SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
141.


__ADS_3

Elia berdiri di ambang pintu. Gadis kecil itu kemudian melangkah memasuki tengah-tengah dapur dan menarik kursi. Lalu duduk dan menyambar sebuah apel yang tersusun di atas mangkuk khusus buah-buahan. Dengan sigap, ia mengunyah apel yang baru sjaa dia gigit.


“Apa pembantu kita udah nggak kerja di sini lagi?” Elia berbicara kurang jelas akibat apel yang memenuhi mulutnya.


Zalfa yang tidak mengerti maksud ucapan sindiran Elia itu pun melirik Arkhan. Demikian juga dengan Arkhan yang sempat membalas lirikan Zalfa sebentar. Ia hanya diam tanpa memberi keterangan apa pun.


“Begini nih jadinya kalau udah kasmaran, pagi-pagi nggak tau tempat.” Elia menyeletuk, lengkap dengan muka sadisnya.


Arkhan kemudian mengambil buah pir dan pisau, lalu menusukkan ujung pisau ke buah pir yang sudah dia potong dan mengunyahnya. Sedangkan Zalfa hanya geleng-geleng kepala. Baginya, celetukan pedas dari bocah itu tidak peerlu digubris. Cukup dicueki saja dan tidak perlu dimasukin ke hati alias anggap angin lalu. Semua itu juga berkat Arkhan, kehadiran pria itu cukup menjadi kekuatan untuk Zalfa.


“Kenapa Kak Zalfa yang masak? Di rumah ini nggak pernah tercium aroma masakan sebab penghuninya memang jarang makan di rumah. Lalu kenapa Kak Zalfa masak? Apa sekarang kebiasaan Kak Arkhan udah mulai berubah dan mulai suka makan di rumah semenjak memiliki istri?” Bocah polos itu berceletuk semaunya, bahkan sok sibuk ikut campur dengan urusan kakak sulungnya yang jelas-jelas sudah berumah tangga.


“Pergilah! Jangan banyak Tanya. Kau juga tidak mau makan di rumah bukan? Kau terbiasa sarapan di luar, lalu kenapa kau ada di dapur sekarang?” celetuk Arkhan dengan tatapan tegas ke arah Elia.

__ADS_1


“Aku mau makan buah. Salah?” sengit Elia karena merasa kakaknya kini lebih membela orang lain dari pada dirinya.


“Tidak ada yang salah. Kalau kau mau, tunggu saja kakak iparmu sampai selesai memasak dan kemudian kau akan menikmati hasil masakannya.”


“Cih. Aku tidak akan sudi memakannya. Masakan ala Kak Zalfa tentu nggak seenak makanan di restoran. Jelas nggak sesuai dengan selera lidahku.” Elia mencibir dengan ekspresi seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.


“Sudahlah, kau pergilah sana! Aku dan kakak iparmu sedang tidak mau diganggu. Kami akan menghabiskan waktu berdua. Dan kehadiranmu cukup membuat rusak suasana. Kau paham, kan?” Arkhan meletakkan pisau ke tempat semula dengan hentakan kuat.


“Hus! Anak kecil tidak boleh mencampuri urusan orang dewasa. Pergilah!” hardik Arkhan sambil melangkah mendekati Elia.


Elia buru-buru lari ngibrit meninggalkan dapur. Sesaat setelah ia menghilang dari pandangan, gadis itu kembali muncul dan berkata, “Jangan lupa, hari ini aku minta diajarin melukis sama Kak Zalfa.” Kemudian ia berlalu pergi.


Sepeninggalan Elia, Zalfa bertukar pandang dnegan Arkhan. Kemudian wanita itu tergelak.

__ADS_1


“Adikmu lucu dan konyol sekali,” ucap Zalfa masih dengan tawa.


“Lidah Elia memang pedas, dan dia juga pemarah. Tapi itulah dia apa adanya.”


“Bukan salah Elia jika dia bicara sengawur tadi. Kamulah yang menjadi penyebabnya,” celetuk Zalfa dengan seulas senyum.


“Aku?” Arkhan mengangkat alis heran.


“Jika tadi kamu nggak memelukku, tentu Elia nggak akan bicara seperti tadi. Kamu melakukan tindakan tidak pada tempatnya, dan itu nggak baik untuk dilihat anak seusianya.”


Arkhan hanya diam, mendengarkan saja apa yang dikatakan istrinya. Pandangannya tertuju ke tangan mungil Zalfa yang terlihat sibuk dengan kegiatannya memasak.


TBC

__ADS_1


__ADS_2