
Menakjubkan.
Bundaran Hi dipenuhi dengan lautan manusia, suara orang-orang bersalawat dan berzikir menggema dengan serentak, menggetarkan hati para pendengarnya. Secara live disiarkan di televisi. Sootan kamera tertuju ke arah lautan manusia yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna putih dan kopiah serta jilbab warna senada. Kemudian kamera mengarah pada pada petugas keamanan dari gabungan kepolisian dan brimob yang tampak siaga berbaris rapi.
Salawat dan zikir dipandu oleh ustad kondang Bukhori Muslim. Beliau berdiri di panggung seraya menyerukan zikir.
Di sisi lain, Arkhan sedang berada di perjalanan, menyetir mobil dnegan kelajuan tinggi. Sesekali manik matanya melirik jam di tangannya. Apakah mungkin dia akan terlambat? Satu-satunya yang menjadi tujuannya adalah menjadi qori di acara akbar atas permintaan Zalfa. Dia tidak boleh terlambat, karena jika dia terlambat, maka dua hal penting akan terlewatkan dalam hidupnya, yaitu momen dimana istrinya sedang berjuang melahirkan putrinya, juga momen mengaji atas permintaan istri tercinta. Maka dia berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sampai di tempat tujuan.
Beberapa kali dia membunyikan klakson saat menyalip mobil-mobil di depan. Dia juga harus menghentikan mobil untuk ke sekian kalinya karena harus bertemu dengan lampu merah. Dia menggerak-gerakkan jari di atas bundaran setiran saat menunggu di lampu merah. Rasanya dia ingin menerobos saja, namun kendaraan di depan membuatnya tak bisa melakukan apa pun kecuali menunggu dan mengikuti jalur yang ada.
Maria dan Ismail menunggu di depan pintu ruangan operasi. Ismail tampak berdiri menyandarkan punggung di dinding dengan raut cemas sambil berdoa dalam hati. Sedangkan Maria berjalan hilir mudik di depan pintu. Kursi tunggu yang teronggok di sana seperti tidak berguna karena harus diabaikan.
Sebenarnya Ismail juga tidak ingin meninggalkan Tini, istrinya yang sekarang sedang di rumah mengurus bayinya yang masih berusia dua bulan. Dia tahu istrinya itu pasti sedang repot mengurus bayi, namun Ismail tidak ingin membiarkan Zalfa hanya ditunggui Maria saja. Dia tahu kalau Arkhan pergi ke acara akbar atas permintaan Zalfa. Kebetulan Ismail tadi menelepon Zalfa dan Maria yang memegang tas Zalfa pun menjawab telepon tersebut. Kemudian Maria mengatakan semuanya hingga Ismail memilih untuk langsung menuju ke rumah sakit atas ijin dari Tini.
Ismail menjawab telepon dari Tini saat istrinya itu menelepon.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi Zalfa, Mas?” Tanya Tini di seberang dengan suara khawatir.
“Sedang dalam proses operasi.”
“Oh… jadi Zalfa dioperasi, Mas?” Tini terkejut.
“Iya. Doakan saja yang terbaik untuk Zalfa.” Ismail mendengar suara tangisan bayi di dekat Tini.
“Iya, tentu, Mas. Semoga Zalfa dan bayinya sehat.”
“Ya sudah, jangan terlalu mencemaskan kami di sini. Percayalah Zalfa akan kujaga. Kamu baik-baik di rumah ya, urusin anak kita, aku terharu mendengar tangisannya,” ucap Ismail.
“Ya sudah, aku tutup teleponnya,” kata Ismail kemudian mengucapkan salam. Ia kembali memasukkan ponsel ke kantong celana. Pandangannya kemudian tertuju kepada Ibu Maria yang tampak cemas sambil hilir-mudik. Seluruh jemari tangan Bu Maria saling bertaut dan ditegakkan di depan mulut, dia membisikkan kalimat yang tidak didengar oleh Ismail. Namun Ismail sempat mendengar kata-kata di akhir kalimat, ‘Kabulkan doaku ya Allah Ya Rabb, Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.’
Ismail kini mengerti kepada siapa tujuan doa yang diucapkan oleh Bu Maria.
__ADS_1
“Ibu Maria!” panggil Ismail lembut.
Bu Maria berhenti hilir mudik, dia menatap Ismail. Dahinya bertaut dan alisnya terangkat, matanya menyipit.
Ismail tersenyum tipis, sangat ramah. Ia berusaha mengurangi kepanikan yang dialami Bu Maria. “Ibu Maria mendoakan Zalfa, ya?”
“Ya.”
Ismail mengamati bibir Maria yang bahkan terlihat memucat akibat kepanikan dan kecemasannya. Sengaja Ismail duduk di kursi untuk membuat Bu maria mengikuti gerakannya. Dan benar saja, Bu Maria tanpa sadar mengikuti Ismail duduk di kursi tunggu. Ismail berharap, Bu Maria akan menjadi lebih tenang saat dalam kondisi duduk.
“Aku yakin Allah akan mendengar doa tulus hambanya, segala yang terjadi sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Cukup kita doakan saja yang baik untuk Zalfa, dan Allah yang akan menentukan hasil akhirnya,” ucap Ismail.
“Ya. Entah kenapa perasaanku sangat khawatir. Bahkan Arkhan tidak di sini saat Zalfa sedang berjuang untuk bayinya.”
“Ini sudah merupakan permintaan Zalfa. Percayalah, Tuhan Maha Baik.”
__ADS_1
Maria tersenyum tipis. Akhirnya kekalutannya sedikit berkurang.
TBC