makan.


“Tapi… Soleh, kamu belum selesai makan.” Zalfa menunjuk makanan di piring Soleh.


Zalfa bingung, sebenarnya ada apa dengan Arkhan dan Soleh? Kenapa sikap mereka terlihat berbeda? Ooh… Tuhan, jangan sampai keduanya berantem karena sebuah masalah yang Zalfa tidak mengerti. Situasi itu sangat sulit dimengerti oleh Zalfa. Bahkan keadaan mendadak tegang. Perasaan Zalfa pun berubah ambyar. Kenyamanan yang seharusnya terjadi di meja makan, buyar seketika waktu setelah Arkhan muncul.


“Mas, aku tinggal dulu!” Zalfa bangkit berdiri.


“Kamu mau kemana?” Tanya Ismail membuat langkah kaki Zalfa terhenti dan menoleh.

__ADS_1


“Aku mau menemui Arkhan.”


“Biarkan saja Arkhan mengobrol dnegan Soleh. Soleh pasti akan melakukan hal yang terbaik. Kamu belum memulai makan. Ayo, kembalilah ke meja dan kita makan bersama. Jangan membuat selera makanku hilang karena melihatmu nggak kenyang. Aku ingin makan bersama dengan adikku.”


“Lain kali aja, Mas.”


“Acara makan bersamanya batal. Ini ceritanya aku malah jadi makan berdua sama Tini.” Ismail melirik Tini. Yang dilirik menunduk saja.


“Maaf, Mas. Aku nggak enak makan sendiri tanpa suamiku,” ujar Zalfa.


“Ya sudah.” Ismail mengangguk.


Zalfa melenggang pergi meninggalkan ruang makan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2