
Arkhan menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti di tengah-tengah anak tangga saat melihat keramaian di lantai utama. Ada Zalfa, Ismail, Tini, Aranta Soleh Al Kahfi, dan terakhir Arumi.
Oh… Arkhan sampai lupa jika hari itu adalah hari dimana Zalfa mengadakan acara pertemuan dengan keluarganya. Arkhan baru saja bangun sehingga tidak tahu kesibukan yang terjadi di rumah itu. Zalfa dan yang lain tampak sedang mengobrol manis sambil tertawa riang di ruangan luas itu.
“Mas Arkhan!” panggil Zalfa sambil melambaikan tangan ke arah Arkhan.
Panggilan Zalfa yang ditujukan kepada Arkhan membuat sejurus pandangan menoleh ke arah Arkhan.
Arkhan menaikkan alis.
“Kemarilah! Semuanya udah pada ngumpul, nih,” ucap Zalfa.
“Kalian bersenang-senanglah dulu!” Arkhan melangkah menuju ke belakang sambil mengancing ujung lengan kemejanya. Kemudian dia memelankan langkah saat bertemu dengan Emy di ambang pintu. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau terlihat seperti malu-malu untuk bergabung dengan bersembunyi di balik pintu seperti itu.”
Emy menunduk. “Maaf, Tuan. Saya merasa senang melihat kearaban mereka.”
__ADS_1
“Ikutlah bergabung dengan mereka ke depan. Tidak perlu kau bersembunyi di balik pintu begini,” titah Arkhan kemudian melenggang pergi.
Mendengar perintah majikannya, Emy pun melangkah pelan untuk ikut berbaur dengan para tamu.
“Eh, Emy. Kemarilah! Aku membutuhkan bantuanmu!” ucap Zalfa sambil melangkah menuju meja. “Kamu bawa makanan ringan dari belakang ke meja sini. Itu loh, makanan yang kupesan kemarin dan pagi tadi kan kamu yang menerimanya.”
“Ooh… Kue bawang ya, Non?”
“Iya.”
“Baik, Nona!” Emy mengangguk patuh kemudian melenggang pergi.
“Alhamdulillah.” Zalfa tersenyum. Ia berharap akhlak Arkhan juga akan menjadi mulia berkat doa seluruh umat manusia.
“Aku yakin, Arkhan sekarang sudah berbeda dengan Arkhan yang dulu. Aku ingat dia dulu pernah mengancamku demi melindungi Reza hanya karena sebuah barang haram. Tapi aku yakin dia tidak mengenal barang itu lagi.”
__ADS_1
“Alhamdulillah masa-masa itu udah berlalu. Arkhan yang sekarang nggak menyentuh barang itu lagi. Aku tahu Arkhan adalah pria yang amanah.”
“Syukurlah. Jika aku melihat Arkhan yang sekarang, aku juga yakin dia tidak seperti dulu lagi. Kamu sungguh beruntung mendapatkan suami yang bersedia mengubah akhlak menuju kepada kebaikan, bukan pria yang egois, selalu merasa benar dan tidak ingin memperbaiki diri.”
“Ya, karena sebaik-baiknya manusia adalah orang yang selalu memperbaiki diri. Kamu sendiri, kapan menikah?”
Arumi hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu.
“Jangan ketuaan kalau nikah, entar keburu keriput. He heee…”
Arumi geleng-geleng kepala. “Belum ada calonnya.”
“Ada banyak calon imam yang baik di dunia ini. Tuh, ada Aranta. Kurang apa lagi dia? Dia pria yang baik.” Zalfa menunjuk Soleh.
Pandangan Arumi tertuju ke arah pandang Zalfa. Tampak Soleh sedang mengobrol dengan Ismail. Pria bertubuh tinggi dan dada bidang itu terlihat sangat tampan saat tersenyum.
__ADS_1
Zalfa dan Arumi terlibat pembicaraan dengan topik seputar calon imam yang baik.
BERSAMBUNG