SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
212.


__ADS_3

Arkhan bangkit berdiri dan mengikuti kepala lapak yang berjalan keluar kamar sempit itu. “Kapan kau bebaskan Reza?”


Kepala lapak menoleh, menatap remeh dan senyum penuh ejekan ke arah Arkhan. “Ngapain lu nanya-nanya? Di sini, tahanan baru mesti tau aturan, bayar setoran ke kami. Kalau nggak mau kasih setoran, pala jadi taruhan. Dan yang bener-bener kagak punya duit kayak si Reza, mesti terima nasib jadi budak.”


“Aku ingin dia bebas.”


“Cih!” Kepala lapak mendekati Arkhan hingga jarak mereka hanya sejengkal saja. “Berani bayar berapa buat ngebebasin dia dari budak gua, huh?” Pria itu mendorong dada Arkhan kuat-kuat.


Sayangnya dorongan itu tidak menghasilkan efek apapun, hanya huyungan ringan pada bagian tubuh atas Arkhan yang gagah dan berotot.


“Berapa yang kau minta?” tanya Arkhan tanpa penantangan, dia bicara dengan nada biasa saja. Itu pun disambut dengan wajah sangar dan hardikan oleh si kepala lapak, bagaimana jika Arkhan berbicara dengan ketus?


“Nantangin lu?” hardik pria itu.


“Aku akan berikan berapa yang kau minta.”


“Hahahaaa… oke, lima juta.”


“Deal!” sahut Arkhan dengan cepat.

__ADS_1


Pria di hadapan Arkhan, tak lain bernama Beno itu agak terkejut karena ternyata Arkhan menyanggupi permintaannya dengan gampangnya. Tau begitu, dia meminta lebih dari itu.


“Bebaskan Reza!” pinta Arkhan.


“Mana duitnya?” Beno menjulurkan telapak tangannya.


“Aku belum punya sekarang. Secepatnya akan kuberikan kepadamu. Bebaskan saja dia.”


“Bebaskan? Sekarang maksud lu? Jangan ngimpi! Ada uang, ada barang.”


“Oke. Secepatnya kuberikan uangnya kepadamu.”


Tingkah mereka menjadi tontonan para tahanan di sekitar sana.


Arkhan menggertakkan gigi, mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia belum tahu siapa aku! Aku sama sekali tidak takut padamu. jangan sampai aku menunjukkan diriku kepadamu di hadapan semua orang, karena kau akan malu! Aku tidak takut pada siapapun, pada manusia kuat yang ditakuti banyak orang sepertimu sekali pun. Pikirnya dalam hati.


Arkhan kembali masuk ke kamar.


“Bang, nggak mau makan ke kantin? Ini waktunya makan,” ucap seseorang yang selama ini selalu bersikap ramah dan baik pada siapapun.

__ADS_1


Arkhan menggeleng ringan. Ia selalu makan terakhiran, meski kadang makanan yang harus dia ambil sudah habis duluan, namun ia teguh pada pendirian untuk tetap makan terakhiran. Dan sola makan malam, Arkhan tidak pernah kekurangan karena Zalfa sering kali mengiriminya nasi kotak khas masakan Zalfa sekaligus uang untuk. Uang itu bisa digunakan Arkhan untuk membeli kopi atau teh saat sarapan.


Arkhan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kosong, sudah tidak ada siapapun di sana. Setelah divonis hukuman dalam sidang oleh hakim, dunia Arkhan kini benar-benar berbeda. Sidang berjalan alot dan memakan waktu cukup lama karena setiap persidangan menjadi santapan wartawan yang kemudian diikuti oleh sorotan publik. Persidangan pun menjadi ternding topik yang kerap dibahas di televisi, rating stasiun yang menayangkan pun naik, masyarakat begitu antusias mengikuti perjalanan sidang. Pro dan kontra. Diantara ribuan orang yang menghujat, ternyata justru jutaan manusia yang membanggakan Arkhan. Sampai-sampai di sosial media, begitu banyak yang meminta supaya hukuman Arkhan diringankan sehingga mualaf yang pintar mengaji itu diberi kesempatan untuk menjemput hidayah dan bertaubat. Ramai sekali sosial emdia membicarakan Arkhan.


Sampai-sampai minoritas pembenci Arkhan khawatir jika hakim akan memberi putusan tanpa keadilan karena situasi hati digiring oleh publik yang berharap supaya Arkhan diberi hukuman ringan, atau bahkan cukup minta maaf saja supaya bisa menjadi contoh untuk yang lain bahwa Arkhan sudah bertaubat dan mengembalikan sebagian hartanya yang diambil dari cara meretas bank kepada pihak yang membutuhkan.


Sampai akhirnya, setelah menjalani sidang yang begitu panjang dan proses yang sangat alot, Arkhan kini berada di penjara, bersama dengan Reza yang sudah lebih dulu tertangkap.


Arkhan cukup salut pada keteguhan Reza yang tidak pernah menyebut nama Arkhan sebagai komplotannya meski mendapat kekerasan dalam proses interogasi. Kesetiaannya sungguh tidak diragukan. Arkhan tertangkap karena terjebak dalam perangkap. Persis seperti di film holywood, seorang agen rahasia menyamar sebagai pembeli virus computer yang diciptakan oleh Arkhan dan teman-temannya. Virus itu dijual Arkhan dnegan harga seratus dua puluh juta. Entah kenapa ia teledor hingga akhirnya saat itu ia percaya pada agen rahasia itu. bagi penegak hokum, tentu Arkhan tidak saja dinyatakan bersalah mencuri uang dari sejumlah bank melalui virus yang dia ciptakan. Tapi dia juga menjual virus tersebut ke sejumlah penjahat cyber di penjuru dunia.


Arkhan kini hidup di tengah kerasnya dunia penjara, ia melihat pemandangan yang berbeda pula dalam kesehariannya. Ratusan tahanan harus tidur berdesakan di sebuah koridor berukuran luas, tepat berada di tengah-tengah gedung. Hampir tak ada jarak di antara mereka. Punggung mereka beradu di saat tidur. Di samping kiri dan kanan koridor terdapat sel penjara berbatas teralis besi, yang juga berisi para tahanan, di sanalah Arkhan terbaring menatap situasi malam setiap akan tidur.


***


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2