SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
258.


__ADS_3

“Kau kelihatan bahagia sekali,” celetuk Arkhan menatap wajah Zalfa yang berbunga-bunga. Rupanya begini caranya membuat istri senang. Wanita memang sulit dipahami, dan Arkhan masih belum memahami sampai sekarang.


“Gimana enggak? Jarang-jarang kan kamu bawa aku ke tempat begini? Aku seneng banget.”


“Sungguh?”


“Tentu.”


“Apa kau tahu apa yang membuatku merasa ingin mengadakan situasi ini bersamamu di sini?” Arkhan berbicara dengan nada serius.


“Mmm... Apa ya?” Zalfa menampilkan ekspresi pura-pura tidak tahu. Senyumnya masih terus merekah.


“Ini mengenai Mario. Selama ini dia menjadi pengancam hidup kita, dan sehari yang lalu dia tertangkap. Aku merasa perlu mengadakan perayaan tertangkapnya Mario bersamamu. Kita bebas dari dia, hidupmu dan hidupku tenang tanpanya.”


Weh... ekspresi cerah di wajah Zalfa memudar secara perlahan, senyumnya pun menyusut. Jadi ini bukan momen happy anniversary? Oh... ya ampun. Zalfa, kamu kelewat Pe De. Bagaimana mungkin Zalfa bisa berpikir kalau Arkhan akan berubah?


“Tunggu tunggu... Kamu melupakan satu hal, Mas Arkhan.”


“Apa?”


“Apa kamu lupa dengan hari pernikahan kita? Alangkah lebih baik situasi ini kita jadikan sebagai perayaan hari pernikahan kita,” usul Zalfa supaya momennya memiliki kesan perayaan hari pernikahan, bukan kesan perayaan hilangnya Mario dari kehidupan Arkhan.


“Apa yang harus dirayakan? Hari pernikahan sudah berlalu. Sudahlah, jangan bahas itu. kita sedang membicarakan tentang penangkapan Mario.”

__ADS_1


“Tapi aku lebih tertarik jika di tanggal ini kita membahas hari pernikahan kita.”


“Zalfa, memangnya apa yang harus kita bahas dengan hari yang sudah berlalu. Sudah selayaknya kita membahas masa depan. Kamu mau menambah pesanan makanan?” Arkhan menatap makanan yang sudah tersaji.


Huh... pemikiran mereka memang berkebalikan.


Zalfa, bangunlah dari mimpi di siang bolong. Jangan berharap Arkhan mendadak berubah menjadi pria romantis seperti Zack di film Titanic.


“Enggak. Udah cukup ini aja.” Zalfa menarik seporsi makanan bagiannya lalu melahapnya. Dia hampir tidak mendengar suara Arkhan yang membicarakan mengenai Mario.


“Zalfa, ini menarik bukan?”


Pertanyaan itu diajukan Arkhan tanpa Zalfa tahu apa yang dibicarakan. Tentunya mengenai Mario.


“Zalfa, Mama tadi sudah menuntut cucu dari kita.” Kali ini Arkhan mengalihkan topik pembicaraan. “Aku sudah melakukannya setiap malam denganmu, tapi belum berhasil.”


Zalfa terkekeh. “Jika saatnya tiba, pasti dikasih oleh Yang Maha Kuasa. Atau mungkin kamunya yang kurang tok cer.”


Arkhan membelalak. “Apa katamu? Milikku tidak tok cer? Sebelumnya bukankah sudah terbukti keakuratannya?”


Zalfa hanya mengulumm senyum.


“Jadi kau meragukan kehebatanku?”

__ADS_1


“Barangkali benihmu yang perlu diragukan. Ups...” Zalfa sengaja menggoda Arkhan.


“Baiklah, kalau begitu ayo pulang. secepatnya kita lakukan sampai seratus kali bila perlu, supaya kau tidak lagi meragukan kehebatan bendaku.” Arkhan bangkit berdiri dan memegang lengan Zalfa.


“Mas Arkhan, nggak begitu juga. Ini aku lagi makan.”


Arkhan menatap piring Zalfa yang masih berisi banyak. “Baiklah.” Arkhan kembali duduk. “Jika nanti kau hamil lagi dan kita diberi kesempatan untuk memiliki anak, aku akan mencarikan pengasuh untuk anak kita. Dan kau tidak akan sendiri saat mengurus anak kita, karena tidak selamanya aku ada di sisimu.”


Nah, kali ini kata-kata Arkhan benar-benar mengena di hati Zalfa. Nyesss... sejuk sekali hati Zalfa mendengarnya. “Aku hamil aja belum, kamu udah membahas hal yang kejauhan.”


Arkhan tersenyum tipis.


Tanpa mereka tahu, sepasang mata mengawasi pergerakan mereka.


...BERSAMBUNG...


Yuk kasih poin dong, bantu Zalkhan naik peringkat ke sepuluh besar lagi 😘😘😘


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2