SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
205.


__ADS_3

Zalfa ingin sekali mengejar Arkhan karena berharap bisa ada di sisi pria itu lebih lama lagi. Entah kenapa hati Zalfa menjadi melow saat itu. Ia menatap punggung Arkhan hingga hilang dari pandangan. Langkah Zalfa sudah menapak di anak tangga pertama untuk mengejar Arkhan, namun terhenti ketika bel pintu kembali berbunyi. Zalfa ragu untuk membuka. Biar Mbak Yen saja yang membuka pintu, namun ketika bel kembali berbunyi untuk yang kedua kalinya, Mbak Yen tidak juga muncul, membuat Zalfa memilih untuk balik badan, memutar kunci dan membuka pintu.


“Jangan dibuka pin…!”


Belum sempat Arkhan menyelesaikan kalimatnya, pintu sudah terbuka oleh tangan Zalfa. Arkhan yang berdiri sambil menjulurkan tangan saat memerintah supaya Zalfa tidak membuka pintu pun langsung berlari pergi dengan kecepatan melebihi pelari nasional.


Lagi-lagi Zalfa dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang berseragam polisi yang langsung mengejar Arkhan. Kegaduhan terjadi dalam waktu yang begitu singkat. Aksi pengejaran di dalam rumah membuat situasi terasa menegangkan. Zalfa hanya bisa memaku di tempat dengan segala pemikiran buruk yang mengisi kepalanya.


Ya Tuhan, mendadak tubuh Zalfa terasa dingin dan lemas. Pikiran Zalfa sudah tidak karuan dan sangat keruh karenanya. Jadi benar Arkhan terlibat dalam pembunuhan Bu Fatima? Ya Allah… Tubuh Zalfa sperti mati rasa.


Bahkan saat terdengar tembakan peringatan, jantung Zalfalah yang pertama merasa ketar-ketir. Dia tidak tahu harus berbuat apa, air matanya menganak sungai dan tiba-tiba membanjir begitu saja. Ia juga hanya bisa diam saat Maria muncul dari pintu ruangan sebelah. Zalfa dan wanita paruh baya itu bertukar pandang tanpa satu pun yang angkat bicara.


Tak lama seorang berseragam berlari menuruni anak tangga. Pria itu berhenti di hadapan Zalfa dan mengatakan sesuatu tentang kedatangannya yang bermaksud untuk menangkap Arkhan. Ia menunjukkan surat penangkapan atas nama Ibadullah Al Arkhan.


Hanya sekilas saja Zalfa membaca dan ia tidak bisa fokus untuk membaca kata demi kata di surat itu. Hatinya sudah kacau, tubuhnya pun lemas. Surat di tangannya terlepa dan terjatuh.

__ADS_1


Ketika akhirnya Maria mendekati dan memeluk Zalfa, tangis Zalfa pun akhirnya pecah. Tubuhnya bergetar dalam pelukan Maria. Zalfa merasakan semakin erat pelukan mertuanya di tubuhnya.


Zalfa tidak lagi bisa mengungkap apa yang sedang dia rasakan. Ia tahu Maria sedang bingung atas apa yang terjadi. Namun melihat polisi yang menghambur naik ke lantai atas bahkan disusul dengan suara tembakan, Maria tahu jika polisi sedang melakukan pengejaran terhadap Arkhan. Maria tidak tahu alasan apa yang membuat Arkhan dikejar polisi, namun ia hanya bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa, ia tahu puteranya sedang dalam masalah besar.


Elia yang baru muncul pun memelankan langkah, mulutnya mengunyah dan tangannya memegang roti. Ia terlihat panik, kemudian ia pun menghambur ikut memeluk Maria dan Zalfa. Tangannya yang kecil tidak cukup untuk melingkar di kedua tubuh Maria dan Zalfa.


Seharusnya Zalfa merasa bahagia mendapat pelukan dari tangan kecil Elia. Sudah lama Zalfa menginginkan keharmonisan hubungan antara dirinya dengan Elia. Namun dalam situasi yang tidak normal begini, Zalfa tidak merasakan apapun kecuali hatinya yang kebas.


Suasana berubah sepi saat semua orang berseragam polisi sudah berlalu entah kemana, yang jelas mereka sedang melakukan aksi pengejaran.


“Mama, Arkhan dalam masalah. Kenapa ini harus terjadi? Aku nggak sanggup melihat semua ini. Aku belum sempat membuat suamiku menjadi imam yang baik dan semua ini malah terjadi. Tuhan!” Zalfa menangis sesenggukan.


“Zalfa, berdoalah! Doakan yang terbaik untuk Arkhan. Apapun yang terjadi, dia adalah suamimu. Dia sangat menyayangimu, bukan? Maka berpikirlah yang baik-baik tentangnya,” balas Maria yang juga meneteskan air mata.


Elia entah sudah sejak kapan menangis sesenggukan. Roti di tangannya pun sudah jatuh ke lantai. Zalfa tidak peduli dengan warna cokelat yang mengotori bajunya, tak lain warna yang berasal dari olesan pada roti milik Elia.

__ADS_1


“Kak Zalfa, tolong bantu Kak Arkhan. Bantulah dia! Jangan sampai dia dipenjara. Kak Arkhans ebenarnya orang baik.” Elia menangis dengan suara menggerung keras.


Kata-kata Elia membuat hati Zalfa semakin kebas. Zalfa tidak bisa bicara apapun. Dia hanya meraih kepala Elia kemudian memeluknya sebnetar sambil terus menangis. Memangnya apa yang bisa Zalfa lakukan sekarang?


TBC


KLIK LIKE, GRATIS TIS 👇👇


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2