SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
66.


__ADS_3

“Ashadu’ala illa...” Ustad Dahlan memulai bimbingan pada bacaan dua kalimah syahadat.


“Ashadu’ala ilaha’illallah wa’ashadu’ana Muhammadan Rosulullah...” Lagi-lagi lafaz yang Arkhan ucapkan membuat seisi masjid terperangah. Arkhan begitu fasih melafazkan bacaan itu.


Ustad Dahlan mengangguk bangga. Calon muslim di bawah bimbingannya kali ini seperti sudah sering membaca kalimat tersebut. Betapa ia bangga dan kagum.


“Saya bersaksi dengan sesungguhnya bahwa...” lanjut ustad Dahlan pada bimbingannya supaya Arkhan mengikuti arti dari bacaan dua kalimat syahadat.


“Saya bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan yang layak untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah saja dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir.” Arkhan mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan mudah, seperti sudah ada di luar kepalanya.


“Alhamdulillahirabbil ‘alamin...” Ustad Dahlan mengucap hamdallah diiringi para jamaah. Kemudian beliau langsung membaca Al Fatihah dan dilanjutkan dengan doa yang ditujukan untuk Arkhan yang telah masuk Islam.


Zalfa tersenyum mendengar suara merdu Arkhan saat mengucap dua kalimat syahadat. Lidah Arkhan terdengar seperti sudah sering mengucapkan kalimat itu. tidak terbata, lancar dan fasih. Zalfa tersenyum tanpa sadar.


“Dengan demikian, bertambah satu saudara kita sesama muslim. Dan setelah ini, maka nanti adalah shalat Ashar pertama yang wajib ditunaikan oleh Nathan.” Ustad Dahlan menatap Arkhan bangga. “Kedengarannya tadi kamu sangat lancar membaca dua kalimah syahadat. Apa ada keluargamu yang muslim?” Ustad Dahlan sedikit mengoreksi kehidupan Arkhan yang membuatnya dipenuhi tanda tanya.

__ADS_1


“Semua keluarga saya non muslim.”


“Tapi kamu sangat fasih melafazkan bacaan tadi.”


“Sejak kecil saya memang sering membaca kitab suci Al Qur’an. Saya penasaran dengan kitab umat muslim. Saya tumbuh di sekeliling orang-orang muslim sejak saya kecil. Saya sering mendengar mereka mengucapkan bacaan-bacaan itu, dan saya juga belajar banyak hal tentang Islam dari teman saya, juga guru teman saya itu. Sejak kecil, tumbuh rasa ingin tahu saya tentang Islam, kenapa sebagian besar penduduk dunia memeluk agama Islam.”


“Tapi tidak ada keinginanmu masuk Islam saat itu?”


“Belum waktu itu.”


Arkhan mengangguk.


Ustad Dahlan tidak yakin. “Apa Anda bersedia jika diminta untuk mengaji sekarang?”


“Ya.”

__ADS_1


Jawaban Arkhan kian membuat hadirin terpaku.


Sebelum itu, Ustad Dahlan meminta Arkhan untuk mandi wajib setelah sebelumnya beliau menguraikan tata cara dan doa mandi wajib untuk segera dipraktikkan oleh Arkhan. Asisten Ustad Dhalan mengajak Arkhan ke belakang, membimbing Arkhan menuju ke kamar kecil yang ada di sudut pekarangan luar masjid. Ia juga menyerahkan sebuah handuk lengkap dengan pakaian baru untuk Arkhan.


Tak lama Arkhan keluar dari kamar kecil dan kembali ke dalam masjid seperti yang diminta oleh Ustad Dahlan dengan mengenakan pakaian yang diberikan untuknya tadi. Ia pun kembali duduk menghadap ustad Dahlan seperti posisi semula.


Asisten ustad Dahlan menyerahkan Al Qur’an kepada Arkhan. Al Qur’an disambut oleh Arkhan.


“Silahkan baca surat At Taubah ayat 9 sampai tujuh belas.” Ustad Dahlan semakin penasaran dengan Arkhan hingga ia sengaja mengetes demikian.


Menakjubkan, Arkhan membuka kitab dari belakang, mencari surat ke sembilan beserta ayatnya dan menemukan surat tersebut tanpa butuh waktu lama.


“Masyaa Allah... Silahkan baca!” Ustad Dahlan semakin takjub pada pria yang baru saja menjadi mualaf tersebut. Bagaimana bisa Arkhan mengetahui huruf Al Qur’an, surat serta ayat-ayatnya sementara pria itu baru beberapa menit menjadi muslim.


TBC

__ADS_1


__ADS_2