SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
296.


__ADS_3

Kebahagiaan Zalfa terasa lengkap sekarang. Shanum adalah satu-satunya alasan pelengkap kebahagiaannya.


Ada banyak hikmah semenjak kelahiran Shanum. Sebut saja Elia yang dulunya pemalas, suka ngedumel dan malas melakukan apa pun, kini terlihat rajin membantu, baik merapikan kamarnya sendiri, merapikan pakaian Shanum, dan juga rajin bangun pagi. Semua itu dia lakukan karena ingin bisa berdekatan dengan Shanum. Sebab jika dia belum mandi, belum merapikan kamar, dan belum sarapan, maka dia belum boleh dekat-dekat dengan Shanum.


Maria juga sering membawa Shanum jalan-jalan ke luar rumah saat pagi hari supaya si kecil berkenalan dengan dunia luar, bermanja dengan sinar matahari dan menghirup udara segar. Mertuanya Zalfa itu tampak sangat menyayangi cucunya. Dia kini jauh lebih rajin belajar shalat kepada Zalfa karena dia mengaku sudah semakin tua dan tidak tahu umur sampai kapan. Shanum, cucunya menyadarkannya kalau usianya kini sudah semakin bertambah dan dia juga sudah memiliki cucu. Tidak ada nenek-nenek yang masih muda, namanya nenek pasti tua.


Empat bulan sudah berlalu, kehidupan Zalfa terasa berbeda.


Pagi itu, Zalfa melihat Arkhan sudah tampak rapi. Prai itu melenggang menuruni anka tangga dengan gerakan terburu-buru sambil mengancing ujung lengan kemejanya.


“Mas Arkhan, kamu mau kemana?” tanya Zalfa yang baru saja muncul dari ruangan lain.


“Kerja.”


“Tapi kan ini hari libur?” Zalfa menatap heran. Meski Arkhan sudah memiliki banyak pendapatan dari sosial medianya, namun dia tidak mau meninggalkan pekerjaannya.


“Siapa bilang? Ini kan hari kamis. Ya sudah aku pergi dulu.”


“Mas Arkhan!” panggil Zalfa melihat Arkhan melenggang menuju pintu.


“Apa lagi, sayang?” Arkhan menghentikan langkah dan menoleh ke arah Zalfa. “Apa kamu tidak merelakanku pergi, hm?” Pria itu tampak sedang menggoda Zalfa.


Sontak Zalfa terkekeh.


“Bukan itu maksudku, lihat itu!” Zalfa meletakkan telapak tangannya ke pipi Arkhan dan memaksa wajah suaminya itu menoleh ke arah kalender. “Ini hari kamis, tanggal 4. aku nggak buta warna, kan? Itu tanggal merah.”

__ADS_1


Arkhan mengangkat alis dengan dahi bertaut. Dia tertawa. “Ya ya, untung kau mengingatkanku. Ya ampun.”


“Nah, itu makanya kalau dikasih tahu jangan ngeyel.” Zalfa menjepit ujung hidung mancung Arkhan dengan jemarinya, membuat Arkhan kembali tertawa. “Kamu kan udah memiliki banyak pendapatan dari sosial mediamu, kenapa nggak berhenti kerja dan fokus pada sosial media?”


“Zalfa, sosial media bagiku hanyalah pekerjaan sampingan.”


“Lah, sampingan tapi kok pendapatannya malah puluhan kali lipat lebih gede dari pendapatan utama?”


“Ini bukan mengenai pekerjaan utama atau pekerjaan sampingan. Ini juga bukan mengenai pendapatan.”


“Lalu?


“Tapi ini mengenai naluri. Pekerjaanku sekarang adalah penyebab diriku bisa terbebas dari tahanan, pekerjaan inilah yang menyatukan kita, pekerjaan inilah yang membuat Shanum hadir di antara kita. Jika tidak, tentu Shanum tidak akan pernah ada sebab sampai sekarang aku masih berada di dalam tahanan. Pekerjaan ini juga yang membuat kita bisa hidup bersama-sama. Aku tidak ingin melepaskannya.”


Kepala Arkhan celingukan menoleh ke kanan kiri. “Shanum mana?”


“Shanum bersama mama dan Elia di luar.”


Arkhan membuka tirai jendela, melihat ke luar. Dia mengamati mamanya yang sedang menggendong Shanum sambil berbicara banyak hal seakan Shanum sudah bisa diajak bicara. Elia di sisi Maria bernyanyi-nyanyi. Sesekali ci luk ba… sesekali mengelilingi Maria. Emy duduk di kursi taman mengamati Maria dan Elia.


Lengan Arkhan merengkuh pundak Zalfa, mengajak istrinya itu menatap ke luar. Zalfa mengikuti arah pandang Arkhan.


“Ternyata bukan hanya kita saja yang berbahagia atas kelahiran Shanum. Lihatlah, Mama dan Elia juga merasakan hal yang sama,” kata Arkhan.


Zalfa menyandarkan kepalanya ke dada Arkhan. “Aku tidak menyangka jika sambutan keluargamu terhadap Shanum sampai luar biasa begini.”

__ADS_1


“O ya, aku melupakan sesuatu. Di kamar tadi ada kopi untukku, tapi aku lupa meminumnya. Kau bisa mengambilkannya untukku? Tidak akan nikmat jika sudah dingin.” Arkhan menatap wajah Zalfa yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


“Kopi? Memangnya kamu tadi sempat membuat kopi dan dibawa ke kamar?” Zalfa yang mengangkat wajah pun menatap wajah Arkhan.


“Ya. Ayolah, ambilkan saja!”


Zalfa mengangguk meski sedikit merasa heran, selama ini tidak pernah Arkhan meminta bantuannya untuk urusan kecil sepertui itu. Tumben Arkhan memerintahnya, tapi Zalfa justru merasa senang.


Segera Zalfa naik ke lantai atas. Dia tertegun melihat seisi kamar, manik matanya sudah mengedar menyapu seisi ruangan kamar namun tidak menemukan kopi.


Lalu dimana Arkhan meletakkan kopinya? Bahkan aroma kopi pun tidak tercium di sana. Waah… jangan-jangan Arkhan mengigau.


Zalfa baru saja hendak balik badan, namun gerakannya tertahan akibat lengan kokoh yang tiba-tiba melingkar di perutnya dari arah belakang. Dia menoleh dan pandangannya bertemu dengan mata suaminya, wajah Arkhan nyender dengan santai di pundaknya.


“Mumpung satpam sedang ke luar!” bisiknya di telinga Zalfa. Bibirnya dengan lembut mengecupi pipi istrinya. Tangannya mulai menyusup masuk ke balik baju Zalfa dan merayap menyentuh sisi sensitif wanita itu.


“Satpam siapa maksudmu?” Zalfa bingung di tengah sensasi yang dia rasakan.


“Shanum. Si kecil itu selalu menjerit saat aku mendekatimu, dia seperti satpam untuk kita saat malam hari.” Arkhan terkekeh pelan dan membalikkan tubuh Zalfa hingga ke duanya saling berhadapan.


"Oh.. sekarang aku mengerti, jadi kamu membohongiku mengenai kopi karena ingin melakukan ini?" Zalfa tertawa kecil. Dia terbaring di ranjang saat Arkhan mendorong tubuhnya dengan dada pria itu.


Sepertinya ini adalah pertama kalinya Arkhan kembali memulai permainan di ranjang setelah beberapa bulan lamanya dia menahan gejolak itu. Zalfa… Arkhan memulai.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2