SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
242.


__ADS_3

Usai mandi, Arkhan keluar dengan handuk melilit pinggang. Tubuhnya yang berotot pun terekspos manis, beberapa butir air tampak mengalir dan menetes di tubuhnya yang polos. Dia terlihat seksi dnegan rambut yang basah seperti sekarang.


Arkhan menatap Zalfa yang sedang mengeluarkan beberapa lembar pakaian dari dalam lemari lalu wanita itu menoleh ke arah Arkhan.


Arkhan menatap sehelai celana dan baju di tangan Zalfa. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri seperhatian Zalfa, yang selalu siap melayani dirinya. Mulai dari soal menyiapkan baju pun dilakukan oleh Zalfa. Apakah begini yang dirasakan semua suami? Mendapat perlakuan indah dari istri?


Arkhan meraih pakaian yang diberikan oleh Zalfa dan mengenakannya.


Zalfa tampak begitu senang mengerjakan semua itu. “Akhirnya aku bisa menyiapkan pakaianmu, melayanimu seperti ini. Aku seneng banget.”


Arkhan menatap Zalfa yang seperti menang undian saja. Duuh… istrinya itu memang benar-benar menggemaskan. Jika sebagian istri lain merengut dan mengomel saat disuruh menyiapkan pakaian suami, berbeda dengan Zalfa yang justru sangat menantikan momen tersebut. Seakan-akan wanita itu sedang menjemput surga saat melakukannya. Jujur saja, Arkhan sama sekali tidak mengharapkan untuk bisa diperlakukan seperti itu, sebab dia terbiasa melakukannya sendiri tanpa harus dilayani. Tapi dia juga tidak mau menolak keinginan Zalfa untuk bisa menyenangkan dirinya.


“Sekarang kamu bebas, bagaimana dengan Reza?” tanya Zalfa sambil mengancing kemeja Arkhan.


“Reza masih di dalam tahanan.”


“Kasihan sekali dia.”


“Aku akan mengusahan supaya dia juga dibebaskan. Reza termasuk remaja yang sangat handal di bidang IT. Aku yakin pihak yang berwajib akan bersedia merekrutnya.”


“Tapi pasti itu dilakukan setelah masa hukumannya selesai bukan?”


“Ya, kau benar. Aku hanya ingin bernegosiasi.”


“Memangnya berapa lama hukuman untuk Reza?”

__ADS_1


“Delapan belas bulan.”


“Satu setengah tahun?”


“Ya.” Arkhan mengangguk.


“Mario adalah target utama yang harus sesegera mungkin ditangkap karena dianggap membahayakan, dan kamu menjadi mitra untuk hal ini. Lalu apa gunanya Reza untuk kasus ini? Nggak ada, Mas Arkhan.”


“Meski Reza pernah berkhianat padaku, tapi pengorbanannya tidak diragukan lagi. Dia pun rela mati demi aku.”


“Dan kamu sangat berharap bisa membebaskannya?”


“Tentu.”


Arkhan berpikir sebentar dengan dahi bertaut. Mungkin Zalfa benar. Sudahlah, saat ini dia sedang tidak ingin memikirkan hal lain. Disaat berdua dengan Zalfa, dia hanya perlu memikirkan Zalfa, bukan perkara lain. Pandangannya kini tertuju ke arah Zalfa yang memunggunginya saat sedang membenahi sprei.


Arkhan melangkah maju dan meraih pinggang Zalfa, melingkarkan kedua lengannya ke tubuh wanita itu, memeluk dari belakang. Ia meletakkan dagu ke pundak Zalfa.


Senyum Zalfa mengembang merasakan sentuhan pipi Arkhan di pipinya. Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipi suaminya.


Arkhan menurunkan telapak tangannya ke perut Zalfa. “Saat aku bebas dan kita bertemu, pertama kali yang kusentuh adalah ini.” Arkhan memasukkan tangannya ke dalam baju Zalfa, meraih permukaan kulit perut wanita itu dan mengusapnya pelan dengan gerakan berputar. “Sudah tiga bulan kan?”


Zalfa memejamkan mata merasakan sentuhan lembut telapak tangan Arkhan yang terasa dingin menyentuh kulitnya.


“Aku sudah membayangkan ada bayi diantara kita, aku membayangkan suaranya saat menangis. Aku sudah tidak sabar menunggu masa itu. Sebelumnya aku bahkan tidak pernah menduga kalau aku akan menjadi seorang ayah. Hidupku dulu tanpa tujuan. Tapi sekarang aku sudah menemukan tujuan hidupku. Kau dan bayi kita,” sambung Arkhan dengan menempelkan bibirnya di pipi Zalfa hingga membuat Zalfa mersakan sentuhan setiap gerakan bibir Arkhan di pipinya.

__ADS_1


“Mas Arkhan!” lirih Zalfa saat melirik cermin dan mendapati pemandangan yang terpantul di dalam cermin, rambutnya sudah tanpa jilbab. Entah kapan Arkhan melepas jilbabnya, dia sampai tidak menyadari saking meresapi setiap sentuhan suaminya.


“Hm?”


“Setelah kamu melarikan diri dari tahanan, kemudian kamu kembali tertangkap dan berada dalam tahanan selama dua hari, ada banyak hal yang terjadi.”


Arkhan diam saja mendengarkan, bibirnya masih bergerilya menciumi pipi Zalfa.


“Di sini udah nggak ada lagi anak kita.” Zalfa meletakkan telapak tangannya ke atas punggung tangan Arkhan yang masih berada di permukaan kulit perutnya.


Sontak Arkhan mengangkat kepala, ia terkejut sampai nafasnya terdengar sangat keras di telinga Zalfa.


...BERSAMBUNG......


Ditunggu Arkhan tuh poinnya, biar Salah Nikah masuk rank tertinggi 😁😁


Makasih buat yg udah baca sampai sini.


And than... Ada yg tau dengan aplikasi


" novel me " nggak?


Naaah... Aku ada nulis juga di aplikasi itu, judulnya Pernikahan Palsu, nama akunku di sana Emma Shu.


Silahkan klik judul Pernikahan Palsu dengan nama penulis Emma Shu. Bakalan banjir air mata haru plus ngebaperin banget, ciuuuus. ini tuh cerita yg kutulis dengan penuh menjiwai banget. Daripada tanda tanya, mendingan langsung download aplikasinya dan cek kesono. okeeee?

__ADS_1


__ADS_2