
Singapura.
Gemerlap lampu kota menjadi saksi kebahagiaan Zalfa yang sedang bermanja pada sang suami, Arkhan. Begitu sampai di Singapura, Zalfa langsung disambut oleh hotel mewah yang siap memanjakannya saat beristirahat.
Zalfa tidak mengagumi kemewahan hotel tersebut, melainkan dia mengagumi cara Arkhan dalam mengagungkan wanita. Pria itu mengutamakan segala keperluan Zalfa, selalu memberikan yang terbaik untuk istrinya. Zalfa juga tidak mengagumi kemewahan yang diberikan Arkhan kepadanya, namun sikap Arkhan dalam menghargai wanita dengan kemewahanlah yang membuatnya kian terpesona.
“Bagaimana kamarnya, bagus atau tidak?” Tanya Arkhan saat memasuki kamar luas yang berkelas, interiornya mewah dan elegan.
Zalfa menoleh menatap Arkhan. Bayi dalam gendongannya terjaga setelah tadi tertidur pulas.
“Aku suka semua pemberianmu, Mas Arkhan,” jawab Zalfa simpel.
Emy berdiri di pintu.
“Emy, sekarang saatnya beristirahat. Kita butuh istirahat setelah perjalanan jauh,” tukas Zalfa menatap Emy.
Dengan seulas senyum Emy bertanya, “Non, jika Non mau istirahat, biar Shanum bersama saya. Kamar saya kan hanya jarak lima pintu dari sini. Nanti akan saya antar Shanum jika dia menangis.”
“Nggak usah, nanti kamu capek. Ini saatnya kamu beristirahat,” jawab Zalfa dengan senyum.
__ADS_1
“Saya tidak apa-apa kok, Non.”
“Oke oke, kalau begitu kau bawa saja dulu Shanum bersamamu,” potong Arkhan.
“Iya, Non. Shanum biar bersama saya dulu. Nona istirahat saja dulu. Nona pasti capek,” ucap Emy.
Zalfa akhirnya mematuhi perintah suaminya. Dia menyerahkan Shanum kepada EMy.
“Sekarang kita ke bawah sebentar. Kita cari angin segar di belakang hotel, di tempat ini ada tempat bagus, kau pasti akan merasa nyaman di sana,” ajak Arkhan sambil melangkah keluar kamar, Zalfa mengikutinya.
“Aku mah udah nyaman terus asal di dekatmu, jadi nggak perlu dibawa kemana-mana, asal kamu di sampingku udah nyaman, kok,” ucap Zalfa membuat Arkhan terkekeh pelan.
Sementara Emy menggendong Shanum sambil menjinjing tas miliknya. Dia membuka pintu kamarnya dan meletakkan tas miliknya ke kamar tersebut. Kemudian dia berjalan keluar, membawa Shanum jalan-jalan menikmati pemandangan di luar kamar. Lampu hotel cukup membuat mata terhibur memandangnya. Kesannya mewah dan menawan.
“Permisi!”
Suara seseorang yang bersumber dari arah belakang membuat Emy menghentikan langkah dan menoleh. Dia mendapati sosok pria berbadan tegap, tinggi dan gagah. Bisa ditebak, wajahnya seperti orang berusia empat puluh enam tahun, tapi usia sesungguhnya pasti kisaran lima puluh tahun lebih. Dia kelihatan lebih muda dari usianya. Sepertinya berasal dari kalangan berada. Penampilannya membuktikan kalau dia adalah orang kaya. Mulai dari sepatu kelimis, celana licin, jas mahal dipadu kemeja yang juga tak kalah elit, serta dasi rapi, serta aroma wangi yang menguar menunjukkan dia berasal dari kalangan elit.
“Ya? ada apa, Tuan?” Tanya Emy.
__ADS_1
Pria itu menatap Shanum. “Dia cucuku!” Pria itu mendekati Shanum.
Emy melangkah mundur. Koridor sangat sepi karena malam memang sudah larut. “Anda siapa?”
“Jangan takut!” pinta pria tengah baya itu menenangkan. “Aku Rony Pratama. Aku kakeknya bayi dalam gendonganmu.”
“Tidak! Anda salah orang!” Emy kesal.
“Ibu dari bayi itu bernama Zalfa, kan? Zalfa adalah putriku.”
“Setahuku Non Zalfa tidak memiliki ayah. Ibunya juga sudah sangat lama meninggal dunia.”
“Sangat salah jika mengatakan Zalfa terlahir dari wanita yang hamil di luar nikah seperti prasangka semua orang, sebab aku menikahi ibunya Zalfa dengan sah di saat aku memiliki Luna, istri yang lain. Dan aku mendapatkan informasi mengenai Zalfa dari pemberitaan mengenai Arkhan, suaminya yang seorang mualaf dan gencar diperbincangkan di televisi. Aku juga mengenal banyak hal mengenai putriku Zalfa dari pemberitaan di sosial media. Tadi aku sempat melihat Zalfa memasuki hotel ini bersamamu dan juga bayi ini. ini cucuku bukan?”
“Tidak. Anda berhalusinasi.”
“Kau boleh mencari tahu tentang nama Rony Pratama jika kau tidak percaya. Aku sudah lama mencari keberadaan Zalfa.”
Emy yang sejak tadi melangkah mundur, akhirnya kini putar badan dan setengah berlari meninggalkan pria asing itu. dia memasuki lift dan turun ke lantai bawah. Dia ingat Zalfa dan Arkhan yang sempat membicarakan akan menuju ke belakang hotel untuk menikmati pemandangan di sana. Emy pun menyusul ke sana.
__ADS_1
TBC