SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
259.


__ADS_3

Pagi itu, kafe milik Zalfa dikunjungi oleh banyak orang. Zalfa duduk di meja kasir memperhatikan kesibukan pegawainya yang hilir mudik melayani pengunjung. Setengah hati, ia merasa senang atas keramaian kafenya. Namun setengah hati lainnya merasa kasihan pada pegawainya karena pegawainya menjadi semakin sibuk.


Pandangan Zalfa beralih ke kalender. Dia mengernyit melihat lingkaran di tanggal 24 pada bulan lalu. Lingkaran tanda apa itu? seingatnya, dia tidak pernah membuat lingkaran itu sebagai pengingat.


“Mbak, bikinin kopi es satu!” titah seorang pria yang entah kapan muncul dan sekarang sudah berdiri di tepat di depan meja kasir dengan posisi membelakangi. Pria yang memakai topi itu menarik sebuah kursi dan duduk di meja yang paling dekat dengan meja kasir.


“Alvin!” Zalfa memanggil salah seorang pegawainya. “Buatin es kopi satu, untuk meja 12.”


“Saya maunya kamu yang bikin!” Pria bertopi itu bersuara agak keras di tengah keramaian yang melanda.


Zalfa mengernyit heran. Namun ia menuruti permintaan pengunjungnya. Bak pepatah yang mengatakan pembeli adalah raja, maka dia tentu juga harus memperlakukan pengunjung kafenya dengan baik.


Usai membuat kopi di belakang, Zalfa muncul menyuguhkan kopi yang diminta oleh pria bertopi.


“Silahkan, ini kopinya!” Zalfa meletakkan segelas kopi ke meja pria bertopi yang saat itu dalam posisi menunduk membaca-baca menu di meja.


Pria itu mengangkat wajah, menatap Zalfa. Kumis di atas bibir pria menunjukkan kewibawaan. “Bisakah aku bicara sebentar?”


“Bicara denganku?” Zalfa menunjuk dirinya sendiri.


“Ya, tentu.”

__ADS_1


“Tapi… Kita nggak saling kenal, lalu mau bicara apa?” Zalfa ragu-ragu karena sedikit merasa takut pada pria berbadan gagah itu, dia tetap berdiri dan terlihat enggan untuk duduk.


“Duduklah dulu!” Pria itu meraih pergelangan tangan Zalfa meminta supaya Zalfa duduk.


“Hei, lepaskan aku! Beraninya kamu menyentuh-nyentuh aku!” Zalfa menghempaskan tangannya namun tidak terlepas dari genggaman pria itu.


“Ssst…” Pria itu berharap supaya Zalfa tidak berteriak.


Plak!


Tangan lain Nona mendaratkan pukulan ke pipi pria itu hingga memerah. Sesaat setelah menampar, Zalfa pun membelalak kaget dan menelan saliva dengan sulit. Telapak tangannya yang menyentuh pipi pria itu membuatnya langsung mengenali siapa pria berkumis itu. Menampar pipi itu mengingatkannya pada kejadian yang sama dan pipi yang sama. Arkhan. Ya, tentu saja Zalfa sangat kenal dengan pipi suaminya yang setiap malam dia elus. Jangan dikira Zalfa tidak bisa bersikap panas saat di kamar, akhir-akhir ini malah selalu Zalfa menggoda dan memancing Arkhan. Haduh, bagaimana bisa Zalfa sampai tidak mengenali Arkhan saat dalam keadaan berkumis. Eh tunggu dulu, tapi untuk apa Arkhan melakukan penyamaran?


“Hei, kamu jangan coba-coba menggoda Kak Zalfa, ya!” Pegawai pria itu menghardik arkhan sesaat setelah melihat tangan arkhan yang masih memegangi tangan Zalfa. “Ini apa nih pegang-pegang tangan kak Zalfa?” Pegawai tersebut mengayunkan nampan di tangannya ke arah Arkhan.


“E eeeh… Jangan jangan!” Zalfa melepaskan tangannya dari pegangan Arkhan dan buru-buru mencegah aksi penganiayaan yang dilakukan oleh si pegawai. “Udah udah, jangan etrusin! Kamu pergi sana ke belakang!”


“Tapi dia kurang ajar, kak. Pria ini nggak tau sopan santun banget,” sewot pegawai yang ingin membela Zalfa.


“Diam saja kau! Pergilah dan patuhi perintah bosmu!” sergah Arkhan kesal. Untung saja nampan tadi tidak sempat mendarat di jidatnya, jika saja itu terjadi tentu akan menimbulkan rasa sakit yang ke dua setelah tamparan tangan Zalfa.


“Ini hanya salah paham. Pergilah. Aku bisa atasi!” titah Zalfa dengan senyum kepada pegawainya.

__ADS_1


“Sungguh, Kak?”


“Sungguh.”


Si pegawai pun berlalu pergi membawa nampan kesayangannya.


Zalfa kini menatap Arkhan. “Oh… Mas Arkhan! Kirain tadi siapa.”


Arkhan duduk dengan tampang kesal. Zalfa ikut duduk. Dia menatap Arkhan iba, pipi pria itu masih tampak memerah.


“Uluh uluuuh… pipimu sampai merah begitu. Tamparanku tadi keras banget ya?” Zalfa malah bercanda.


Arkhan mengusap-usap pipinya yang memerah. Kulitnya yang putih membuatnya rentan terhadap aksi kekerasan.


TBC


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2