SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
289.


__ADS_3

Pacuan jantung Arkhan melemah seketika, tubuhnya gemetar. Dia baru tersadar sudah membiarkan mobilnya berdiam cukup lama saat beberapa kali terdengar klakson bersahut-sahutan. Mobil-mobil yang berderet di belakang tampak tak sabar. Entah sudah sejak kapan lampu merah sudah berganti menjadi hijau.


“Mas, mobilnya dijalanin! Ngantuk ya, Mas?” seru pengendara motor yang melintas di sisinya.


Arkhan hampir tidak mengerti dengan apa yang terjadi di sekelilingnya akibat pikirannya yang mendadak kacau. Dia kembali menjalankan mobil dengan perasaan tak menentu.


Zalfa tidak bisa diselamatkan? Ini adalah hari pertama Arkhan menjadi seorang ayah, tapi kenapa Tuhan mengubah keadaannya? Arkhan sungguh tidak ingin menemui Zalfa sekarang. Dia tidak ingin melihat Zalfa dalam keadaan terbujur kaku.


Arkhan berlari menuju ke tepi sungai. Dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang terengah-engah setelah berlari cukup jauh. Mobilnya diparkirkan di tepi jalan jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Manik matanya nanar menatap ke atas, langit cerah. Tak sedikit pun terlihat awan hitam menutup langit biru.


Arkhan berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya menggema. Alam seakan menampung suaranya itu. Ia sedang ingin melepas beban yang mengganjal dalam batinnya. Perasaannya benar-benar menjadi kacau sekarang. Disaat ia merasakan cinta yang begitu dalam, malah wanita itu meninggalkannya.

__ADS_1


“Tuhan, kenapa kau ambil satu nyawa dari sisiku setelah Kau memberikan satu nyawa ke sisiku? Aku meninggalkan Zalfa atas keyakinan satu hal, bahwa jika aku melangkah menuju kebaikan pasti juga akan membawa kebaikan pula. Aku yakin Takdir-Mu juga baik untukku. satu keyakinanku sangat bulat bahwa Kau benar-benar Maha Baik sehingga aku tidak perlu mencemaskan kemungkinan yang terjadi. Tapi apa ini?” Kedua tangan Arkhan mengepal, manik matanya bergerak-gerak menatap permukaan langit. Di kepalanya terngiang-ngiang kata-kata Zalfa.


“Tuhan itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dengan urat leher. Yakinilah hal ini, lalu mintalah pada Tuhan apapun itu. Perccayalah, Tuhan akan menunjukkan kebesaran-Nya. Disaat kamu meyakini adanya Tuhan, tentu kamu juga akan meyakini segala perintah, larangan serta kehidupan setelah kematian yang tertulis dalam ayat-ayat suci.”


“Benarkah? Benarkah Kau ada?” Arkhan berteriak menatap langit. “Benarkah alam ini adalah ciptaan-Mu? Benarkah Kau Maha Besar? Benarkah manusia adalah ciptaan-Mu? Termasuk diriku ini adalah ciptaan-Mu?” Arkhan tersenyum sinis sambil menatap langit yang cerah, kemudian ia kembali berseru, “Apakah ini adalah takdir dari-Mu? Tunjukkan Kuasa-Mu. Turunkan hujan sekarang juga!”


Seketika itu petir berwarna putih muncul dan menyambar pohon yang tegak tak jauh dari Arkhan berdiri hingga pohon tersebut terbelah dan tumbang, sebagian hangus.


Arkhan mundur dua langkah menatap heran pada pohon yang telah hangus. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat pohon yang tadinya hijau segar, kini dalam posisi tergeletak dan menghitam.


Arkhan merasakan tubuhnya gemetar. Ketakutan semakin melanda. Jantungnya berpacu cepat. Keringat dingin mengucur di tubuhnya. Ada banyak ragam perasaan takut yang menyerang dalam dirinya. Dalam hati, Arkhan pasrah. Ia merasa sudah melawan Tuhan dengan sikapnya tadi hingga Kuasa Tuhan benar-benar diperlihatkan kepadanya. Andai saja detik berikutnya petir menyambar dirinya dan ia menjadi hangus seperti pohon yang dia lihat itu, ia pasrah.

__ADS_1


Kepala Arkhan kembali diisi oleh kata-kata Zalfa.


“Sungguhpun kamu melampaui batas atas dirimu, janganlah berputus asa dari menggapai kasih sayang-Nya. Dia maha pengampun dan Maha Penyayang. Setiap anak Adam pasti melakukan dosa, baik dosa besar maupun kecil, bahkan dosa-dosa besar yang kasat mata, tapi Tuhan mengampuni segala bentuk dosa dengan syarat bertaubat. Menghadaplah pada Tuhan meski dengan tumpukan dosa yang menggunung! Jika kita bertaubat, maka dosa-dosa kita akan lebur. Ada banyak ayat mulia yang mengabarkan bahwa Tuhan akan mengampuni dosa-dosa orang yang bertaubat.”


Arkhan menjatuhkan lututnya ke tanah. Bibirnya berbisik saat keningnya juga telah menyentuh tanah, menyesali prasangka yang menghitam dalam hatinya. “Laa illa ha ilallah...”


***


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2